Appearance of a Chocolate

“Ishh, coba tuh liat!!”

“Apa?” Tanyaku kepada Michael, teman kampusku yang duduk di kursi penumpang di mobilku.

“Tuh, polisi – polisi mata duitan! Kerjanya nangkepin maling tapi mereka sendiri maling, maling bangsanya sendiri, kok ga malu sih!” Jawab Michael sembari menunjuk ke ujung kanan jalan raya di tengah kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah ini.

Terdapat dua orang polisi yang terlihat berdiri berdampingan dan seperti menginterogasi salah satu pengguna motor yang sedang melintas, ternyata Michael melihat salah satu dari mereka menerima uang kertas berwarna biru yang diselipkan dalam -sepertinya- STNK si pengguna motor tersebut.

“Ohh, itu.. Biru? Lima puluh ribu ya?”

“Iya, malu-maluin kan, Rob??” Tanyanya kesal.

“Ya malu-maluin sih, tapi kenapa jadi lo yang kesel gitu sih, Mike?” Ucapku sambil tertawa pelan.

“Eh, ga usah ngetawain gue, lo liat polisi-polisi di indonesia, semuanya ga ada yang beres, gimana mau hidup nyaman kalo penegak hukumnya aja pada serampangan??” Jawabnya.

Aku menancap gas pelan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijaunya, dan mulai berkendara kembali menyusuri jalanan jakarta menuju tempat tujuan kami.

“Semuanya? Bener-bener semuanya tuh?”

“Kurang jelas? semua polisi di indonesia itu ga bener! S-E-M-U-A.” Ucap Mike lagi sambil mengeja dan mempertegas ucapannya.

“Kayanya enggak deh..” Jawabku.

“Enggak dari mana? Hampir semua polisi yang gue temuin itu tukang palak!”

“Nah, tuh lo bilang hampir semua, berarti bukan semuanya dong?”

“Err, iya yaah?”

“Nih, gue kasih tau lo sesuatu.”

“Apaan? Mau nyeramahin gue? Mau nguliahin gue lagi? Ahhhh bosen! Lo itu udah keseringan banget nyeramahin gue Rob, udah kaya pak Umar aja. Dikit-dikit nyeramahin, dikit-dikit ngomentarin tingkah laku gue, dikit-dikit nyegat gue di koridor kelas cuma buat komplain bentuk rambut gue, padahal kan sekolah itu bebas, ga ada aturan rambut mesti gimana buat anak cowok.’Mike, kamu itu harus begini, harus begitu, ga boleh begini, ga boleh begitu, saya ajarin ya, saya kasih tau ya, saya contohin nih.’ Halaaaaah, ampe budeg kuping gue dengerin dia doang.”

Ucap Mike sembari menghela napas dan memainkan iPhone nya. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Mike yang selalu bertingkah semaunya. Pak Umar adalah guru Sosiologi kami ketika di SMA dulu. Satu-satu nya guru di sekolah yang berani menyeramahi Mike, anak pemilik yayasan.

“Ck, dengerin gue dulu, belum juga selesai udah di potong aja.”

“Abisnya sih, kebiasaan, bosen gue.”

“Lo pernah beli cokelat ngga?”

“Haahh??” Tanya Mike bingung sambil mengangkat alis dan memberikan pandangan idiotnya.

“Pernah engga?” Sambung ku lagi.

“Ya pernah, kan lo yang nemenin gue beli cokelat buat si Anna bulan lalu.. Masa lupa sih, pikun banget.”

“Intinya pernah kan? Seberapa sering?”

“Ya ga sering banget sih, mang kenape?”

“Belinya satuan, batangan, bungkusan isi lima, setengah bentuk?”

“Mana ada cokelat setengah bentuk, tolol banget lu. Idiot.” Jawab Mike sinis.

“Ya intinya pernah deh. Lo inget ga waktu lo gue temenin beli cokelat di toko kue depan studio musik si David di kelapa gading?”

“Cokelat yang ternyata pas dibuka disemutin ya? Inget lah, ga akan bisa lupa.”

“Nah, itu kan isinya ada lima buah tuh, tapi empatnya tetep lo makan karena bersih dari semut kan?”

“Dua doang yang gue makan dodol, satunya kan gue kasih Joe, terus satunya dimakan Chester.”

“Yailah, intinya dimakan empat tapi satu lo makan seperempat karena ternyata ada semut dalemnya.”

“Iyaaa, gila sumpah, gue ga merhatiin isinya, gue langsung gigit ga tau nya yang gue gigit itu rombongan semut. Jijik banget gue.”

“Sukurin. Selebor si lu.”

“Jadi intinya apaan nih lo nanya – nanya begini?” Tanya Mike bingung.

“Dalam satu bungkusan ada lima buah cokelat, tapi ternyata ada satu cokelat yang disemutin, tapi empatnya tetep dimakan. Kenapa coba?”

“Ih, tolol ye, yang ada semutnya kan cuma satu, Rob. Gimana sih.”

“Nah itu, tapi kan cokelat bermasalah ini letaknya barengan sama ke empat cokelat yang lain dalam satu tempat. Kok yakin banget makan sisanya?”

“Kan sebelum dimakan diperiksa dulu ada semutnya apa engga, Rob..”

“Meriksanya gimana? Lo bukain gitu?”

“Gue belah gitu, gue liatin semua sisinya, Chester sama Joe juga ngebantuin kok. Hasilnya negatif, ga ada semut.”

“Halah negatif, gaya banget bahasa lu.”

“Ya pokoknya yang empat BERSIH, no ants.”

“Terus si cokelat bermasalah ini lo buang dong?”

“Iyalaaaah cintaaaa gue buaaang masa iya gue makaaaan. Udah disarangin semut, dasar blo’ooooooon.”

“Iya gausah gitu juga ngomongnya kaliiiii…”

“Terus maksud pertanyaan lo soal si cokelat ini apa?” Tanya Mike lagi.

“Nih, kita buat cerita si cokelat ini sebagai perumpamaan antara polisi dan warga.”

“Hah? Maksud lo?”

“Kelima buah cokelat ini si polisi-polisi, pembeli cokelat ini adalah kita, warga.”

“Yaa terus?”

“Kaya yang lo bilang ke gue tadi, sebelum lo makan, lo cek dulu isinya, ada semut atau ga, bahkan si Chester ama Joe juga ngebantuin. Setelah lo belah and lo liat isinya, ternyata hasilnya negatif, ga ada semut, cokelat – cokelat itu bersih, dan bisa lo makan dengan tenang. Ya kan?”

“Iye, terus?”

“Masih ga ngerti?”

“Kaga.”

“Tolol.”

“Bodo.”

“Mikir dong Mikeeeee hadoooooh!! Lo itu leader genk kita masa blo’on banget siiiih. Ketololan lo itu lebih parah dari pada monyet jawa peliharaan si vanessa tau gak?!”

“Jangan samakan gue sama monyet cewe sialan itu! Ngerti ga lo?!”

“Dasar lo monyet cirebon.” Ucapku sambil menghela nafas dan menenangkan diri.

“Sekali lagi lo nyebut-nyebut nama tu perempuan sinting, gue mutilasi and gue potong-potong lo terus gue jual ke pasar kaget buat jadi makanan onta arab!” Teriak Mike sambil menunjuk – nunjuk jarinya ke mukaku.

“Kaya pernah ke pasar aja lu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu itu gue duduk di mobil sih, ga berani turun. Hehe.” Jawab Mike tertawa lugu.

“Yaudah lanjut.” Sambung ku sambil menghela nafas lagi.

‘Tuhaaaan, beriku kesabaran lebih untuk menghadapi monyet cirebon ini Tuhaaan.’ Ucapku dalam hati.

“Cus lanjut.”

“Tadi sampe mana?”

“Sampe onta arab.”

“Itu elu yang ngomong dodol, tadi pembicaraan gue sampe dimana?”

“Rob, masih muda kok udah pikun sih?” Ucap Mike sambil mengangkat alis dan membentuk huruf S di bibirnya.

“Oh iya, cokelat kan. Cokelatnya dimana tadi yak?” Tanya ku sambil tertawa pelan.

“Sampe dimakan dengan tenang..” Sambung Mike.

“Dan istirahat dalam damai.” Ucapku melanjutkan.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.. Eh, kok begini?” Lagi-lagi Mike memberikan pandangan idiotnya sambil memutar bola mata dan menatap sesuatu yang tidak ada sambil meletakkan telunjuk di keningnya.

“INI NGAPA BEGINI YAK?!”

“Lah yang mulai ngomong ‘istirahat dalam damai’ kan elo, bego!!” Teriak Mike histeris.

“Eh iya maap masbro.” Ucapku sambil memberikan pandangan melas.

“Cus lanjut.”

“Bahasa lu kaya lekong salon, Mike.” Sambung ku geli.

“Lagi belajar cin.” Ucap Mike tertawa.

“Jadi gini, sebelum lo makan tu cokelat, lo periksa dulu sisanya karena lo nemuin satu cokelat yang ‘cacat’ kan?”

“Iya. Terus?”

“Kalo gue yang jadi lo, gue ga akan mau makan sisanya.”

“Loh emang kenapa? Kan cuma satu yang cacat? Sisanya kan bersih.”

“Nah itu, karena dalam satu tempat itu ada satu cokelat yang cacat, makanya sisanya ga akan gue makan karena gue pikir sisanya cacat juga.”

“Kan ga akan tau sebelum di periksa Rob, satu mungkin cacat, bukan berarti sisa kawannya cacat juga, hanya karena mereka ada ditempat yang sama.”

“Lo nyadar ga barusan ngomong apa?”
Ucapku tertawa puas.

“Eh…” Ucap Mike bingung.

“Nah, anggep tu coklat sebagai polisi-polisi disini!!” Aku tertawa lagi.

“Ah, kampret. Bukan cuma buat polisi, tapi semua orang, yang organisasi, satuan, tim nya udah di cap jelek. Itu yang jangan dipikir semuanya pasti buruk gara-gara satu orang kan?”

“Pinter Mike. That’s what I’m talking about.”
Ucapku tersenyum puas.