Kendrick Lamar, SKisM, More Good Art At Lazarides

Mike Shinoda's Blog

Here’s a quick little barrage of stuff I’ve been into lately.  First, a shout out to everyone affected by hurricane Sandy–Music for Relief is partnering with International Medical Corps to support mobile medical units in Haiti and Save the Children to support Child Friendly Spaces in the U.S.  Donate here.

Moving on; I wasn’t going to blog about any of the following things individually, but as they added up, I thought I’d share them with you, in case you missed some or all of them.

 

Thanks to my buddy Tal for sending me this link.  A great clip for all the experts and haters on the internet.  Video / song by SKisM.

 


Kendrick Lamar’s “good kid m.A.A.d city” album just came out, and I’ve got it on repeat.  With that said, this track was just made and released (not on the album), reportedly as a celebration that…

View original post 80 more words

Appearance of a Chocolate

“Ishh, coba tuh liat!!”

“Apa?” Tanyaku kepada Michael, teman kampusku yang duduk di kursi penumpang di mobilku.

“Tuh, polisi – polisi mata duitan! Kerjanya nangkepin maling tapi mereka sendiri maling, maling bangsanya sendiri, kok ga malu sih!” Jawab Michael sembari menunjuk ke ujung kanan jalan raya di tengah kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah ini.

Terdapat dua orang polisi yang terlihat berdiri berdampingan dan seperti menginterogasi salah satu pengguna motor yang sedang melintas, ternyata Michael melihat salah satu dari mereka menerima uang kertas berwarna biru yang diselipkan dalam -sepertinya- STNK si pengguna motor tersebut.

“Ohh, itu.. Biru? Lima puluh ribu ya?”

“Iya, malu-maluin kan, Rob??” Tanyanya kesal.

“Ya malu-maluin sih, tapi kenapa jadi lo yang kesel gitu sih, Mike?” Ucapku sambil tertawa pelan.

“Eh, ga usah ngetawain gue, lo liat polisi-polisi di indonesia, semuanya ga ada yang beres, gimana mau hidup nyaman kalo penegak hukumnya aja pada serampangan??” Jawabnya.

Aku menancap gas pelan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijaunya, dan mulai berkendara kembali menyusuri jalanan jakarta menuju tempat tujuan kami.

“Semuanya? Bener-bener semuanya tuh?”

“Kurang jelas? semua polisi di indonesia itu ga bener! S-E-M-U-A.” Ucap Mike lagi sambil mengeja dan mempertegas ucapannya.

“Kayanya enggak deh..” Jawabku.

“Enggak dari mana? Hampir semua polisi yang gue temuin itu tukang palak!”

“Nah, tuh lo bilang hampir semua, berarti bukan semuanya dong?”

“Err, iya yaah?”

“Nih, gue kasih tau lo sesuatu.”

“Apaan? Mau nyeramahin gue? Mau nguliahin gue lagi? Ahhhh bosen! Lo itu udah keseringan banget nyeramahin gue Rob, udah kaya pak Umar aja. Dikit-dikit nyeramahin, dikit-dikit ngomentarin tingkah laku gue, dikit-dikit nyegat gue di koridor kelas cuma buat komplain bentuk rambut gue, padahal kan sekolah itu bebas, ga ada aturan rambut mesti gimana buat anak cowok.’Mike, kamu itu harus begini, harus begitu, ga boleh begini, ga boleh begitu, saya ajarin ya, saya kasih tau ya, saya contohin nih.’ Halaaaaah, ampe budeg kuping gue dengerin dia doang.”

Ucap Mike sembari menghela napas dan memainkan iPhone nya. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Mike yang selalu bertingkah semaunya. Pak Umar adalah guru Sosiologi kami ketika di SMA dulu. Satu-satu nya guru di sekolah yang berani menyeramahi Mike, anak pemilik yayasan.

“Ck, dengerin gue dulu, belum juga selesai udah di potong aja.”

“Abisnya sih, kebiasaan, bosen gue.”

“Lo pernah beli cokelat ngga?”

“Haahh??” Tanya Mike bingung sambil mengangkat alis dan memberikan pandangan idiotnya.

“Pernah engga?” Sambung ku lagi.

“Ya pernah, kan lo yang nemenin gue beli cokelat buat si Anna bulan lalu.. Masa lupa sih, pikun banget.”

“Intinya pernah kan? Seberapa sering?”

“Ya ga sering banget sih, mang kenape?”

“Belinya satuan, batangan, bungkusan isi lima, setengah bentuk?”

“Mana ada cokelat setengah bentuk, tolol banget lu. Idiot.” Jawab Mike sinis.

“Ya intinya pernah deh. Lo inget ga waktu lo gue temenin beli cokelat di toko kue depan studio musik si David di kelapa gading?”

“Cokelat yang ternyata pas dibuka disemutin ya? Inget lah, ga akan bisa lupa.”

“Nah, itu kan isinya ada lima buah tuh, tapi empatnya tetep lo makan karena bersih dari semut kan?”

“Dua doang yang gue makan dodol, satunya kan gue kasih Joe, terus satunya dimakan Chester.”

“Yailah, intinya dimakan empat tapi satu lo makan seperempat karena ternyata ada semut dalemnya.”

“Iyaaa, gila sumpah, gue ga merhatiin isinya, gue langsung gigit ga tau nya yang gue gigit itu rombongan semut. Jijik banget gue.”

“Sukurin. Selebor si lu.”

“Jadi intinya apaan nih lo nanya – nanya begini?” Tanya Mike bingung.

“Dalam satu bungkusan ada lima buah cokelat, tapi ternyata ada satu cokelat yang disemutin, tapi empatnya tetep dimakan. Kenapa coba?”

“Ih, tolol ye, yang ada semutnya kan cuma satu, Rob. Gimana sih.”

“Nah itu, tapi kan cokelat bermasalah ini letaknya barengan sama ke empat cokelat yang lain dalam satu tempat. Kok yakin banget makan sisanya?”

“Kan sebelum dimakan diperiksa dulu ada semutnya apa engga, Rob..”

“Meriksanya gimana? Lo bukain gitu?”

“Gue belah gitu, gue liatin semua sisinya, Chester sama Joe juga ngebantuin kok. Hasilnya negatif, ga ada semut.”

“Halah negatif, gaya banget bahasa lu.”

“Ya pokoknya yang empat BERSIH, no ants.”

“Terus si cokelat bermasalah ini lo buang dong?”

“Iyalaaaah cintaaaa gue buaaang masa iya gue makaaaan. Udah disarangin semut, dasar blo’ooooooon.”

“Iya gausah gitu juga ngomongnya kaliiiii…”

“Terus maksud pertanyaan lo soal si cokelat ini apa?” Tanya Mike lagi.

“Nih, kita buat cerita si cokelat ini sebagai perumpamaan antara polisi dan warga.”

“Hah? Maksud lo?”

“Kelima buah cokelat ini si polisi-polisi, pembeli cokelat ini adalah kita, warga.”

“Yaa terus?”

“Kaya yang lo bilang ke gue tadi, sebelum lo makan, lo cek dulu isinya, ada semut atau ga, bahkan si Chester ama Joe juga ngebantuin. Setelah lo belah and lo liat isinya, ternyata hasilnya negatif, ga ada semut, cokelat – cokelat itu bersih, dan bisa lo makan dengan tenang. Ya kan?”

“Iye, terus?”

“Masih ga ngerti?”

“Kaga.”

“Tolol.”

“Bodo.”

“Mikir dong Mikeeeee hadoooooh!! Lo itu leader genk kita masa blo’on banget siiiih. Ketololan lo itu lebih parah dari pada monyet jawa peliharaan si vanessa tau gak?!”

“Jangan samakan gue sama monyet cewe sialan itu! Ngerti ga lo?!”

“Dasar lo monyet cirebon.” Ucapku sambil menghela nafas dan menenangkan diri.

“Sekali lagi lo nyebut-nyebut nama tu perempuan sinting, gue mutilasi and gue potong-potong lo terus gue jual ke pasar kaget buat jadi makanan onta arab!” Teriak Mike sambil menunjuk – nunjuk jarinya ke mukaku.

“Kaya pernah ke pasar aja lu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu itu gue duduk di mobil sih, ga berani turun. Hehe.” Jawab Mike tertawa lugu.

“Yaudah lanjut.” Sambung ku sambil menghela nafas lagi.

‘Tuhaaaan, beriku kesabaran lebih untuk menghadapi monyet cirebon ini Tuhaaan.’ Ucapku dalam hati.

“Cus lanjut.”

“Tadi sampe mana?”

“Sampe onta arab.”

“Itu elu yang ngomong dodol, tadi pembicaraan gue sampe dimana?”

“Rob, masih muda kok udah pikun sih?” Ucap Mike sambil mengangkat alis dan membentuk huruf S di bibirnya.

“Oh iya, cokelat kan. Cokelatnya dimana tadi yak?” Tanya ku sambil tertawa pelan.

“Sampe dimakan dengan tenang..” Sambung Mike.

“Dan istirahat dalam damai.” Ucapku melanjutkan.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.. Eh, kok begini?” Lagi-lagi Mike memberikan pandangan idiotnya sambil memutar bola mata dan menatap sesuatu yang tidak ada sambil meletakkan telunjuk di keningnya.

“INI NGAPA BEGINI YAK?!”

“Lah yang mulai ngomong ‘istirahat dalam damai’ kan elo, bego!!” Teriak Mike histeris.

“Eh iya maap masbro.” Ucapku sambil memberikan pandangan melas.

“Cus lanjut.”

“Bahasa lu kaya lekong salon, Mike.” Sambung ku geli.

“Lagi belajar cin.” Ucap Mike tertawa.

“Jadi gini, sebelum lo makan tu cokelat, lo periksa dulu sisanya karena lo nemuin satu cokelat yang ‘cacat’ kan?”

“Iya. Terus?”

“Kalo gue yang jadi lo, gue ga akan mau makan sisanya.”

“Loh emang kenapa? Kan cuma satu yang cacat? Sisanya kan bersih.”

“Nah itu, karena dalam satu tempat itu ada satu cokelat yang cacat, makanya sisanya ga akan gue makan karena gue pikir sisanya cacat juga.”

“Kan ga akan tau sebelum di periksa Rob, satu mungkin cacat, bukan berarti sisa kawannya cacat juga, hanya karena mereka ada ditempat yang sama.”

“Lo nyadar ga barusan ngomong apa?”
Ucapku tertawa puas.

“Eh…” Ucap Mike bingung.

“Nah, anggep tu coklat sebagai polisi-polisi disini!!” Aku tertawa lagi.

“Ah, kampret. Bukan cuma buat polisi, tapi semua orang, yang organisasi, satuan, tim nya udah di cap jelek. Itu yang jangan dipikir semuanya pasti buruk gara-gara satu orang kan?”

“Pinter Mike. That’s what I’m talking about.”
Ucapku tersenyum puas.

Kamu.

Aku terbangun dari tidur lelap ku, meregangkan otot – otot ku sambil menguap pelan. Kulirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4.15 pagi. Aku berjalan menuju dapur, mencari – cari jika ada makanan yang bisa kusantap. Oh, lauk yang terakhir disajikan masih ada di tempat semula ketika terakhir aku memakannya. Kuhabiskan.

Berdiri mematung di depan jendela, aku memperhatikan ruas jalan sekitar yang masih terlihat sunyi, hanya beberapa orang terlihat membersihkan salju yang menumpuk di depan rumah dan di mobil – mobil mereka. dingin.

Kau berjalan menghampiriku dan  menyapaku, sambil menyentuh dahiku, kau menanyakan kabarku di hari ini.
“aku baik-baik saja.
Ucapku dalam hati.
Kau hanya tersenyum.

==

Sekitar pukul 7.15 kau melambaikan tangan ketika hendak menuju pintu keluar, seperti biasa, hari-hari sibuk mu kembali dimulai. Kau berjalan menuju pagar, dan tidak pernah menoleh lagi. Aku hanya berdiri tegak menatap sosokmu dari balik jendela.
“kuharap kau tidak kedinginan.”
Ucapku dalam hati.

Aku kesepian.

Aku berjalan lagi, menuju tempat tidur yang biasa kau tiduri, aku bersembunyi dibalik selimutmu. Hangat.
aku merindukan pelukanmu.

Sudah sekian lama sejak terakhir kali kau memelukku yang melingkar kedinginan di dalam selimut di sofa. Aku gemetar, kau menghampiriku, kau belai lembut kepalaku, lalu kau peluk erat diriku.
“sudah lebih baik?”
Dan aku pun terlelap.

 

Kau pulang kerumah, tepat pukul 10.30 malam. Sangat terlambat dari biasanya. Dan lagi-lagi kau lupa menyapaku. Akupun menghampirimu, dan kau baru menyadari kehadiranku.
“maaf aku terlambat pulang, aku habis membeli  sesuatu yang spesial hari ini.”
Ucapmu tersenyum.

Aku hanya diam.
Kau menatapku.
“aku lelah, kau sudah makan?”
Tanya mu pelan.
Aku lapar.

Dan aku pun berjalan menuju dapur, meraih piring yang biasa ku gunakan untuk makan.
Kau mengikuti di belakangku, baru kau ambilkan makanan untukku, kau suapi aku.
Terima kasih.

==

Hari ini hari sabtu, namun kau bangun lebih awal, aku masih memperhatikan dirimu yang sedang sibuk merapikan perabotan dan dilanjutkan dengan memasak. Sekarang masih pukul 10.38 pagi, namun kau sudah sesibuk ini. Terlalu sibuk, hingga lupa dengan aku.
Ada apa di hari sabtu?
Tanyaku dalam hati.

Hey, setidaknya bisakah kau sapa aku?
Pintaku pelan. Namun kau tidak peka.

Jam menunjukkan pukul 11.52, bel berbunyi, kau bergegas berjalan menuju pintu dan dengan sangat sopan menyambut seorang wanita untuk masuk ke dalam rumah, rumah kita.
Siapa dia?

Kau mempersilahkan dia duduk di sofa lembut yang biasa kutempati.
Sambil memberinya minuman hangat dan kau ajak dia berbincang-bincang.
Sesekali kau melirik jam di tangan kirimu, dan kembali memandang dia, tersenyum.

Hey, senyummu itu hanya milikku.
Aku diam.

Jam menunjukkan pukul 6.20, kau mengajak dia menuju ruang makan.
Kau sajikan masakan buatanmu yang sudah kau buat siang tadi.
Kalian makan berdua, tanpa menyadari kehadiranku.
“aku disini..”

Bisakah kau lihat aku?
Bolehkah aku bergabung dan menyantap makan malam bersama kalian?
Aku lapar.

“hey, aku disini..”
Tidak kusangka kau bisa melupakan ku begitu mudahnya.
Aku merindukan masa-masa dulu, dimana pertama kali aku bertemu dengan dirimu, aku suka saat kau membelai lembut kepalaku, aku merasa nyaman.

Kau suka mengecup dahiku, setiap kau hendak berangkat kerja, dan ketika kau pulang kerumah, kau tidak pernah sekalipun lupa untuk mengecup dan membelai kepalaku.
Kau juga tidak pernah lupa untuk membelikanku makanan.
Aku merindukan kecupan lembut mu.

Lamunan ku buyar ketika aku melihat dirimu mengeluarkan sebuah kotak kecil cantik berwarna maroon dari saku, tatapanmu berubah menjadi lebih tajam, nafasmu berat, kau berkeringat di udara sedingin ini, kau gugup.
Kalian berdua saling terdiam selama beberapa detik.

Aku tetap memperhatikan. Hatiku sakit.

Kupikir hanya aku gadis-mu satu-satunya, namun ternyata masih ada seorang gadis lagi yang jauh lebih penting dibanding aku.

Tidak, kami berdua tidak bisa dibandingkan.

Dia manusia, aku hanya seekor kucing biasa.

Pemilik Senyuman

Pagi,
bunga – bunga tetap segar setelah hujan melintas sepanjang malam.
bahkan mereka tampak jauh lebih cantik dibanding hari kemarin.
dedaunan membiarkan tetesan air menari – nari riang.
bagai peri hutan yang berpesta setelah kawan mereka datang, yaitu hujan.

Aku terduduk diam termangu menatap teman – temanku yang sedang asyik berburu. Canda, tawa, suka dan duka. Semua menyatu.
Sampai kuputuskan untuk pergi berburu sendiri, tanpa satupun menyadari kepergianku.
Satu blok, dua blok, tiga, empat, lima,…. sembilan blok sudah kuarungi. Bunga – bunga tetap berdiri tegak. Tidak satupun merasa terganggu akan kedatanganku. Angin bertiup, satu dua kelopak bunga terjatuh. Pohon nan rindang dengan daun yang lebat. Satu batu tertidur dibawah pohon terkecil di antara pohon – pohon yang lainnya.
Aku mengelana kembali.
Kali ini dituntun rasa penasaran, aku memasuki tempat asing, yang tidak pernah kulihat, tidak pernah kusinggahi, tidak pernah ku jamah.
Aku berhenti, mengistirahatkan diri.
Disanalah aku melihatmu untuk pertama kalinya.
Bermain dengan sebuah kotak bersinar – sinar. Rambut coklat yang gondrong hingga menutupi kacamata yang kau kenakan. Senyum tersungging di wajahmu tanda suasana hatimu sedang riang.
Aku menatapmu, dari luar jendela tempat kau menghabiskan waktu.
Aku mendekatimu, namun kau tidak menyadari kedatanganku.
Kau tetap sibuk dengan pekerjaanmu. Sambil sesekali meminum kopi yang ada di meja kerjamu.
Aku menatapmu lama, berharap kau mampu menatapku, aku tetap berada di tempat aku semula mendekatimu. Namun kamu tetap tak menyadari aku yang sedang asyik memperhatikanmu.
Aku tersenyum.
Aku pun pulang.

Pagi,
matahari tersenyum riang menandakan hari baru telah dimulai kembali.
Sekelompok anak – anak bermain gembira dengan sebaris bunga.
dedaunan menari berirama dengan desiran angin.
aku kembali mengelana menuju tempat yang masih tercetak pekat di otakku.

Satu dua blok, akhirnya aku pun sampai.
Aku mendatangimu lewat jendela dekat meja kerjamu,
Aku menemukan dirimu.

Terlihat sama seperti hari sebelumnya.

Kacamata, rambut coklat, dan papan ketik.

Aku kembali menatapmu, dan kembali mendekatimu.
Beberapa menit terlewat, kau tetap tidak menyadari adanya aku yang sedang menatapmu.
Aku berusaha membuat suara bising, agar kau memperhatikanku.
Tampan, lihat aku disini..

Tiba – tiba, plung!
Aku terjatuh kedalam cangkir kopimu,
Sambil berusaha naik ke permukaan air,
Aku berhasil, aku tidak tenggelam,
Namun sayap rapuh ku telah basah,
Aku tidak bisa keluar dari cangkir ini,
Aku mulai putus asa dalam nafas ku,
Berharap kau menoleh ke cangkirmu dan menemukan aku yang sedang berjuang.
Aku mati?

Tidak.
Sinar matahari tersirat dari jendela, menyinari tangan jernihmu, di tengah kesadaranku yang menipis, aku melihat wajahmu, untuk pertama kalinya, menatap diriku.
Kau meletakkan diriku yang lemah diatas kain lembut tipis berwarna putih, pelan – pelan kau usap sayapku, wajahmu terlihat khawatir, sesekali kau menyapa aku dan memanggilku.
“kau baik – baik saja?”

Aku berdiri, mengeringkan diri, sambil terus memperhatikanmu.
Kau tersenyum padaku.
Sambil terus menasehatiku dan terus memperhatikan ku.
“jangan dekati cangkirku lagi, untung saja airnya sudah dingin, kalau panas, bisa lebih bahaya.”
Itu ucapmu. Tersenyum.
Kau salah, ‘kalau tidak ada dirimu yang menyadari aku terjatuh, aku mungkin sudah mati…”
Kau angkat diriku, kau letakkan kembali di pinggir jendela dengan sangat lembut, sambil tersenyum, kau berkata lagi,
“hati – hati, sampai bertemu lagi lebah kecil..”

Seperti inikah rasanya berjuang meraih apa yang kita inginkan?
Aku terbang, aku bahagia.

Pagi,
Hari ini tidak secerah kemarin,
Langit begitu gelap,
Udara terasa dingin hingga sayapku terasa kaku,
Bunga – bunga tertunduk lemas,
Namun itu semua tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan penyelamat jiwaku.

Seperti biasa angin menuntunku.
Aku terbang dengan riang, sambil membayangkan reaksimu jika bertemu lagi dengan diriku.
Apakah kamu akan tersenyum seperti kemarin?
Sudikah kau menyentuh sayap ku lagi?

Aku tersenyum.
Aku mengintip melalui jendela, berharap kau ada disana, duduk asyik di depan kotak berwarna mu.
Kau tersenyum menyadari keberadaan ku.
Kau bangkit dari dudukmu, kau dekati aku.
Kau sama sekali tidak merasa takut akan aku,
Aku seekor lebah, dan kau manusia.
Namun sepertinya itu tidak penting buatmu.
“kita sudah berteman sekarang, ya?”
Ucapmu menyapaku, masih dengan senyuman khas yang menghangatkan hatiku.

Aku tertawa, namun sepertinya kau tidak menyadari tawaku.
Aku mendekati cangkirmu, hinggap di gagangnya, namun kau menangkapku,
“berbahaya.”
Ucapmu tersenyum sembari mengangkatku dan meletakkan ku dekat, dekat sekali dengan dirimu.
Aku bahagia, kau membiarkan ku duduk di pundakmu, menatap dirimu bermain dengan kotak warna itu.
Kau tersenyum, tetap melanjutkan pekerjaanmu, sambil sesekali menyapaku.
Aku melipat kakiku, bersandar di pundakmu.
Aku bahagia.

Semua tidak terasa menyenangkan lagi saat kau tiba – tiba berdiri dalam hentakan nafasmu, ketika seorang wanita memasuki ruang kerjamu.
Aku terjatuh.

Cangkir ini tidak begitu terisi penuh, aku bisa saja berusaha meraih ujung cangkirnya, namun aku melihatmu, bercengkrama dengan wanita itu.
Kau bahkan memeluknya, hal yang tidak akan pernah bisa aku rasakan darimu.
Kau lupa akan keberadaanku. Kau tidak menoleh sedikitpun.
Wajahmu dihiasi dengan senyuman yang bahkan lebih indah dari saat pertama aku melihatnya.
Namun senyuman itu bukan milikku.

Aku hanya seekor lebah, dan kau manusia.

Disaat – saat terakhir, kau akhirnya menoleh,
Kau meraih diriku, mengeluarkanku dari cangkir putih itu.
Sayapku rusak, aku tidak indah lagi tanpa sepasang teman bepergianku.
aku lemah.

Tidak pernah kusangka, kau menangisi keadaan ku.
Namun aku tersenyum melihatmu.
Aku sudah pernah mendapat senyummu.
Dan sekarang aku mendapat tangisanmu.

Tapi pada akhirnya, aku bukanlah apa – apa.
Berbahagialah, pemilik senyuman indah.

Aku hanyalah seekor lebah, dan kau manusia.
Aku bahagia.

(From Mike Shinoda’s Blog)

Mike Shinoda's Blog

(Art by Antony Micallef)

Recently, our band’s business manager, Jonathan, shared a shocking story with us.  His childhood friend had passed away from a heart attack at the young age of 42.  At the funeral, Jonathan and his friends were talking about their mutual friend’s passing, and decided to all get their hearts checked.

Jonathan went to the doctor, who recommended a “CT Angiogram.”  It bears mentioning that Jonathan is, at a glance, a very healthy guy.  He’s arguably fitter than I am, eats better, and exercises more often.  He has a wife and beautiful children.  He had absolutely no reason to believe he had heart problems.  Jonathan was waiting for results in the doctor’s office.  The doctors came in, and were obviously not happy.

Jonathan was terrified.

They told him he had nearly 100% blockage in his heart.  If he didn’t get immediate attention, he would have likely been…

View original post 346 more words