Mansion (Part 3)

“Shannon ?!”

Aku memanggil Shannon berulang kali. Namun sepertinya dia tidak mendengarku sama sekali. Dia terus berjalan memasuki lorong dan anehnya, dia malah menoleh sekeliling dan memanggil namaku. Ya ampun, masa dia tidak melihatku?

Kaget.

Aku benar – benar melihat jelas seorang laki – laki tua dengan pakaian serba hitam tiba – tiba sudah berdiri tepat di sebelah Shannon, tapi sepertinya Shannon tidak menyadari keberadaan laki – laki itu. Aku terus berteriak memanggil Shannon dengan putus asa, ingin ku langkahkan kaki namun terasa berat sekali.

Tiba – tiba kulihat Shannon terhempas ke dinding dengan kerasnya. Aku benar – benar ingin menolong namun aku tidak bisa bergerak. Belum hilang kebingunganku, ada seseorang yang menarik lenganku menjauh dari Shannon dan laki – laki yang masih berdiri di dekat Shannon itu.

Seorang gadis berambut pirang yang… Astaga !!! Dia melayang !!!

“Tunggu !! Lepaskan aku !!”

Aku ketakutan setengah mati, mungkin hampir pingsan. Bagaimana tidak, aku yang selama ini tidak pernah percaya dengan hal – hal berbau mistis atau tidak masuk akal bisa tiba – tiba mengalami hal seperti ini. Namun aku benar – benar merasa takut, membuatku tidak bisa berpikir jernih. Gadis yang melayang itu terus menarikku entah kemana, menyusuri lorong panjang yang tiada akhirnya. Tidak mendengarkan aku yang sedang menyerocos ketakutan memohon untuk dilepaskan.

Ini tidak mungkin nyata.

“Kumohon lepaskan aku..”

Ucapku memelas sambil meneteskan air mata.

Sial, jika Shannon, Jared dan Matt tahu aku menangis, aku pasti akan diejek mereka seumur hidup.

“Aku takut kau tidak bisa bertemu dengan teman – temanmu lagi.”

Aku terpelongo dalam air mata. Menatap gadis itu yang sekarang sudah berhenti menarikku dan juga menapak. Aku baru menyadari kalau kami ada di sebuah ruangan yang lumayan kecil, dengan sebuah kursi dan karpet tebal yang berdebu. Dengan lampu gantung yang sudah berkarat pada tiap sisi – sisinya.

“Kau ini apa?”

Ucap ku berani, akhirnya.

Dia hanya diam menatapku dengan tampang iba.

Dia mengasihaniku?

“Kenapa kau berkata aku tidak bisa bertemu dengan teman – teman ku lagi?”

Tanyaku penasaran, sambil menyeka sisa air mata di pipi ku.

“Kalian sudah membuat kesalahan besar. Seharusnya kalian tidak pernah datang kesini.”

“Mengapa? Kau ini siapa?!”

Tanyaku setengah marah.

“Aku Helena.”

Hey, I swear to God. Sepertinya aku benar – benar akan pingsan kali ini.

“Tunggu, kau Helena?”

Ucapku masih berusaha mengembalikan kesadaranku yang sepertinya sempat hilang dua detik tadi.

Gadis itu mengangguk.

“Tunggu.. Tunggu.. Tunggu ! Aku tidak paham.. Di surat kau bilang…”

It was not me !!”

Teriak gadis itu dengan wajah sedih, memotong ucapanku.

“But you are Helena ! You asked Shannon to come to see you ! Dan tadi kau melayang, sebenarnya kau ini apa?!”

“Tomo..”

Nah, bahkan nama ku kau bisa tahu !”

“Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan !!”

Teriaknya kesal, membuat benda – benda di sekitar kami bergetar hebat.

Astaga.

“Maaf, aku panik. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Aku kebingungan.”

Sesalku.

“Aku mengerti, Tomo. Semua ini tampak tidak masuk akal bagimu. Bersiaplah untuk mendengar ini, kumohon jangan pingsan.”

Pintanya.

Makhluk hebat, dia bisa tahu aku mudah pingsan.

I’ll try.”

“Tempat ini adalah Puri Iblis. Tempat berkumpulnya iblis – iblis jahat yang sangat menyukai manusia. Dan teman – temanmu itu sudah masuk perangkap mereka sekarang.”

(Matt Point of View)

Aku masih ternganga melihat seseorang yang menyapaku itu. Dengan setelan jas hitam dengan dasi kupu – kupunya. Menawarkan ku segelas sampanye dengan ramahnya.

Pria ini seratus persen mirip dengan diriku. Tidak, aku lebih tampan sih.

“Ini tidak mungkin..”

Ucapku tidak percaya.

Pria itu hanya diam sambil tersenyum, meminum sampanyenya. Memberiku isyarat untuk ikut duduk dengannya di kursi meja kayu panjang itu, menuang lagi sampanye ke gelasnya yang telah kosong.

“Kau siapa?”

Tanyaku setelah menerima ajakannya untuk duduk bersamanya di kursi tersebut. Dia masih meneguk sampanye nya pelan.

“Kau siapa?”

Tanya ku lagi.

“Aku Matt Wachter.”

Jawabnya tersenyum.

(Jared Point of View)

“Matt?”

Ya Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Aula itu, aku yakin sekali tadi aku memasuki ruangan ini dari pintu itu, langsung dari aula. Tapi kenapa aulanya tidak ada sekarang? Aku mengecek pintu – pintu lain namun semua isinya kosong.

Aku berteriak memanggil kakak ku, Tomo dan juga Matt.

Aku benar – benar bingung dan takut.

Aku berteriak kembali, namun tidak seorang pun datang memberi pertolongan.

Where the hell are you guys?!”

Teriakku lagi, kalut.

Aku merasakan kehadiran seseorang. Aku menengok ke arah lorong itu. Seorang pria dengan postur tubuh yang sangat aku kenali berdiri memunggungiku, berjarak sekitar enam sampai tujuh meter dariku. Aku mencoba memanggilnya tapi dia malah berjalan menjauh.

Aku bersumpah, aku sangat mengenali pria ini. Aku segera berlari mengejarnya, tapi dia pun semakin cepat.

“Hey Tuan? Tuan ?!”

Panggilku lagi padanya, dia masih berlari kecil menjauh dariku menyusuri lorong – lorong ini.

Nafasku tersengal, aku baru menyadari bahwa lorong ini semakin panjang dan banyak.

Pria itu terhenti. Dan aku dengan ragu – ragu mendekatinya. Aku dibuat kaget setengah mati olehnya ketika ia membalikkan badannya.

Dia tersenyum menatapku, dan dia sangat mirip denganku.

Ini semua membuatku benar – benar bingung. Pikiranku sulit mencerna berbagai hal yang terjadi ditempat ini.

“Siapa kau?”

I am Jared Leto.”

Senyumnya ngeri.

“Kau bukan Jared, akulah Jared Leto.”

Ucapku meyakinkan.

“Ya, tidak lama lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak mengerti ya?”

“Berhenti tersenyum mengerikan seperti itu dan jelaskan semuanya !”

Teriakku  marah menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke dinding.

You are going to die, soon.”

Dia masih tersenyum dengan kerahnya yang kucengkram kencang. Seperti tidak berkurang keberanianku, aku bertanya lagi padanya.

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku, hah?”

Ucapku balas tersenyum sinis padanya.

“Hal yang sama yang akan terjadi pada teman – temanmu.”

Satu gerakan cepat darinya yang bahkan tidak sempat aku hindari membuatku terjatuh ke lantai. Sial, apa ini?

Aku memegang lenganku yang bercucuran darah segar. Entah apa yang terjadi, dia bahkan tidak memegang satu pun benda tajam. Lalu mengapa lenganku seperti ini?

Aku tergeletak di lantai sambil berusaha bangun, belum sempat aku berdiri, dia menyerangku lagi.

“Sialan !!”

Teriakku kesakitan saat sekarang perut sebelah kiriku yang terluka.

“Kau ini makhluk apa?”

Ucapku menahan sakit.

“Makhluk paling menyenangkan yang belum pernah kalian semua temui.”

Balasnya tersenyum kejam.

“Mengapa kau melakukan ini?”

“Kami iblis ! Kami bisa melakukan apapun yang kami mau ! Dan uh, kupikir akan kubiarkan kau mengucapkan salam perpisahan kepada kakakmu. Pergilah, aku senang melihat korbanku yang berlumuran darah berlari dariku. Dan selagi kau berlari, aku akan mengejarmu.”

Tawanya.

“Brengsek.”

Aku mencoba mengumpulkan kekuatanku dan berdiri, aku berlari sekuat tenaga kemanapun aku bisa berlari. Yang ada di pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya menemukan Shannon dan yang lainnya lalu pergi dari sini.

“Aku akan mengejarmu, Jared Leto.”

Aku masih mendengar tawanya yang sangat mengerikan seiring aku berlari.

Ya Tuhan, tolong kami.

Advertisements

Mansion (Part 3)

“Shannon ?!”
Aku memanggil Shannon berulang kali. Namun sepertinya dia tidak mendengarku sama sekali. Dia terus berjalan memasuki lorong dan anehnya, dia malah menoleh sekeliling dan memanggil namaku. Ya ampun, masa dia tidak melihatku?

Kaget.

Aku benar – benar melihat jelas seorang laki – laki tua dengan pakaian serba hitam tiba – tiba sudah berdiri tepat di sebelah Shannon, tapi sepertinya Shannon tidak menyadari keberadaan laki – laki itu. Aku terus berteriak memanggil Shannon dengan putus asa, ingin ku langkahkan kaki namun terasa berat sekali.

Tiba – tiba kulihat Shannon terhempas ke dinding dengan kerasnya. Aku benar – benar ingin menolong namun aku tidak bisa bergerak. Belum hilang kebingunganku, ada seseorang yang menarik lenganku menjauh dari Shannon dan laki – laki yang masih berdiri di dekat Shannon itu.

Seorang gadis berambut pirang yang… Astaga !!! Dia melayang !!!

“Tunggu !! Lepaskan aku !!”

Aku ketakutan setengah mati, mungkin hampir pingsan. Bagaimana tidak, aku yang selama ini tidak pernah percaya dengan hal – hal berbau mistis atau tidak masuk akal bisa tiba – tiba mengalami hal seperti ini. Namun aku benar – benar merasa takut, membuatku tidak bisa berpikir jernih. Gadis yang melayang itu terus menarikku entah kemana, menyusuri lorong panjang yang tiada akhirnya. Tidak mendengarkan aku yang sedang menyerocos ketakutan memohon untuk dilepaskan.

Ini tidak mungkin nyata.

“Kumohon lepaskan aku..”

Ucapku memelas sambil meneteskan air mata.
Sial, jika Shannon, Jared dan Matt tahu aku menangis, aku pasti akan diejek mereka seumur hidup.

“Aku takut kau tidak bisa bertemu dengan teman – temanmu lagi.”

Aku terpelongo dalam air mata. Menatap gadis itu yang sekarang sudah berhenti menarikku dan juga menapak. Aku baru menyadari kalau kami ada di sebuah ruangan yang lumayan kecil, dengan sebuah kursi dan karpet tebal yang berdebu. Dengan lampu gantung yang sudah berkarat pada tiap sisi – sisinya.

“Kau ini apa?”

Ucap ku berani, akhirnya.
Dia hanya diam menatapku dengan tampang iba.
Dia mengasihaniku?

“Kenapa kau berkata aku tidak bisa bertemu dengan teman – teman ku lagi?”
Tanyaku penasaran, sambil menyeka sisa air mata di pipi ku.

“Kalian sudah membuat kesalahan besar. Seharusnya kalian tidak pernah datang kesini.”

“Mengapa? Kau ini siapa?!”
Tanyaku setengah marah.

“Aku Helena.”

Hey, I swear to God. Sepertinya aku benar – benar akan pingsan kali ini.

“Tunggu, kau Helena?”
Ucapku masih berusaha mengembalikan kesadaranku yang sepertinya sempat hilang dua detik tadi.

Gadis itu mengangguk.

“Tunggu.. Tunggu.. Tunggu ! Aku tidak paham.. Di surat kau bilang…”

It was not me !!”
Teriak gadis itu dengan wajah sedih, memotong ucapanku.

But you are Helena ! You asked Shannon to come to see you ! Dan tadi kau melayang, sebenarnya kau ini apa?!”

“Tomo..”

“Nah, bahkan nama ku kau bisa tahu !”

“Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan !!”
Teriaknya kesal, membuat benda – benda di sekitar kami bergetar hebat.

Astaga.

“Maaf, aku panik. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Aku kebingungan.”
Sesalku.

“Aku mengerti, Tomo. Semua ini tampak tidak masuk akal bagimu. Bersiaplah untuk mendengar ini, kumohon jangan pingsan.”

Pintanya.

Makhluk hebat, dia bisa tahu aku mudah pingsan.

I’ll try.”
“Tempat ini adalah Puri Iblis. Tempat berkumpulnya iblis – iblis jahat yang sangat menyukai manusia. Dan teman – temanmu itu sudah masuk perangkap mereka sekarang.”

(Matt Point of View)

Aku masih ternganga melihat seseorang yang menyapaku itu. Dengan setelan jas hitam dengan dasi kupu – kupunya. Menawarkan ku segelas sampanye dengan ramahnya.

Pria ini seratus persen mirip dengan diriku. Tidak, aku lebih tampan sih.

“Ini tidak mungkin..”
Ucapku tidak percaya.

Pria itu hanya diam sambil tersenyum, meminum sampanyenya. Memberiku isyarat untuk ikut duduk dengannya di kursi meja kayu panjang itu, menuang lagi sampanye ke gelasnya yang telah kosong.

“Kau siapa?”
Tanyaku setelah menerima ajakannya untuk duduk bersamanya di kursi tersebut. Dia masih meneguk sampanye nya pelan.

“Kau siapa?”
Tanya ku lagi.

“Aku Matt Wachter.”
Jawabnya tersenyum.

(Jared Point of View)

“Matt?”
Ya Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Aula itu, aku yakin sekali tadi aku memasuki ruangan ini dari pintu itu, langsung dari aula. Tapi kenapa aulanya tidak ada sekarang? Aku mengecek pintu – pintu lain namun semua isinya kosong.
Aku berteriak memanggil kakak ku, Tomo dan juga Matt.

Aku benar – benar bingung dan takut.

Aku berteriak kembali, namun tidak seorang pun datang memberi pertolongan.

Where the hell are you guys?!”
Teriakku lagi, kalut.

Aku merasakan kehadiran seseorang. Aku menengok ke arah lorong itu. Seorang pria dengan postur tubuh yang sangat aku kenali berdiri memunggungiku, berjarak sekitar enam sampai tujuh meter dariku. Aku mencoba memanggilnya tapi dia malah berjalan menjauh.

Aku bersumpah, aku sangat mengenali pria ini. Aku segera berlari mengejarnya, tapi dia pun semakin cepat.

“Hey Tuan? Tuan ?!”
Panggilku lagi padanya, dia masih berlari kecil menjauh dariku menyusuri lorong – lorong ini.

Nafasku tersengal, aku baru menyadari bahwa lorong ini semakin panjang dan banyak.
Pria itu terhenti. Dan aku dengan ragu – ragu mendekatinya. Aku dibuat kaget setengah mati olehnya ketika ia membalikkan badannya.

Dia tersenyum menatapku, dan dia sangat mirip denganku.

Ini semua membuatku benar – benar bingung. Pikiranku sulit mencerna berbagai hal yang terjadi ditempat ini.

“Siapa kau?”

I am Jared Leto.”
Senyumnya ngeri.

“Kau bukan Jared, akulah Jared Leto.”
Ucapku meyakinkan.

“Ya, tidak lama lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak mengerti ya?”

“Berhenti tersenyum mengerikan seperti itu dan jelaskan semuanya !”
Teriakku marah menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke dinding.

You are going to die, soon.”

Dia masih tersenyum dengan kerahnya yang kucengkram kencang. Seperti tidak berkurang keberanianku, aku bertanya lagi padanya.

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku, hah?”
Ucapku balas tersenyum sinis padanya.

“Hal yang sama yang akan terjadi pada teman – temanmu.”

Satu gerakan cepat darinya yang bahkan tidak sempat aku hindari membuatku terjatuh ke lantai. Sial, apa ini?
Aku memegang lenganku yang bercucuran darah segar. Entah apa yang terjadi, dia bahkan tidak memegang satu pun benda tajam. Lalu mengapa lenganku seperti ini?

Aku tergeletak di lantai sambil berusaha bangun, belum sempat aku berdiri, dia menyerangku lagi.

“Sialan !!”

Teriakku kesakitan saat sekarang perut sebelah kiriku yang terluka.

“Kau ini makhluk apa?”
Ucapku menahan sakit.

“Makhluk paling menyenangkan yang belum pernah kalian semua temui.”
Balasnya tersenyum kejam.

“Mengapa kau melakukan ini?”

“Kami iblis ! Kami bisa melakukan apapun yang kami mau ! Dan uh, kupikir akan kubiarkan kau mengucapkan salam perpisahan kepada kakakmu. Pergilah, aku senang melihat korbanku yang berlumuran darah berlari dariku. Dan selagi kau berlari, aku akan mengejarmu.”

Tawanya.

“Brengsek.”
Aku mencoba mengumpulkan kekuatanku dan berdiri, aku berlari sekuat tenaga kemanapun aku bisa berlari. Yang ada di pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya menemukan Shannon dan yang lainnya lalu pergi dari sini.

“Aku akan mengejarmu, Jared Leto.”
Aku masih mendengar tawanya yang sangat mengerikan seiring aku berlari.

Ya Tuhan, tolong kami.

Mansion (Part 2)

Wow, aku merinding hebat.
Supir yang mencurigakan, mansion yang mengerikan, maid yang tiba – tiba menghilang dan sepucuk surat yang juga mencurigakan.
Entah apalagi setelah ini yang bisa membuat jantung kami berolahraga dengan terpaksa.

“Sebentar, biar aku lihat keluar. Mungkin kita bisa bertanya dengan supir itu.”
Saranku sambil berlalu menuju pintu keluar.

Kuputar kenopnya. What?

Its f*king locked.”
Umpatku kesal.
“Mungkin.. sebaiknya kita langsung pergi saja dari sini.”
Matt berusaha untuk tidak terlihat takut, namun sebenarnya justru jelas terlihat dia gemetaran dan ingin segera kabur dari tempat ini.

“Pintunya terkunci. Kuncinya tidak ada disana, sebaiknya kita temui langsung Helena ini, dan setelah itu minta Helena untuk mengeluarkan kita dari sini.”
Shannon memaksa.

“Setelah apa yang kita alami sejauh ini kau lebih memilih mencari Helena daripada mencari cara untuk keluar dari sini? Are you serious?”
Tanya Matt gusar.
“Ya. sepertinya itu lebih baik. Agar semuanya juga menjadi jelas.”

“Aku setuju dengan Shannon.”
Tomo mengangguk pelan. Dan aku juga mengangguk pertanda menyetujui permintaan kakak ku.

“Baiklah. Kita berpencar.”
Ajak Matt dengan ragu.

Kami pergi ke arah yang berlawanan. Aku bersama Matt, dan Shannon dengan Tomo.

Aku dan Matt menyusuri lorong dan berakhir di sebuah aula yang besar. Hanya ada satu buah meja yang kulihat terbuat dari kayu jati berbentuk persegi panjang dengan beberapa kursi menemani meja itu.
Tapi tempat ini jauh lebih bersih dibandingkan saat kami baru memasuki Mansion ini. Baunya juga bukan bau yang sama dengan mobil dan ruangan itu. Disini lebih segar dan wangi.

Aku melangkahkan kaki ke sebuah pintu dan memasukinya. Lagi – lagi lorong panjang yang kutemui. Dan ada banyak pintu disini.

“Banyak sekali pintu, mana yang sebaiknya kita masuki lebih dulu, Matt?”
Tanya ku menoleh, dan Matt tidak ada disana.

“Matt? Masih di aula ya?”

Aku membuka pintu yang tadi aku masuki dari aula itu. Dan apa yang kujumpai sangat membuatku terkaget.
Aula itu tidak ada disana. Hanya sebuah ruangan kecil dengan sebuah kursi.

“Hah?”

(Matt Point of View)

“Jared? Heey Jared?”

Aku setengah berteriak memanggil Jared yang tiba – tiba menghilang. Belum semenit lalu kami memasuki aula ini. Dan tiba – tiba dia sudah tidak ada. Padahal aku benar – benar tidak melihatnya pergi.
Aku membuka beberapa pintu yang terdapat di aula ini. Semuanya hanya ruangan kosong yang tidak ada furniture apapun di dalamnya. Membuatku sangat bingung. Tiba – tiba ada seseorang yang menyapaku dengan suara yang sangat aku kenal. Benar – benar sangat aku kenal.

Aku menoleh dan tercengang.

“Kau…?”

(Shannon Point of View)

Kami berdua menginjakkan kaki di lantai atas. Ada sebuah ruangan besar dengan sofa – sofa yang tertata rapi dan sebuah meja dengan mesin ketik diatasnya. Beberapa meter dari ruangan itu ada lorong dengan pintu – pintu yang bernomor. Aku mengecek kunci kamarku dan kulihat itu bertuliskan angka 5366. Aku memasuki lorong tersebut dan menemukan pintu dengan angka yang sama dengan kunci yang kupegang sekarang.

Oh, kamar ku ya?’
Pikirku.
Hey Tomo, I’ve found my room ! mungkin Helena itu menunggu ku disini !”
Aku berucap riang dan menoleh ke arah Tomo yang sekarang tidak ada di manapun.
“Tomo? Kau dimana?”

Mungkin dia pergi ke tempat lain. Tapi kenapa dia tidak mengajakku?
Tiba – tiba aku digelayuti perasaan aneh. Sungguh tidak enak. Firasat ku mengatakan seharusnya aku dan teman – temanku tidak pernah datang kemari.

Here..”

Aku terdiam mendengar sebuah suara dari arah lorong yang rasa – rasanya semakin gelap.

Get out of here before its too late..”

Suara wanita.

GET OUT OF HERE OR YOU AND YOUR FRIENDS DIE !!!!!”

Tiba – tiba ada angin besar yang menghempaskan tubuhku keras ke tembok seiring dengan suara teriakan wanita itu.
Aku berani bersumpah, sesaat aku melihat seorang wanita berambut pirang dengan darah di sekujur tubuhnya.
Aku berkeringat dingin, kebingungan, gemetaran, ketakutan terduduk di lantai.

Oh my God. What was that?

– TBC –

Mansion

Pukul 10.00 malam waktu setempat.

Kami berempat tiba di sebuah Mansion tua yang terletak di sekitaran Salt Lake City, salah satu kota di Amerika Serikat yang memiliki jumlah penduduk sebesar 181 ribu lebih jiwa, menjadikannya kota terbesar ke – 126 di Negara adidaya ini. Tapi bukan Salt Lake City yang sedang kami singgahi, melainkan salah satu daerah disana yang bisa dibilang sangat terpencil dan hampir tidak banyak manusia tahu, suatu tempat bernama Woodside.

Ya, Woodside, I bet none of you really know about this place. Begitupun aku, jadi aku mencari tahu di internet.

Woodside yang ukuran luasnya hanya sekitar 700 Hektar ini tadinya merupakan kota yang tidak buruk juga. Banyak pemukiman yang mudah ditemukan, sampai geyser yang menyembur dan pertambangan emas pun ada disana. Benar – benar merupakan lahan yang sangat diidamkan pengusaha – pengusaha tambang. Namun karena mungkin tidak diolah dengan baik, aliran air disini berhenti karena digunakan sebagai tenaga mesin uap. Semakin lama orang – orang yang tinggal di wilayah ini pun mulai pindah ke daerah lain. Dan katanya, Woodside hanya merupakan kota mati yang terkadang dijadikan tempat beristirahat para Llama.

Tapi, hal aneh menghampiri kakak laki – laki ku bulan lalu.

Shannon menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai kenalannya yang tinggal di Woodside dan mengharapkan untuk bertemu dengannya.

“Aku benar – benar tidak tahu siapa itu Helena.”

Ucap Shannon setengah bergidik selesainya membaca surat tersebut. Menatap ku, Tomo dan Matt bergantian.

Dude, jangan lihat aku. Aku mengenalmu belum lama, tahu.”

Tomo mengangkat kedua tangannya seraya menggeleng dengan ekspresi serba salah.

“Tunggu, lima belas tahun dan kau bilang belum lama? Mengecewakan, jangan anggap aku lagi.”

Balas Shannon kecewa.

“Mungkin gadis di Video Klip My Chemical Romance.. Helena..”

Tawa Matt.

Shannon hanya mendengus kesal.

“Biar aku lihat suratnya.”

Pintaku sambil mengambil surat tersebut dari tangan kakak laki – laki ku.

“Dear Shannon..”

“Oops, manis sekali.. Dear Shannon..

Godaku tertawa dan Shannon menjitak kepalaku sekali.

Maafkan atas surat ku yang sangat tiba – tiba ini

Aku sangat ingin bertemu denganmu

Sebenarnya sudah lama aku berniat untuk menemui mu

Namun keadaanku cukup memprihatinkan

Sangat tidak mungkin bagiku untuk bepergian

Los Angeles pun termasuk tempat yang jauh

Ah, pokoknya tidak mungkin bagiku untuk bepergian

Itu bisa mengancam keselamatanku

Aku yakin kau sangat bingung dan bertanya – tanya tentang aku

Aku mengenalmu, kau pun begitu

Mungkin kau lupa, tapi kita memang saling mengenal

Tolong temui aku

Aku sangat memohon padamu

Andai bisa, aku akan berlutut dan memohon di hadapanmu

Temuilah aku, kau akan tahu siapa aku

 

Helena Wooden.

“Apa kau berniat pergi, Shannon?”

Tanyaku serius. Bingung.

“Entahlah, aku tidak merasa mengenalnya. Ada perasaan aneh menggelayuti ku saat membaca surat itu. Membuatku takut, lebih tepatnya.”

“Sudahlah, mungkin hanya penggemar iseng ! tidak usah diladeni.”

“Matt, apa mungkin seorang penggemar bisa senekat ini dengan menulis surat yang isinya serius seperti itu? Dia bisa dituntut loh!”

“Tomo benar.”

Jawabku menimpali.

“Jared, jika kau adalah seorang penggemar yang sangat menggilai seorang idola, kau pasti nekat berbuat apapun kan? Bahkan jika jiwamu yang menjadi ancamannya.”

Aku terdiam, kali ini Matt benar. Tapi surat itu terkesan misterius. Sungguh, bukan hanya Shannon, namun perasaanku pun tidak enak saat membaca surat itu.

“Baiklah, yang sepakat Shannon tidak pergi, katakan Shannon jelek.”

Pintaku sambil mengangkat tangan.

Shannon is ugly.”

Ucap Matt dan Tomo berbarengan sambil mengangkat tangan.

Kali ini kami bertiga kena jitak Shannon berkali – kali.

Kami bertiga sepakat tidak membiarkan Shannon pergi. Lalu mengapa sekarang kami disini?

Jawabnya adalah karena tiga hari lalu Shannon kembali menerima surat dari gadis misterius itu.

Dia memohon pertolongan, bahkan sampai membawa kata – kata mati. Shannon yang pada dasarnya mudah iba dan juga linglung pun akhirnya memohon padaku untuk menemaninya ke Woodside. Aku yang tidak bisa berbuat apa – apa pun kembali memohon kepada Shannon untuk mengajak Matt dan Tomo juga.

Jadilah kami disini.

Dijemput di Salt Lake City International Airport, oleh supir tua yang wajahnya tertutup syal, dia mengenakan topi Gatsby dan kacamata hitam. Dari suaranya yang serak bisa kutebak usianya 70 tahunan.

Dia mengenakan jas kulit warna hitam yang kebesaran, dengan sarung tangan putih yang sudah kotor. Sepatu pantofel dan celana bahan hitam yang warnanya pun sudah memudar.

Benar – benar mencurigakan.

“Ini merupakan Mansion paling menyeramkan yang pernah aku lihat seumur hidupku. Oh tidak, lihat sekelilingnya, kenapa halamannya kotor sekali? Benar – benar tidak terawat.”

Ini sudah ketiga kalinya Matt mengeluh.

Dari sepanjang perjalanan Matt terus – terusan mengeluhkan hal yang sama ; Jalanannya rusak. Anggap itu hal yang pertama.

Hal kedua yang dia keluhkan adalah ; mobil yang dibawa supir mencurigakan itu pun lepek dan berbau tidak enak. Seperti kayu basah yang mulai lapuk. Aku, Shannon dan Tomo hanya diam, kami juga merasa tidak enak dengan baunya. Namun kami tidak ingin menyinggung si supir mencurigakan itu, tapi Matt yang tidak bisa diam itu menyerocos saja.

Entah apalagi nanti yang dia keluhkan. Gawatnya aku lupa bawa kain andalanku yang biasa ku pakai untuk menyumpal mulutnya. Mungkin Matt sudah membuangnya.

“Selamat datang di Wooden Mansion tuan – tuan.”

Kami disambut oleh kepala rumah tangga di Mansion itu, wanita paruh baya yang menyepol rapi rambutnya yang memutih, dengan ikatan rambut dan seragam maid berwarna putih dengan dominan hitam. Senyumnya, oh Tuhan. Membuatku bergidik. Kupikir Shannon, Tomo dan Matt juga merasakan hal yang sama.

Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah ; ada apa dengan Mansion ini? Sepertinya pemiliknya orang kaya. Dia memiliki supir yang bisa menjemput tamu, dan ada maid tua yang menyambut tamu dengan ramah, yah walaupun tersenyum tapi kesan yang kudapat dari ekspresi wajahnya tidak sesenang yang kuharapkan tadinya. Mansion ini sedikit berdebu, pernak pernik di dalamnya terlihat muram dan tidak ada kilatannya. Sama seperti saat diluar tadi, dilihat dari mana pun, Mansion ini terkesan menyeramkan.

“Maafkan atas ketidaknyamanannya.”

Ucap Maid itu masih tersenyum.

Shannon mengangkat alis heran.

“Mansion ini seram.”

Ucap Maid itu.

Aku terdiam.

“Dan terkesan muram.”

Sambungnya lagi.

Aku menelan ludah, dia tidak membaca pikiranku tadi kan?

Um.. aku yakin, karena air disini susah didapat?”

Usahaku mencoba memecah ketegangan yang kaku ini. Tertawa canggung.

Maid itu tidak tersenyum lagi.

Dia memberi kami isyarat untuk mengikutinya.

“Sungguh, sungguh menyeramkan.”

Ucap Shannon berbisik.

“Apanya?”

“Jared, semuanya !”

Jawab Shannon kembali berbisik. Kesal.

“Kau ingin pulang sekarang? Sepertinya tidak mungkin.”

Tanyaku melas.

“Jared, perasaanku tidak enak.”

“Hey, aku juga sama tahu !”

Kami masih berbisik sampai tiba – tiba Matt menyenggol rusukku keras dengan sikunya.

“AWWWWW… sakit bodoh ! apa – apaan sih?!”

“Kemana orang menyeramkan itu??”

Tanya Matt, sumpah dengan bingungnya.

Aku, Tomo dan Shannon melihat sekeliling. Maid itu menghilang.

Loh, kau kan dibelakangnya. Masa ngga tahu??”

“Aku melepas pandangan darinya sebentar, sungguh, tidak lama ! begitu ku kembalikan pandangan ku, dia sudah tidak ada !”.

Sepucuk surat yang kelihatannya baru diletakan diatas meja panjang di dekat kami – ya karena sekelilingnya berdebu, hanya surat itu yang masih bersih – menangkap pandanganku. Terletak empat buah kunci di sampingnya.

Aku mengambil surat itu.

Isinya hanya :

Enjoy your stay, and please stay out of Room 6277.

Okay, Shannon, Tomo, Matt. Ini benar – benar membuatku takut.”

Ucapku tersenyum kaku.

To Be Continued