Free Linkin Park Song: "Complimentary" by Mike Shinoda for Stagelight

Reblogged from Mike Shinoda's Blog:

With Stagelight now out for Windows, a number of you guys are checking it out. This week, I wanted to do something special for all our early adopters who are helping us spread the word: I made you guys a song.

This session can be downloaded and opened in Stagelight on Windows 7 or 8. It's not an audio file and doesn't contain any audio so (for now) only Stagelight users get to hear it.

Read more… 108 more words

A Guy Without A Name : Accomplishment (part 3)

(Semua percakapan dengannya dilakukan dalam bahasa inggris)

“Yes? What’s up?”
Dengan senyuman lebar di wajahnya, rasanya seperti suatu makhluk yang sangat menakjubkan menyihirku dengan satu kalimat biasa yang dilontarkan dari bibirnya. Ini tidak mungkin seperti ini, apa yang barusan itu?

Kedua mata indahnya menatap langsung kedua bola mataku. Dia berdiri beberapa inci di depanku. Suaranya, sangat lembut dan indah. Bahkan suara terindah di dunia ini tidak akan mampu menandingi suara luar biasa miliknya. Bagaikan petir yang menggetarkan hatiku. Aku terpesona dengan dirinya, wajahnya, suaranya, tatapannya. Apapun yang ada di dirinya.

“Uh… Can I take a picture with you?” Aku terbata-bata.
Dia mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya.
“Yes of course you can, tapi pertama izinkan aku pergi kesana dan berfoto bersama mereka, setelah itu aku akan kembali kesini dan berfoto bersama mu. Ok?”
Dia menunjuk ke beberapa pemuda-pemudi di standing area. Menjelaskan dengan sangat sopan akan niatannya untuk berfoto sambil menangkupkan kedua tangannya.
Aku langsung membalas ,”ok” dan tersenyum. Setelah itu dia pun pergi dan menghampiri orang-orang tersebut.

Anes berdiri di belakangku dan bertanya. Dan aku pun menjelaskan semua kata-kata si perkusi itu kepadanya.

“Anes, was that even real?” Aku bertanya kepadanya. Masih merasa seperti sedang bermimpi. Tuhan cepat sekali mengabulkan doa. Hari ini aku berharap untuk bisa berfoto bersama dengannya dan mengetahui nama si perkusi itu, dan Tuhan benar-benar langsung mengabulkan. Tidak lama lagi itu semua pun aku dapatkan.

“Yes tentu itu benar-benar terjadi.” Anes tersenyum.
“Dia sangat ramah..” Balas ku.

Beberapa menit telah berlalu, kami berdua masih berdiri di dekat pintu keluar di samping kiri panggung dan memperhatikan si perkusi yang sedang berfoto bersama pemuda-pemudi tersebut.
Dan dia pun berjalan menghampiri kami.

“Hi, siapa namamu?” Tanyanya kepada ku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum lebar.
“Aku Laricya.” Ucapku sambil berjabat tangan dengannya.
“Senang berkenalan denganmu.”
“Senang berkenalan denganmu juga.” Aku menjawab.

Aku langsung meminta Anes yang masih berdiri di belakangku untuk segera mengambil foto kami berdua. Tanpa membuang kesempatan, aku pun langsung memeluk tubuh si perkusi itu dan tersenyum lebar. Dia pun merangkul pundakku dan tersenyum juga.

Saat memeluknya, aku berpikir. Tuhan sungguh baik, mimpi dan harapan ku yang baru saja tercipta langsung dikabulkan oleh-Nya. Bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Hanya dengan niat dan doa, ini semua bisa tercapai. Satu-satunya perjuangan yang ku lakukan hanyalah saat aku berlari mengejarnya ke standing area. Itu pun kulakukan dengan mudahnya.

“Thank you so much for this!! This is so awesome! Oh my God, thank you so much!!”
Dengan wajah kesenangan, aku berulang kali mengucapkan terimakasih kepadanya. Aku tidak pernah mengira aku akan bertemu dengan pria baik hati ini dan berkesempatan untuk bersalaman, berkenalan, berfoto dan memeluknya! Aku bahkan baru mengetahui ada lelaki seperti dia di bumi ini beberapa jam yang lalu! Itu sangat menakjubkan.

Dengan senyuman dan tawa lembutnya, dia berkata, “no problem no problem. Terimakasih juga.”
Dia tertawa, diikuti oleh kami berdua.

Dan dengan seluruh keberanian yang aku miliki, aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kutanyakan ke musisi manapun.
“Hey, maaf.. Maaf sekali..” Ucapku.
“Yes?” Dia masih tersenyum dan menungguku untuk melanjutkan kalimat ku.
“Well, jika kamu tidak keberatan…”
“Oh tentu aku tidak keberatan!!” Potongnya.

Hey, aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku, namun dia sudah memotongnya seperti itu. Dan dia tidak keberatan katanya?? Baiklah kalau begitu, aku meminta mu untuk menjadi pacarku, how’s that?

“Really?? Kamu tidak keberatan??”
“Ya, aku benar-benar tidak keberatan.” Ucapnya dengan senyuman manis merekah di wajahnya yang putih bersih.

“Uh, sebenarnya, bolehkah aku meminta alamat E-mail mu?”

Aku yakin dia tidak akan memberikannya kepadaku, karena mana mungkin ada seorang musisi terkenal dunia yang mau memberikan kontak pribadinya kepada orang yang baru ditemuinya seperti aku? Namun Tuhan berkata lain. Dia masih memiliki banyak rencana indah untukku.

Dia langsung mengangguk masih tersenyum dan mengambil dompetnya dari saku belakangnya.
“Tentu saja kamu boleh.. Ini..”
Aku menatapnya tidak percaya. Dia menyodorkan sebuah kartu nama berwarna dasar putih dan di setiap sisinya ada warna maroon yang menghias.
“Aku berikan setiap kontakku kepadamu.” Ucapnya.

NO FREAKIN WAY!
THIS IS TOTALLY A DREAM, RIGHT? RIGHT?? RIGHT?????

Aku langsung menerima kartu nama tersebut dari tangan kanannya, dan akhirnya aku melihat sesuatu yang selalu ku harapkan sejak pertama kali melihatnya.

HIS NAME.

Aku masih membaca kartu nama tersebut.

Satu hal yang masih membuatku tercengang. Disitu tertulis juga nomor telepon nya.
Astaga benarkah??

“Oh my God. Thank you so much! Kamu baik sekali!”
Aku berterimakasih dengan nada suara yang terdengar senang, hampir berteriak kepada nya. Anes hanya berdiri tertawa di sebelahku. Dan (finally) João mengangguk dan tersenyum.
“Tidak masalah, tidak masalah.” Ucapnya.
“Kamu mau berfoto bersamaku juga?” Tanyanya kepada Anes.
“Oh, ya tentu saja.” Jawab Anes.

Anes pun mengambil telepon selularnya dan memberikannya kepadaku.

“What’s your name bro?” Tanya João kepada Anes.
“Anes.” Jawabnya. Dan kemudian berjabat tangan dengan si perkusi ramah itu.
“Apa pekerjaanmu?” Tanyanya lagi.
Aku pun memotong percakapan mereka dan menjawab.
“Dia itu Disc Jokey.”
Anes mengangguk, “Ya.”
“Oh… Kamu DJ? Cekit cekit cekit..”
Ucap João sambil memainkan tangan kanannya bagai memutar piringan hitam dan tangan kiri menutupi telinga kirinya, layaknya seorang Dj.
Kami tertawa.

Dan akhirnya aku mendengar kata-kata yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ku dengar.

“Ok then. Senang berkenalan dengan kalian.” Ucap João.
“Terimakasih! Senang berkenalan denganmu juga!” Jawabku.
“No problem!” He said.
Aku menjabat tangannya sekali lagi.

Dia pun melangkah pergi. Dan kami pergi menyusuri pintu keluar untuk mencari ibu ku. Saat sedang berjalan, aku mendengar beberapa gadis belia seusiaku sedang membicarakan si perkusi tampan itu.

“Astaga, akhirnya bisa kudapatkan foto dengan João!”
“Dia tampan sekali ya?!”
“Senang sekali! Dia ramah!”
“Dia manis!”

Dan bla bla bla.

Saat mendengar itu aku berpikir. Apakah dia juga memberikan nomor teleponnya kepada gadis-gadis itu? Ataukah dia hanya memberikannya kepadaku?
Itu sangat membuatku penasaran.
Aku berharap dia memberikannya hanya kepadaku.

“Dia baik sekali ya.” Ucapku membuka percakapan.
“Yes. Sangat. Tahu tidak apa yang membuatku paling terkejut?” Ucap Anes.
“Apa?” Tanyaku keheranan.
“Dia memberimu kartu namanya langsung dari dompetnya! Itu sangat jarang terjadi kan?”
“Wah, benarkah?”
“Yes!! Its pretty rare untuk seorang musisi memberikan kartu nama yang terdapat kontak – kontak pribadinya kepada seseorang yang bahkan tidak dikenal sedikit pun. Biasanya jika ada musisi yang begitu, hal yang paling mungkin adalah mereka meminta asistennya untuk memberikan kartu nama tersebut kepada orang yang meminta. Namun dia berbeda! Dia bisa saja menolak, padahal kamu hanya meminta email, namun dia berikan semua kontaknya.”
“Wah, masuk akal juga kata-kata mu itu. Namun dengan ini kita telah membuktikan bahwa dia itu pria yang baik kan?” Ucapku tertawa.
“Yes. Totally.” Balas Anes.

Kami berdua akhirnya menemukan ibu ku yang sedang duduk dan menikmati sebotol teh dingin. Dia duduk sendirian, tidak dengan kakak laki-lakinya

“Kenapa lama sekali?” Ucap ibuku.
“Maaf mom, tadi itu ada yang penting sekali untuk dikerjakan.” Jawabku tertawa.
“Apa itu?” Tanya ibuku penasaran.

Aku pun mengeluarkan telepon dan membuka isi foto-foto. Dan segera memperlihatkannya kepada ibuku.

“Wah? Itu kan…”
“Si perkusi itu mom!” Ucapku senang. Kemudian aku pun menceritakan semuanya kepada beliau. Beliau hanya tersenyum dan beberapa kali menggodaku karena berhasil mendapatkan foto dan nomor teleponnya.

Kami pun pulang.

Setelah sampai dirumah, aku segera mandi dan mengganti pakaian. Dan sesigap mungkin langsung mengambil telepon genggam ku dan membuat sms baru.

“Hey, terimakasih atas kesempatannya.
Sangat senang bisa mendapat foto dengan mu.
Take care!”

- Laricya”

- sent – message delivered -

Hatiku berdegup kencang. Menunggu sms balasan darinya. Setelah beberapa menit, telepon ku bergetar dan aku langsung membuka inbox.

“Tidak masalah. Sampai bertemu secepatnya. Selamat malam. X”

A Guy Without A Name : coincidence? (Part 2)

12.35 am
My mom went outside saat dia mendapat telepon dari seseorang, yang ternyata adalah kakak laki-lakinya yang juga datang ke acara ini. Jadi ketika itu hanya tersisa aku dan Anes, yang masih duduk tenang di bangku tribun, menyaksikan penampilan dari Incognito.
Dan aku? Tentu saja, masih menatap pada lelaki yang memainkan alat musik perkusi tersebut.

“Anes, please tell me how to get a picture with that guy… Please… Aku juga ingin sekali mengetahui namanya.”
Kataku kepada Anes yang masih sibuk menyaksikan band tersebut.

Dia hanya tertawa, seperti tidak peduli akan apapun yang ku katakan tentang lelaki itu.

I’m watching him, memperhatikan setiap gerakannya, bagaimana dia menabuh drum-drum nya dengan tangan cantiknya, melihat dia di bawah sorotan terang sinar lampu. Dia bagaikan malaikat yang terbang di bawah sinar terik matahari. Totally amazing.

“I think we can go down there. Ikut berbaur di festival area. Mendekat ke panggung itu.” Anes membuyarkan lamunanku.

Quickly I said, “That’s impossible. Kita terpisah dari tribun dan festival, penonton tidak bisa semudah itu berpindah kemanapun mereka mau.”

“Well, if you say so. Aku hanya memberitahu bahwa kita bisa.” Dia mengatakannya lagi.

I ignored his words, aku bahkan tidak mencoba untuk pindah ke standing area itu. Jadi kami masih hanya duduk di bangku tribun ini.

1.45 am
“Thank you Indonesia. You have been amazing!”
Ucapan terimakasih itu dilontarkan oleh salah seorang personil yang terlihat sudah lebih senior dibanding personil lainnya. Personil tersebut agak pendek, warna kulit agak sawo, rambut hitam beruban, memegang gitar dan berdiri sebuah mikrofon di depannya.
Ibu ku telah mengatakan sebelumnya, bahwa dia tahu band ini, Incognito selalu menjadi favorit nya dengan ayah ku. Ayah sangat menyukai band ini. Saat dia masih hidup, ibu dan ayah suka memutar lagu-lagu mereka, dan beberapa lagu yang populer di tahu. 70an. Tidak heran ada beberapa lagu milik Incognito yang terasa familiar di telingaku.
Dan ibuku mengatakan, pria tersebut adalah pemimpin dan pendiri band ini, dan namanya adalah Bluey.

Personil-personil Incognito tersebut mulai berbaris di panggung, memanjang dari sisi kiri ke kanan di depan seluruh penonton. Dan ternyata Bluey sedang akan mengenalkan mereka kepada penonton satu per satu.

“OMG Anes the show is about to finish!!” Aku panik.

“I told you we can go down there!” Dia membalas ucapanku.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita coba turun kesana!”

Saat Anes dan aku sedang mencoba untuk pergi memasuki standing area, Bluey sudah menyebutkan nama si perkusi tersebut. Aku bahkan tidak mendengar apa yang diucapkannya. Satu-satunya kata yang jelas terdengar adalah “Jo….” Namun aku tidak begitu yakin.

Kami akhirnya berhasil masuk ke standing arena, untungnya kami bisa melihat masing-masing personil dari dekat, sekitar 4 meter kurang!
Kami berdiri di sebelah kiri panggung, yang dimana si perkusi tersebut berdiri tepat beberapa meter di depanku. Aku sangat senang bisa melihat diri nya dari dekat.
Harus ku akui, seharusnya aku bertanya ke salah satu penonton akan nama dari si perkusi tersebut. Tapi aku cukup bodoh untuk tetap diam dan tidak mencoba untuk bertanya. Bodohnya.

Dan itulah mereka, meninggalkan panggung satu per satu setelah beberapa kalimat perpisahan di lontarkan oleh Bluey. Aku sempat berharap bahwa si perkusi itu akan menoleh ke arahku dan melontarkan senyum atau mungkin akan menghampiriku dan mengajak berkenalan. Bodoh, tentu itu tidak mungkin kan?
Dia dan kawan-kawannya pun memasuki belakang panggung, hilang sudah harapanku untuk meminta fotonya atau sekedar menanyakan namanya.
Aku putus asa lagi.

“Daaaammmn I wish we were here in the first place!” Aku berteriak ke Anes yang berdiri di sebelah ku. Dia melempar pandangan mengejek. “Sudah kukatakan dari awal kan..” Balasnya.

“Now what??” Aku bertanya.
“Well, not ‘now what?’ dear, we should go home.”

Slowly walked away from the standing area, ada tiga pintu keluar di tempat itu. Satu di bawah tribun tempat kami duduk tadi, satu di sebelah kanan panggung, dan satu nya di sebelah kiri panggung. Aku langsung mengajak Anes untuk keluar lewat sisi kiri.

I really didn’t know what happened.
I didn’t know. Was that a coincidence???
Coincidence or not, God is so kind!

Personil-personil band tersebut keluar lewat jalan kiri yang akan kami lewati, beberapa penggemar langsung menghampiri mereka untuk berfoto bersama dan bersalaman. Aku sangat terkejut.

“OMG ANES ITS THEM!!!” I shouted happily.
“Wow!! Benar! Lets go to them then!” Anes membalas.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan mereka disini. Maksud ku, adakah kebetulan yang sangat hebat seperti ini?? Atau kah ini memang takdir Tuhan??

Aku berjalan menghampiri mereka semua dan mencari si perkusi itu, namun dia tidak terlihat dimanapun. Tidak sedikit pun tanda-tanda akan dirinya.
Anes berfoto bersama beberapa personil, dan menawariku untuk berfoto juga. Dan aku menerima tawaran tersebut. Aku berfoto bersama si vokalis muda, yang sekarang ku ketahui namanya adalah Mo Brandis.

Aku tetap mencari – cari di sekeliling. Tapi masih nihil, dia tidak ada dimanapun.

“Where the hell is that guy??!”
“Maybe he’s still inside. Don’t worry.”
Anes menenangkanku.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sosok itu pun muncul. Dia datang dari balik panggung, saat aku hendak memanggilnya, dia berbalik dan pergi memasuki standing area. I was like,”huh?!”
Astaga, aku tidak akan membiarkannya pergi, tidak akan!
Akhirnya aku lari menghampirinya, aku menepuk pundak belakangnya, dia menoleh dan berkata….

A Guy Without A Name (part 1)

“Free tickets for tonight! Don’t worry, it’ll end about 12 am though, so you’re not gonna late at all!”

Itu yang dikatakan oleh teman kerja ku saat dia memberiku beberapa tiket gratis untuk Festival Jazz yang diadakan di Jakarta, tidak jauh dari tempat kerjaku. Acaranya dimulai pukul 6.30 pm. Jam menunjukkan pukul 5 pm, dan aku masih di kantor. Hebat sekali.

Setelah berpikir sejenak.. I searched for my phone, dialed my friend’s number.

“Yo!”
“Hey Tika, I’ve got free tickets for the Jakarta Jazz Festival tonight at Istora Senayan. Wanna come?”
“Jazz? Wah, kamu tahu aku tidak begitu tertarik dengan Jazz kan?”
“Ya aku tahu, karena aku pun juga sama sepertimu. Namun aku sudah terlanjur dapat beberapa tiket, sayang kalau tidak di gunakan.”
“Memangnya kamu dapat dari mana?”
“Kantor ku yang mensponsori acara ini. Jadi masing-masing karyawan bisa mendapatkannya. Namun tiket untuk besok sabtu dan minggu sudah habis semua. Aku dapat tiket sisa untuk jumat. Yaitu hari ini. Bagaimana, mau tidak?”
“Well, jam berapa acaranya dimulai?”
“6.30 pm.”
“Great! Kita berdua masih di kantor kan?! Apa sempat?”
“Tenang saja, dari pukul 6.30-10 malam acaranya di isi oleh musisi – musisi dan band lokal, kudengar akan ada band dan musisi Jazz internasional yang mengisi acara utama pada jam 11 malam nanti.”
“Oh begitu. Well then, wait for me.”
“Ok. See ya.”

Telepon terputus.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak begitu tertarik dengan musik-musik lembut (kelewat lembut) seperti ini. Well, Jazz memang menarik, lagunya bagus, colourful, indah, dan enak di dengar. Tapi entah mengapa aku tidak begitu menyukai musik-musik terlalu melow yang dapat membuat mata berair karena teringat sesuatu yang menyebalkan. Aku lebih memilih lagu-lagu ceria yang bisa membuatku berjingkrakan seperti lagu dari Band favorit ku, Linkin Park.

Saat temanku memberikan tiket untuk acara ini, sebenernya aku sempat berpikir, “Ah, untuk apa.. Toh aku tidak begitu menyukai musik kelas atas seperti ini. Kalaupun pergi, aku tidak akan mengenal musisi mau pun lagu-lagunya.
Namun akhirnya, berkat sesuatu yang mendorongku dari hati, akhirnya aku pun menerima tiket-tiket tersebut.

7.25 pm
Mom has called me, dia bertanya padaku mengapa aku tidak mengajaknya pergi bersama ke acara ini. Aku mengirimkan pesan singkat kepadanya sebelum ini, mengatakan bahwa aku akan pulang telat. Ketika kuberi tahu alasannya, dia langsung menelepon dan meminta untuk ikut.
Sebenarnya tanpa beliau meminta pun, aku sudah berniat mengajaknya, namun karena lokasi yang jauh dari rumah membuatku mengurungkan niatku tersebut. Tapi akhirnya aku mengatakan “ok” kepada ibu ku.

8.30 pm
Walked around the venue and stages while waiting for my mother. Melihat-lihat dan menyaksikan beberapa band Jazz lokal membawakan lagu-lagu milik Barry Manillow dan beberapa musisi terkenal kesayangan ibu ku dan almarhum ayah. Lagu-lagu yang indah, aku pun ikut bernyanyi, ibu ku sering memutar lagu-lagu Jazz saat sedang dirumah, atau bersenandung sendirian menyanyikan lagu-lagu kenangan bersama ayah dulu. Itulah sebabnya aku hafal beberapa lagu yang dibawakan.

Pertama kalinya bagiku menyaksikan langsung penampilan dari musisi Jazz lokal membuatku berpikir. Kenapa aku selalu meremehkan musisi-musisi berbakat ini? Ternyata mereka bisa ceria dan tidak monoton, mereka bersatu padu dengan musik, penonton dan euphoria nya sangat mengagumkan. I’m amazed.

Mendengar suara dari sang vokalis, drum, piano, saxophone, dan alat-alat lainnya.
Melihat para wanita nya menari-nari di atas panggung bermandikan jutaan warna.
Dan para musisi pria nya yang mengiringi sambil melambaikan tangan-tangan mereka ke kanan dan ke kiri. Dengan senyuman merekah di wajah ceria mereka.
Bagaikan fatamorgana yang berhasil menyihirku untuk melihat diri mereka yang nyata. Inilah yang disebut dengan Jazz. Inilah yang mereka sebut musik. Pemikiranku selama ini salah. Semua yang berhubungan dengan Jazz ternyata begitu mempesona.
Aku terpukau.

Aku menghubungi teman lelaki ku dan memintanya untuk datang. Dia mengiyakan.
Beberapa saat kemudian dia pun datang dengan senyum lebar menghiasi wajah bulatnya, dan mengatakan betapa senang dia bisa datang ke acara ini.

11.45 pm
Tika sudah pulang sekitar setengah jam lalu, karena dia masuk kerja esok pagi. So she couldn’t stay any longer in here to watch the International musicians.
Jadi hanya tersisa aku, ibu dan teman lelakiku, Anes.

Kami memasuki tempat dimana diadakannya acara utama untuk Band Jazz International tersebut, kami mendapat duduk di tribun atas, which was pretty far from the stage. Fortunately ada dua layar besar di sisi kanan dan kiri panggung tersebut, jadi kami terutama ibu ku masih bisa menyaksikan penampilan band tersebut dari kejauhan ini, yang kudengar namanya adalah “Incognito” .

At that night, something has happened.
As the music flows, the rhythm flows, the instrument plays, my eyes caught something.

Itu pertama kalinya bagiku untuk melihat sesosok pria yang sangat indah, menawan, ceria dan energik.

“You see that guy?!” Kataku kepada Ibu dan Anez selagi menunjuk seorang pria yang bermain perkusi di panggung itu.
“What’s with him?” Tanya Anes.
“Just look at him!” I shouted.
“Tampan ya?” Ibu ku merespon.
“Yes! Totally!” Sambung ku.
“Oh, yes right.” Tambah Anes.

I kept looking at the guy that I didn’t even know the name. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti. Kedua mata ku tidak mau melepaskan pandangannya dari sosok tersebut. Seolah ada suatu medan magnet yang terus menarik bola mata ku untuk tetap melihat dirinya.
Dia mengenakan kaos lengan pendek warna putih, celana panjang bahan dengan warna yang sama, sepatu vantovel hitam lancip, dan dia juga mengenakan jam tangan merah lucu di pergelangan tangan kanannya. Rambutnya hitam pendek, dengan janggut lurus di dagu nya. Totally adorable.

Quickly I opened my browser on my phone, mengetik nama “Incognito” di kolom pencarian Google. Hanya untuk mengetahui nama sang perkusi tersebut. Namun hasilnya tidak memuaskan, yang muncul hanyalah nama-nama mantan drummer dan drummer yang sekarang, bukan serta personil-personil yang ku lihat di depan mataku saat ini.

The only thing I really think about that night was, “apakah aku bisa mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya sebentar saja? Atau bisakah aku mendapatkan namanya sebelum acara ini selesai?”

Aku putus asa.

Kendrick Lamar, SKisM, More Good Art At Lazarides

Reblogged from Mike Shinoda's Blog:

Here's a quick little barrage of stuff I've been into lately.  First, a shout out to everyone affected by hurricane Sandy--Music for Relief is partnering with International Medical Corps to support mobile medical units in Haiti and Save the Children to support Child Friendly Spaces in the U.S.  Donate here.

Moving on; I wasn't going to blog about any of the following things individually, but as they added up, I thought I'd share them with you, in case you missed some or all of them.

Read more… 154 more words, 1 more video

Appearance of a Chocolate

“Ishh, coba tuh liat!!”

“Apa?” Tanyaku kepada Michael, teman kampusku yang duduk di kursi penumpang di mobilku.

“Tuh, polisi – polisi mata duitan! Kerjanya nangkepin maling tapi mereka sendiri maling, maling bangsanya sendiri, kok ga malu sih!” Jawab Michael sembari menunjuk ke ujung kanan jalan raya di tengah kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah ini.

Terdapat dua orang polisi yang terlihat berdiri berdampingan dan seperti menginterogasi salah satu pengguna motor yang sedang melintas, ternyata Michael melihat salah satu dari mereka menerima uang kertas berwarna biru yang diselipkan dalam -sepertinya- STNK si pengguna motor tersebut.

“Ohh, itu.. Biru? Lima puluh ribu ya?”

“Iya, malu-maluin kan, Rob??” Tanyanya kesal.

“Ya malu-maluin sih, tapi kenapa jadi lo yang kesel gitu sih, Mike?” Ucapku sambil tertawa pelan.

“Eh, ga usah ngetawain gue, lo liat polisi-polisi di indonesia, semuanya ga ada yang beres, gimana mau hidup nyaman kalo penegak hukumnya aja pada serampangan??” Jawabnya.

Aku menancap gas pelan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijaunya, dan mulai berkendara kembali menyusuri jalanan jakarta menuju tempat tujuan kami.

“Semuanya? Bener-bener semuanya tuh?”

“Kurang jelas? semua polisi di indonesia itu ga bener! S-E-M-U-A.” Ucap Mike lagi sambil mengeja dan mempertegas ucapannya.

“Kayanya enggak deh..” Jawabku.

“Enggak dari mana? Hampir semua polisi yang gue temuin itu tukang palak!”

“Nah, tuh lo bilang hampir semua, berarti bukan semuanya dong?”

“Err, iya yaah?”

“Nih, gue kasih tau lo sesuatu.”

“Apaan? Mau nyeramahin gue? Mau nguliahin gue lagi? Ahhhh bosen! Lo itu udah keseringan banget nyeramahin gue Rob, udah kaya pak Umar aja. Dikit-dikit nyeramahin, dikit-dikit ngomentarin tingkah laku gue, dikit-dikit nyegat gue di koridor kelas cuma buat komplain bentuk rambut gue, padahal kan sekolah itu bebas, ga ada aturan rambut mesti gimana buat anak cowok.’Mike, kamu itu harus begini, harus begitu, ga boleh begini, ga boleh begitu, saya ajarin ya, saya kasih tau ya, saya contohin nih.’ Halaaaaah, ampe budeg kuping gue dengerin dia doang.”

Ucap Mike sembari menghela napas dan memainkan iPhone nya. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Mike yang selalu bertingkah semaunya. Pak Umar adalah guru Sosiologi kami ketika di SMA dulu. Satu-satu nya guru di sekolah yang berani menyeramahi Mike, anak pemilik yayasan.

“Ck, dengerin gue dulu, belum juga selesai udah di potong aja.”

“Abisnya sih, kebiasaan, bosen gue.”

“Lo pernah beli cokelat ngga?”

“Haahh??” Tanya Mike bingung sambil mengangkat alis dan memberikan pandangan idiotnya.

“Pernah engga?” Sambung ku lagi.

“Ya pernah, kan lo yang nemenin gue beli cokelat buat si Anna bulan lalu.. Masa lupa sih, pikun banget.”

“Intinya pernah kan? Seberapa sering?”

“Ya ga sering banget sih, mang kenape?”

“Belinya satuan, batangan, bungkusan isi lima, setengah bentuk?”

“Mana ada cokelat setengah bentuk, tolol banget lu. Idiot.” Jawab Mike sinis.

“Ya intinya pernah deh. Lo inget ga waktu lo gue temenin beli cokelat di toko kue depan studio musik si David di kelapa gading?”

“Cokelat yang ternyata pas dibuka disemutin ya? Inget lah, ga akan bisa lupa.”

“Nah, itu kan isinya ada lima buah tuh, tapi empatnya tetep lo makan karena bersih dari semut kan?”

“Dua doang yang gue makan dodol, satunya kan gue kasih Joe, terus satunya dimakan Chester.”

“Yailah, intinya dimakan empat tapi satu lo makan seperempat karena ternyata ada semut dalemnya.”

“Iyaaa, gila sumpah, gue ga merhatiin isinya, gue langsung gigit ga tau nya yang gue gigit itu rombongan semut. Jijik banget gue.”

“Sukurin. Selebor si lu.”

“Jadi intinya apaan nih lo nanya – nanya begini?” Tanya Mike bingung.

“Dalam satu bungkusan ada lima buah cokelat, tapi ternyata ada satu cokelat yang disemutin, tapi empatnya tetep dimakan. Kenapa coba?”

“Ih, tolol ye, yang ada semutnya kan cuma satu, Rob. Gimana sih.”

“Nah itu, tapi kan cokelat bermasalah ini letaknya barengan sama ke empat cokelat yang lain dalam satu tempat. Kok yakin banget makan sisanya?”

“Kan sebelum dimakan diperiksa dulu ada semutnya apa engga, Rob..”

“Meriksanya gimana? Lo bukain gitu?”

“Gue belah gitu, gue liatin semua sisinya, Chester sama Joe juga ngebantuin kok. Hasilnya negatif, ga ada semut.”

“Halah negatif, gaya banget bahasa lu.”

“Ya pokoknya yang empat BERSIH, no ants.”

“Terus si cokelat bermasalah ini lo buang dong?”

“Iyalaaaah cintaaaa gue buaaang masa iya gue makaaaan. Udah disarangin semut, dasar blo’ooooooon.”

“Iya gausah gitu juga ngomongnya kaliiiii…”

“Terus maksud pertanyaan lo soal si cokelat ini apa?” Tanya Mike lagi.

“Nih, kita buat cerita si cokelat ini sebagai perumpamaan antara polisi dan warga.”

“Hah? Maksud lo?”

“Kelima buah cokelat ini si polisi-polisi, pembeli cokelat ini adalah kita, warga.”

“Yaa terus?”

“Kaya yang lo bilang ke gue tadi, sebelum lo makan, lo cek dulu isinya, ada semut atau ga, bahkan si Chester ama Joe juga ngebantuin. Setelah lo belah and lo liat isinya, ternyata hasilnya negatif, ga ada semut, cokelat – cokelat itu bersih, dan bisa lo makan dengan tenang. Ya kan?”

“Iye, terus?”

“Masih ga ngerti?”

“Kaga.”

“Tolol.”

“Bodo.”

“Mikir dong Mikeeeee hadoooooh!! Lo itu leader genk kita masa blo’on banget siiiih. Ketololan lo itu lebih parah dari pada monyet jawa peliharaan si vanessa tau gak?!”

“Jangan samakan gue sama monyet cewe sialan itu! Ngerti ga lo?!”

“Dasar lo monyet cirebon.” Ucapku sambil menghela nafas dan menenangkan diri.

“Sekali lagi lo nyebut-nyebut nama tu perempuan sinting, gue mutilasi and gue potong-potong lo terus gue jual ke pasar kaget buat jadi makanan onta arab!” Teriak Mike sambil menunjuk – nunjuk jarinya ke mukaku.

“Kaya pernah ke pasar aja lu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu itu gue duduk di mobil sih, ga berani turun. Hehe.” Jawab Mike tertawa lugu.

“Yaudah lanjut.” Sambung ku sambil menghela nafas lagi.

‘Tuhaaaan, beriku kesabaran lebih untuk menghadapi monyet cirebon ini Tuhaaan.’ Ucapku dalam hati.

“Cus lanjut.”

“Tadi sampe mana?”

“Sampe onta arab.”

“Itu elu yang ngomong dodol, tadi pembicaraan gue sampe dimana?”

“Rob, masih muda kok udah pikun sih?” Ucap Mike sambil mengangkat alis dan membentuk huruf S di bibirnya.

“Oh iya, cokelat kan. Cokelatnya dimana tadi yak?” Tanya ku sambil tertawa pelan.

“Sampe dimakan dengan tenang..” Sambung Mike.

“Dan istirahat dalam damai.” Ucapku melanjutkan.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.. Eh, kok begini?” Lagi-lagi Mike memberikan pandangan idiotnya sambil memutar bola mata dan menatap sesuatu yang tidak ada sambil meletakkan telunjuk di keningnya.

“INI NGAPA BEGINI YAK?!”

“Lah yang mulai ngomong ‘istirahat dalam damai’ kan elo, bego!!” Teriak Mike histeris.

“Eh iya maap masbro.” Ucapku sambil memberikan pandangan melas.

“Cus lanjut.”

“Bahasa lu kaya lekong salon, Mike.” Sambung ku geli.

“Lagi belajar cin.” Ucap Mike tertawa.

“Jadi gini, sebelum lo makan tu cokelat, lo periksa dulu sisanya karena lo nemuin satu cokelat yang ‘cacat’ kan?”

“Iya. Terus?”

“Kalo gue yang jadi lo, gue ga akan mau makan sisanya.”

“Loh emang kenapa? Kan cuma satu yang cacat? Sisanya kan bersih.”

“Nah itu, karena dalam satu tempat itu ada satu cokelat yang cacat, makanya sisanya ga akan gue makan karena gue pikir sisanya cacat juga.”

“Kan ga akan tau sebelum di periksa Rob, satu mungkin cacat, bukan berarti sisa kawannya cacat juga, hanya karena mereka ada ditempat yang sama.”

“Lo nyadar ga barusan ngomong apa?”
Ucapku tertawa puas.

“Eh…” Ucap Mike bingung.

“Nah, anggep tu coklat sebagai polisi-polisi disini!!” Aku tertawa lagi.

“Ah, kampret. Bukan cuma buat polisi, tapi semua orang, yang organisasi, satuan, tim nya udah di cap jelek. Itu yang jangan dipikir semuanya pasti buruk gara-gara satu orang kan?”

“Pinter Mike. That’s what I’m talking about.”
Ucapku tersenyum puas.

Loss

“Never waste your time for something useless.

Because eventually you’ll regret for everything you’ve done in your life.

It makes you the worst human ever who lived on the terrible planet.

Like me, the one who felt it.”

- LU -

 

Kalo dipikir – pikir, kepergian dia itu sangat mengejutkan.. Sangat mendadak…

Hari sebelumnya masih bisa tersenyum, berbicara, dan menggenggam tangan ku erat..

Masih bisa menganggukkan kepala saat aku memohon dia untuk sembuh..

Senyuman..
Gerakan..
Reaksi..
Sentuhan..
Dan suara..

Entah kapan bisa aku rasakan kembali, darinya..

Awalnya aku menyalahkan keadaan..
Bahkan aku menyalahkan sang Pencipta..
“Kenapa dia dipanggil secepat ini?”
“Tidak bisakah dia berbicara lagi seperti dulu?”
“Tidak bisakah dia berjalan lagi seperti dulu?”
“Tidak bisakah aku melihat senyum manisnya seperti dulu?”

“Kenapa secepat ini, Tuhan??”

Aku sudah membuat janji. Dan aku yakin aku bisa memenuhi janji-janji ku itu terhadap dia..
Karena aku yakin dia pasti sembuh dan bisa kembali riang seperti dulu lagi..

Tapi apa yang terjadi??

——————————————-

Kamis, 22 Maret 2012.

- kak Wisnu kenapa San??

- masuk rumah sakit lagi, katanya udah ga kuat :’(

- emang sakitnya parah banget ya? Kan cuma diare???

- iya diare akut, tapi udah sakit banget katanya :’(

- ya ampun, dia pasti sembuh Les, tenang aja, kamu bantu doa ya :’(

- iya :’(

Chat ku dengan Sandra lewat Blackberry Messenger.
Mamanya Sandra bilang, Wisnu nafasnya sudah satu-satu. Wisnu bilang dia minta direlakan saja.

-Minta direlakan saja? Tidak semudah itu kak. Kak Wisnu kuat, pasti bisa sembuh, pasti bisa sehat lagi seperti sedia kala.-
Ucapku dalam hati.

Aku pun menelpon mama, memberi tahu kabar tidak bagus ini.

“Iya, tadi kak Jane juga udah ngabari mama. Kau bisa izin pulang lebih awal ga?”

“Kenapa emang mom?”

“Mau jenguk kak Wisnu.”

“Oh, yaudah, nanti aku izin biar bisa pulang cepet.”

Klik.

Satu titik penyesalan terlihat di depan mata.
Beribu pertanyaan terlintas di kepala.

“Kemana saja kau selama ini? Di saat sepupu mu sudah terbaring lemah baru kau merasa peduli?”

Bukan.
Keluarga ku dan keluarganya dari dulu memang tidak begitu dekat.
Aku bahkan tidak tahu bahwa aku memliki mereka.

Pertama kali dalam hidupku bertemu dengan mereka, sekitar bulan september/oktober tahun 2011 lalu.

Saat Sekha (kakak laki-laki Wisnu) sedang pulang kerumah mama nya, Suzan yang juga tante ku, kakak dari almarhum ayah ku. Sekha memiliki pekerjaan tetap di Belanda. Dia bisa dibilang adalah seorang designer/peragawan yang cukup terkenal di Eropa. Bersama – sama Wisnu yang seorang peragawan juga. Mereka sering (hampir setiap saat) menghabiskan waktu bersama.

Aku dan keluarga mengunjungi mereka dirumah tante Suzan, di Cimanggis, Depok.

Kondisi disana sangat ramai sekali. Aku bahkan berpikir bahwa satu rumah itu memang banyak sekali penghuninya, tapi ternyata tebakanku salah. Hanya kak Wisnu dan mama nya yang tinggal disana. Bertiga dengan anjing Wisnu, Brownies.

Brownies dikenal sebagai anjing yang (sangat) galak, dia bahkan pernah menggigit kaki tetangga sampai keluarga Wisnu diminta ganti rugi.
Ajaibnya, Brownies hanya mau menuruti kak Wisnu. Bahkan menurut cerita kak Jane dan kak Ria yang juga kakaknya Wisnu, Wisnu itu sering bermain dengan Brownies sampai berani memasukkan tangan dan kepalanya ke mulut Brownies.
Dan memang hanya kak Wisnu yang bisa meluluhkan Brownies. Karena Brownies sudah dirawat dari kecil oleh kak Wisnu. Jadi tidak heran.

Dan satu orang lagi selain kak Wisnu yang bisa dekat dengan Brownies, adalah Christian, laki-laki kecil yang masih berusia sekitar 4 tahun, anak dari Sandra, keponakan Wisnu, putri dari kak Ria. Yang berarti adalah keponakanku juga.

“Keponakan? Sungguhkah? Usia ku baru menginjak 18 tahun, aku sudah memiliki keponakan lagi berusia 21 tahun?”

Pikirku saat itu.

Bahkan ada lagi yang lebih tua, Dion, berusia sekitar 28 keatas. Dan Rangga, yang usianya baru 24 tahun.

“Mereka, keponakanku?”

Pikirku heran.

——————————–

Pertemuan Kedua.

Masih di tahun yang sama. Hanya berbeda bulan. Kami datang kerumah mereka untuk ikut merayakan ulang tahun tante Suzan.

Masih dengan kondisi yang sama, dengan anggota keluarga yang sama, dan tidak lupa, kehadiran kak Wisnu.

Senyuman.
Tawa.
Kebersamaan.

Jujur, aku belum merasa dekat dengan mereka.
Aku dan kakak-kakakku justru lebih sering menghindar dan tidak berbaur dengan mereka saat itu.

Penyesalan lain.
“Kenapa kami tidak bergabung dan menikmati waktu bersama?”

Gengsi. Adalah musuh terbesar.

Menghabiskan hari tetap dengan bibir terkunci rapat dan tidak mengeluarkan kata-kata.
Kami hanya sempat berfoto bersama seluruh anggota keluarga beberapa kali.

Dan aku sempat duduk di sebelah kak Jane, kak Sekha dan kak Wisnu. Aku sempat bertanya kepada mereka.
“Itu siapa nama nya kak?”
Ucapku sambil menunjuk ke salah satu anak perempuan berambut panjang di ruang keluarga.

“Itu namanya Rina..” Jawab kak Jane, dan mereka tersenyum.

Pikirku sekarang,
“Itu semua tidak cukup.”

Kami pun pulang.
Sejak pertemuan kedua, kami tidak pernah datang kesana lagi.
Hanya beberapa kali berbicara dengan tante Suzan lewat telepon. Itupun hanya mama, bukan aku, ataupun kakak-kakak ku.

Aku pun lupa.

Hanya beberapa kali chat dengan kak Ria dan anak-anaknya, Sandra, Seline, dan Michael.

Sandra dan aku hanya beberapa kali saling bertegur sapa lewat BBM.

Dan saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku di Kemang, sangat suatu kebetulan bisa bertemu Sandra disana. Namun kami tidak banyak bicara.

Dengan Michael dan Seline pun hanya sebagai penghias contact BBM.
Karena kami sangat jarang bertegur sapa.

Aku menyesal.

———————–

22 Maret 2012.

Aku sampai dirumah.
Aku segera bersiap-siap.
Pada awalnya hanya aku dan mama yang akan berangkat menjenguk kak Wisnu di rumah sakit.
Namun kakak laki-laki ku Putra, meyakinkan mama agar dia saja yang mengantar mama, karena kebetulan juga aku ataupun mama tidak tahu jalan menuju rumah sakit.

“Terus ngapain dong aku tadi izin pulang cepet? Ujung-ujungnya malah ga ikut kerumah sakit!”
Ucapku marah.

Aku bukan marah karena soal izin pulang awal, tapi aku marah karena tidak bisa menjenguk kak Wisnu.

“Iya maaf, kau besok aja jenguknya ya, bareng mama sama Karin.”
Ucap ibuku.

Setelah berargumen, akhirnya aku setuju, bahwa besoklah aku baru menjenguk, bersama dengan kakak perempuan ku juga. Karin.

Tidak lama setelah mama dan Putra sampai dirumah sakit, aku melihat Display Picture Putra di bbm.

Astaga.

“Ini.. Kak Wisnu?”

Ucapku bingung ketika melihat seorang laki-laki terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan dan dengan tubuh yang.. sangat kurus.

Hanya tulang berbalut kulit.

Aku tidak kuasa.

Tidak mungkin. Kurus sekali.

- kak Wisnu kasian banget Les :’(

- iya, om Wisnu kurus banget :’( aku tadi dikirimin fotonya sama Putra, kurus banget ya ampun :’(

- kamu tenang aja ya, tetep bantu doa, kak Wisnu pasti sembuh kok, yang sabar ya sayang :’)

Berulang kali aku memberitahu Sandra agar tetap tenang dan tidak berhenti berdoa. Namun aku sendiri juga bingung dan tidak bisa menenangkan diri. Aku bingung.

Sandra sedang tidak bisa menjenguk kak Wisnu, karena dia sedang ada pekerjaan diluar kota. Baru bisa pulang nanti hari senin tanggal 26 Maret.

———————————

Jum’at, 23 Maret 2012.

Seperti omongan mama kemarin. Hari ini kami (aku, Karin dan mama) menjenguk kak Wisnu.
Namun kami mengajak keponakan kami Kean (2) dan Key (4).

Sesampainya disana kami mampir untuk makan di restoran cepat saji didepan rumah sakit. Mama menjemput Jane, Ria dan tante Suzan yang sedang menjaga Wisnu di kamarnya.

Selesai makan aku meminta mama untuk mengantarku ke kamar kak Wisnu.
Karin pun ikut.

Bertiga kami menyusuri lorong rumah sakit.

Dan sesampainya disana,…
Mataku terpaku ke sosok laki-laki yang terbaring tidak berdaya. Berbalut selimut tipis di atas kasur rumah sakit.

Aku menghampirinya, ku genggam tangan kirinya. Dia menggenggam balik tanganku.

Dia melambai memanggil Karin yang masih berdiri di sampingku.

“Itu, samperin kak Wisnu nya.” Ucap mama.

Karin menggenggam tangan kanannya. Aku terduduk masih dalam posisi tanganku menggenggamnya.

Air mata kami tidak terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Bisa dikatakan hujan deras turun lewat celah kedua mataku. Mama hanya merangkulku sambil menangis deras.

Karin masih bisa menahan air matanya, namun akhirnya jatuh juga.

“Kak, cepet sembuh ya.”
Ucap Karin.

Kak Wisnu mengangguk.

Tidak lama kemudian mama dan Karin keluar kamar.
Tinggallah aku berdua dengan kak Wisnu.

Terduduk lama. Menggenggam tangannya. Mengusap punggung tangannya.

“Ma..kasih..”
Ucap kak Wisnu.

Aku mengangguk.

“Cepet sembuh ya kak..”

Dia mengangguk.

Aku tersenyum, dia tersenyum.
Aku senang melihat senyumnya.
Aku benar-benar senang.

Tiba-tiba dia menangis.
Dia mengusap air matanya dengan telunjuk tangan kanannya. Sebelumnya dia sempat muntah. Jadi kuambil tissue, dan ku lap bibirnya.

Aku duduk dan kembali menggenggam tangannya.

Malam sekitar pukul 10. Aku pamit.
“Kak, aku pulang dulu ya, besok aku kesini lagi. Maaf ya kak.”

Ucapku sambil menahan tangis.

Dia hanya mengangguk.

Ku usap pipi nya, ku belai rambutnya.
dia hanya diam.

Sebenarnya aku ingin sekali menginap dan menjaga dia.

Namun karena Karin sudah pergi lebih dulu, mama pun mengajakku pulang karena keponakanku Key dan Kean tidak bisa tinggal disana.
Akhirnya aku pun pulang.

Aku sangat menyesal pernah meninggalkan bangku itu.

Aku menyesal melepas genggaman tangannya.

Aku menyesal.

Siapa yang sangka itu adalah kali terakhir aku bisa melihat senyuman manisnya?

————————–

Sabtu, 24 Maret 2012.

“Mom, nanti ke kak Wisnu lagi ga?” Tanya ku kepada mama.

“Mudah-mudahan jadi, mama juga lagi kurang enak badan sih sebetulnya.”

“Yahh. Tapi jadi ya mom. Kalo mama ga bisa, ya gapapa, nanti aku aja yang kesana.”

“Oh yaudah terserah kau. Tapi ga ada yang jagain Key sama Kean. Gimana tuh?”

“Yahh..”

Janji ku, teringkari.

Bibirku yang telah berkata “besok aku kesini lagi.”
Tidak bisa terpenuhi.

Sekitar pukul 7 malam aku berkiriman pesan singkat dengan kak Ria yang saat itu sedang dapat tugas menjaga kak Wisnu dirumah sakit.

- kak, dimana?

- dirumah sakit nih jagain Wisnu. Kamu kesini dong temenin kak Ria, biar ga bete.

- haha, iya nanti aku kesana. Jangan bete-bete dong. Kak Wisnu lagi apa?

- lagi bengong aja tuh tadi sempet ngamuk-ngamuk.

- ngamuk-ngamuk??? Kenapa???

- ngerasain badannya sakit and panas, ngomongnya ngaco pengen pergi jauh katanya. Satu kamar pada bingung sampe tadi dokter juga dateng. Tapi sekarang udah tenang kok.

- pergi jauh?? Ya ampun. Ya tapi syukur deh udah tenang. Jangan berhenti doain dia ya kak.

- iya kak Ria juga ga putus doa kok, tu kalo ga diteriakin di kuping hampir aja lewat, dokter sampe bilang relain aja.

- ih kok dokter ngomongnya gitu sih? Ngaco!! Kak Wisnu pasti sembuh!!

- amiin, pasti ada pengharapan. Jangan berhenti doa ya.

Bagaimanapun, seorang dokter tidak boleh berkata seperti itu.
Mereka seharusnya memberikan semangat. Bukan semakin membuat keluarga pasien lebih syok lagi.

————————-

Minggu, 25 Maret 2012.

Hari ini aku sudah niat akan menjenguk kak Wisnu selesainya aku dan kakakku membereskan rumah. Karena sehabis pindahan, rumah masih sangat berantakan. Jadi waktu sehari pun masih belum cukup untuk membersihkan dan merapikan barang-barang serta perabotan ala kadarnya kami.

“Mom, nanti ke kak Wisnu ya.”

“Terserah kau, tunggu rumahnya rapi dulu ya.”

“Aku nginep disana malem ini ya.”

“Loh, besok kau kan kerja pagi?”

“Gapapa mom.”

“Bantuin mama masak dulu ya, kan nanti tante Suzan mau nginep disini.”

“Iya mom. Oh, terus setiap pulang kerja aku jenguk kak Wisnu juga ya.”

“Iya..”

Siang harinya mama mendapat telepon dari tante Suzan yang mengabarkan bahwa dia akan datang lebih larut, dikarenakan ada sesuatu yang harus diurusnya lebih dulu.

Saat membersihkan rumah, aku melihat boneka kelinciku, boneka yang ada dari saat aku masih kecil. Pikirku, boneka ini akan kubawa ke rumah sakit untuk kuberikan kepada kak Wisnu, agar dia bisa tidur sambil memeluknya.

Itu niatku.

———————————-

Sore menjelang maghrib.

Panggilan masuk tertera di layar telepon genggam ku.
Nomornya tidak ku kenal.

“Halo?”

“Nisa?”

“Iya?”

“Nisa, kak Wisnu meninggal…”

“Hah???”

“Udah dulu ya, mau ngabarin yang lain.”

Sebelum telepon ditutup, aku bisa mendengar suara perempuan itu menangis.
Aku tidak ingat itu suara siapa. Aku tidak ingat.

“ini bohong. Perempuan yang menelponku barusan berkata bohong. Mungkin dia bercanda, sebenarnya kak Wisnu sembuh, namun dia memberitahu itu dengan candaan saja.”
Ucapku dalam hati.

Dengan posisi handphone masih kutahan di telinga, aku berjalan lemas menghampiri keluarga ku.

“Mah..” Suara ku tercekat, tangisku pecah. Aku tidak bisa menahannya.

“Mah, itu Nisa kenapa??” Tanya kakakku Vinny.
Saat itu hanya ada Vinny, Putra, mama dan Sinta..
Semua kakak-kakakku.

“Kenapa Nis????” Tanya mama dengan wajah khawatir.

Dengan bersusah payah mengeluarkan suara.
Aku berucap pelan dengan suara serak diiringi tangis deras.

“Kak Wisnu meninggal..”

————————————————————————————————

 

Tambahan penulis :

Dua hari setelah pemakaman, almarhum datang ke mimpi gue..

disitu dia duduk di kursi, dalam keadaan sudah sakit, dengan kumis nya yang agak tebal dan rambut nya yang ga beraturan modelnya (mendekat dia meninggal, dia ga mau di cukur atau dipotong kumis dan rambutnya).

dia senyum ke gue, nyeritain sesuatu soal kayu-kayu dia. kira-kira begini dialog kita :

“kak, aku kangen..” terus gue nangis sambil genggam tangan dia.

terus dia senyum.

“kakak sama kayu-kayu nya masih bingung..”

katanya.

 

terus gue kebangun.

akhirnya gue ceritain ke semua anggota keluarga.

mereka bingung sama arti dari kayu-kayu itu, sampe akhirnya pikiran kita semua tertuju sama kayu di kuburannya.

Astaghfirullah

nama dia di papan nya itu salah.

hanya salah satu huruf aja..

 

mimpi kedua :

gue ngeliat dia berdiri, terus gue nangis-nangis sambil meluk dia and dia meluk gue sambil senyum. perawakannya udah balik lagi kaya dulu dia belum sakit. gemuk, no kumis, rambut rapi^^

 

itu mimpi yang gue dapet setelah 40 hari dia meninggal.

——————————————————————————–

 

 

semua nama disamarkan, takut pada marah. hehe..

 

Dear Cousin, you’ll be in my heart forever.

Rest In Peace, Sweetheart….

Image

 

- LU -