“Never waste your time for something useless.
Because eventually you’ll regret for everything you’ve done in your life.
It makes you the worst human ever who lived on the terrible planet.
Like me, the one who felt it.”
- LU -
Kalo dipikir – pikir, kepergian dia itu sangat mengejutkan.. Sangat mendadak…
Hari sebelumnya masih bisa tersenyum, berbicara, dan menggenggam tangan ku erat..
Masih bisa menganggukkan kepala saat aku memohon dia untuk sembuh..
Senyuman..
Gerakan..
Reaksi..
Sentuhan..
Dan suara..
Entah kapan bisa aku rasakan kembali, darinya..
Awalnya aku menyalahkan keadaan..
Bahkan aku menyalahkan sang Pencipta..
“Kenapa dia dipanggil secepat ini?”
“Tidak bisakah dia berbicara lagi seperti dulu?”
“Tidak bisakah dia berjalan lagi seperti dulu?”
“Tidak bisakah aku melihat senyum manisnya seperti dulu?”
“Kenapa secepat ini, Tuhan??”
Aku sudah membuat janji. Dan aku yakin aku bisa memenuhi janji-janji ku itu terhadap dia..
Karena aku yakin dia pasti sembuh dan bisa kembali riang seperti dulu lagi..
Tapi apa yang terjadi??
——————————————-
Kamis, 22 Maret 2012.
- kak Wisnu kenapa San??
- masuk rumah sakit lagi, katanya udah ga kuat :’(
- emang sakitnya parah banget ya? Kan cuma diare???
- iya diare akut, tapi udah sakit banget katanya :’(
- ya ampun, dia pasti sembuh Les, tenang aja, kamu bantu doa ya :’(
- iya :’(
Chat ku dengan Sandra lewat Blackberry Messenger.
Mamanya Sandra bilang, Wisnu nafasnya sudah satu-satu. Wisnu bilang dia minta direlakan saja.
-Minta direlakan saja? Tidak semudah itu kak. Kak Wisnu kuat, pasti bisa sembuh, pasti bisa sehat lagi seperti sedia kala.-
Ucapku dalam hati.
Aku pun menelpon mama, memberi tahu kabar tidak bagus ini.
“Iya, tadi kak Jane juga udah ngabari mama. Kau bisa izin pulang lebih awal ga?”
“Kenapa emang mom?”
“Mau jenguk kak Wisnu.”
“Oh, yaudah, nanti aku izin biar bisa pulang cepet.”
Klik.
Satu titik penyesalan terlihat di depan mata.
Beribu pertanyaan terlintas di kepala.
“Kemana saja kau selama ini? Di saat sepupu mu sudah terbaring lemah baru kau merasa peduli?”
Bukan.
Keluarga ku dan keluarganya dari dulu memang tidak begitu dekat.
Aku bahkan tidak tahu bahwa aku memliki mereka.
Pertama kali dalam hidupku bertemu dengan mereka, sekitar bulan september/oktober tahun 2011 lalu.
Saat Sekha (kakak laki-laki Wisnu) sedang pulang kerumah mama nya, Suzan yang juga tante ku, kakak dari almarhum ayah ku. Sekha memiliki pekerjaan tetap di Belanda. Dia bisa dibilang adalah seorang designer/peragawan yang cukup terkenal di Eropa. Bersama – sama Wisnu yang seorang peragawan juga. Mereka sering (hampir setiap saat) menghabiskan waktu bersama.
Aku dan keluarga mengunjungi mereka dirumah tante Suzan, di Cimanggis, Depok.
Kondisi disana sangat ramai sekali. Aku bahkan berpikir bahwa satu rumah itu memang banyak sekali penghuninya, tapi ternyata tebakanku salah. Hanya kak Wisnu dan mama nya yang tinggal disana. Bertiga dengan anjing Wisnu, Brownies.
Brownies dikenal sebagai anjing yang (sangat) galak, dia bahkan pernah menggigit kaki tetangga sampai keluarga Wisnu diminta ganti rugi.
Ajaibnya, Brownies hanya mau menuruti kak Wisnu. Bahkan menurut cerita kak Jane dan kak Ria yang juga kakaknya Wisnu, Wisnu itu sering bermain dengan Brownies sampai berani memasukkan tangan dan kepalanya ke mulut Brownies.
Dan memang hanya kak Wisnu yang bisa meluluhkan Brownies. Karena Brownies sudah dirawat dari kecil oleh kak Wisnu. Jadi tidak heran.
Dan satu orang lagi selain kak Wisnu yang bisa dekat dengan Brownies, adalah Christian, laki-laki kecil yang masih berusia sekitar 4 tahun, anak dari Sandra, keponakan Wisnu, putri dari kak Ria. Yang berarti adalah keponakanku juga.
“Keponakan? Sungguhkah? Usia ku baru menginjak 18 tahun, aku sudah memiliki keponakan lagi berusia 21 tahun?”
Pikirku saat itu.
Bahkan ada lagi yang lebih tua, Dion, berusia sekitar 28 keatas. Dan Rangga, yang usianya baru 24 tahun.
“Mereka, keponakanku?”
Pikirku heran.
——————————–
Pertemuan Kedua.
Masih di tahun yang sama. Hanya berbeda bulan. Kami datang kerumah mereka untuk ikut merayakan ulang tahun tante Suzan.
Masih dengan kondisi yang sama, dengan anggota keluarga yang sama, dan tidak lupa, kehadiran kak Wisnu.
Senyuman.
Tawa.
Kebersamaan.
Jujur, aku belum merasa dekat dengan mereka.
Aku dan kakak-kakakku justru lebih sering menghindar dan tidak berbaur dengan mereka saat itu.
Penyesalan lain.
“Kenapa kami tidak bergabung dan menikmati waktu bersama?”
Gengsi. Adalah musuh terbesar.
Menghabiskan hari tetap dengan bibir terkunci rapat dan tidak mengeluarkan kata-kata.
Kami hanya sempat berfoto bersama seluruh anggota keluarga beberapa kali.
Dan aku sempat duduk di sebelah kak Jane, kak Sekha dan kak Wisnu. Aku sempat bertanya kepada mereka.
“Itu siapa nama nya kak?”
Ucapku sambil menunjuk ke salah satu anak perempuan berambut panjang di ruang keluarga.
“Itu namanya Rina..” Jawab kak Jane, dan mereka tersenyum.
Pikirku sekarang,
“Itu semua tidak cukup.”
Kami pun pulang.
Sejak pertemuan kedua, kami tidak pernah datang kesana lagi.
Hanya beberapa kali berbicara dengan tante Suzan lewat telepon. Itupun hanya mama, bukan aku, ataupun kakak-kakak ku.
Aku pun lupa.
Hanya beberapa kali chat dengan kak Ria dan anak-anaknya, Sandra, Seline, dan Michael.
Sandra dan aku hanya beberapa kali saling bertegur sapa lewat BBM.
Dan saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku di Kemang, sangat suatu kebetulan bisa bertemu Sandra disana. Namun kami tidak banyak bicara.
Dengan Michael dan Seline pun hanya sebagai penghias contact BBM.
Karena kami sangat jarang bertegur sapa.
Aku menyesal.
———————–
22 Maret 2012.
Aku sampai dirumah.
Aku segera bersiap-siap.
Pada awalnya hanya aku dan mama yang akan berangkat menjenguk kak Wisnu di rumah sakit.
Namun kakak laki-laki ku Putra, meyakinkan mama agar dia saja yang mengantar mama, karena kebetulan juga aku ataupun mama tidak tahu jalan menuju rumah sakit.
“Terus ngapain dong aku tadi izin pulang cepet? Ujung-ujungnya malah ga ikut kerumah sakit!”
Ucapku marah.
Aku bukan marah karena soal izin pulang awal, tapi aku marah karena tidak bisa menjenguk kak Wisnu.
“Iya maaf, kau besok aja jenguknya ya, bareng mama sama Karin.”
Ucap ibuku.
Setelah berargumen, akhirnya aku setuju, bahwa besoklah aku baru menjenguk, bersama dengan kakak perempuan ku juga. Karin.
Tidak lama setelah mama dan Putra sampai dirumah sakit, aku melihat Display Picture Putra di bbm.
Astaga.
“Ini.. Kak Wisnu?”
Ucapku bingung ketika melihat seorang laki-laki terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan dan dengan tubuh yang.. sangat kurus.
Hanya tulang berbalut kulit.
Aku tidak kuasa.
Tidak mungkin. Kurus sekali.
- kak Wisnu kasian banget Les :’(
- iya, om Wisnu kurus banget :’( aku tadi dikirimin fotonya sama Putra, kurus banget ya ampun :’(
- kamu tenang aja ya, tetep bantu doa, kak Wisnu pasti sembuh kok, yang sabar ya sayang :’)
Berulang kali aku memberitahu Sandra agar tetap tenang dan tidak berhenti berdoa. Namun aku sendiri juga bingung dan tidak bisa menenangkan diri. Aku bingung.
Sandra sedang tidak bisa menjenguk kak Wisnu, karena dia sedang ada pekerjaan diluar kota. Baru bisa pulang nanti hari senin tanggal 26 Maret.
———————————
Jum’at, 23 Maret 2012.
Seperti omongan mama kemarin. Hari ini kami (aku, Karin dan mama) menjenguk kak Wisnu.
Namun kami mengajak keponakan kami Kean (2) dan Key (4).
Sesampainya disana kami mampir untuk makan di restoran cepat saji didepan rumah sakit. Mama menjemput Jane, Ria dan tante Suzan yang sedang menjaga Wisnu di kamarnya.
Selesai makan aku meminta mama untuk mengantarku ke kamar kak Wisnu.
Karin pun ikut.
Bertiga kami menyusuri lorong rumah sakit.
Dan sesampainya disana,…
Mataku terpaku ke sosok laki-laki yang terbaring tidak berdaya. Berbalut selimut tipis di atas kasur rumah sakit.
Aku menghampirinya, ku genggam tangan kirinya. Dia menggenggam balik tanganku.
Dia melambai memanggil Karin yang masih berdiri di sampingku.
“Itu, samperin kak Wisnu nya.” Ucap mama.
Karin menggenggam tangan kanannya. Aku terduduk masih dalam posisi tanganku menggenggamnya.
Air mata kami tidak terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Bisa dikatakan hujan deras turun lewat celah kedua mataku. Mama hanya merangkulku sambil menangis deras.
Karin masih bisa menahan air matanya, namun akhirnya jatuh juga.
“Kak, cepet sembuh ya.”
Ucap Karin.
Kak Wisnu mengangguk.
Tidak lama kemudian mama dan Karin keluar kamar.
Tinggallah aku berdua dengan kak Wisnu.
Terduduk lama. Menggenggam tangannya. Mengusap punggung tangannya.
“Ma..kasih..”
Ucap kak Wisnu.
Aku mengangguk.
“Cepet sembuh ya kak..”
Dia mengangguk.
Aku tersenyum, dia tersenyum.
Aku senang melihat senyumnya.
Aku benar-benar senang.
Tiba-tiba dia menangis.
Dia mengusap air matanya dengan telunjuk tangan kanannya. Sebelumnya dia sempat muntah. Jadi kuambil tissue, dan ku lap bibirnya.
Aku duduk dan kembali menggenggam tangannya.
Malam sekitar pukul 10. Aku pamit.
“Kak, aku pulang dulu ya, besok aku kesini lagi. Maaf ya kak.”
Ucapku sambil menahan tangis.
Dia hanya mengangguk.
Ku usap pipi nya, ku belai rambutnya.
dia hanya diam.
Sebenarnya aku ingin sekali menginap dan menjaga dia.
Namun karena Karin sudah pergi lebih dulu, mama pun mengajakku pulang karena keponakanku Key dan Kean tidak bisa tinggal disana.
Akhirnya aku pun pulang.
Aku sangat menyesal pernah meninggalkan bangku itu.
Aku menyesal melepas genggaman tangannya.
Aku menyesal.
Siapa yang sangka itu adalah kali terakhir aku bisa melihat senyuman manisnya?
————————–
Sabtu, 24 Maret 2012.
“Mom, nanti ke kak Wisnu lagi ga?” Tanya ku kepada mama.
“Mudah-mudahan jadi, mama juga lagi kurang enak badan sih sebetulnya.”
“Yahh. Tapi jadi ya mom. Kalo mama ga bisa, ya gapapa, nanti aku aja yang kesana.”
“Oh yaudah terserah kau. Tapi ga ada yang jagain Key sama Kean. Gimana tuh?”
“Yahh..”
Janji ku, teringkari.
Bibirku yang telah berkata “besok aku kesini lagi.”
Tidak bisa terpenuhi.
Sekitar pukul 7 malam aku berkiriman pesan singkat dengan kak Ria yang saat itu sedang dapat tugas menjaga kak Wisnu dirumah sakit.
- kak, dimana?
- dirumah sakit nih jagain Wisnu. Kamu kesini dong temenin kak Ria, biar ga bete.
- haha, iya nanti aku kesana. Jangan bete-bete dong. Kak Wisnu lagi apa?
- lagi bengong aja tuh tadi sempet ngamuk-ngamuk.
- ngamuk-ngamuk??? Kenapa???
- ngerasain badannya sakit and panas, ngomongnya ngaco pengen pergi jauh katanya. Satu kamar pada bingung sampe tadi dokter juga dateng. Tapi sekarang udah tenang kok.
- pergi jauh?? Ya ampun. Ya tapi syukur deh udah tenang. Jangan berhenti doain dia ya kak.
- iya kak Ria juga ga putus doa kok, tu kalo ga diteriakin di kuping hampir aja lewat, dokter sampe bilang relain aja.
- ih kok dokter ngomongnya gitu sih? Ngaco!! Kak Wisnu pasti sembuh!!
- amiin, pasti ada pengharapan. Jangan berhenti doa ya.
Bagaimanapun, seorang dokter tidak boleh berkata seperti itu.
Mereka seharusnya memberikan semangat. Bukan semakin membuat keluarga pasien lebih syok lagi.
————————-
Minggu, 25 Maret 2012.
Hari ini aku sudah niat akan menjenguk kak Wisnu selesainya aku dan kakakku membereskan rumah. Karena sehabis pindahan, rumah masih sangat berantakan. Jadi waktu sehari pun masih belum cukup untuk membersihkan dan merapikan barang-barang serta perabotan ala kadarnya kami.
“Mom, nanti ke kak Wisnu ya.”
“Terserah kau, tunggu rumahnya rapi dulu ya.”
“Aku nginep disana malem ini ya.”
“Loh, besok kau kan kerja pagi?”
“Gapapa mom.”
“Bantuin mama masak dulu ya, kan nanti tante Suzan mau nginep disini.”
“Iya mom. Oh, terus setiap pulang kerja aku jenguk kak Wisnu juga ya.”
“Iya..”
Siang harinya mama mendapat telepon dari tante Suzan yang mengabarkan bahwa dia akan datang lebih larut, dikarenakan ada sesuatu yang harus diurusnya lebih dulu.
Saat membersihkan rumah, aku melihat boneka kelinciku, boneka yang ada dari saat aku masih kecil. Pikirku, boneka ini akan kubawa ke rumah sakit untuk kuberikan kepada kak Wisnu, agar dia bisa tidur sambil memeluknya.
Itu niatku.
———————————-
Sore menjelang maghrib.
Panggilan masuk tertera di layar telepon genggam ku.
Nomornya tidak ku kenal.
“Halo?”
“Nisa?”
“Iya?”
“Nisa, kak Wisnu meninggal…”
“Hah???”
“Udah dulu ya, mau ngabarin yang lain.”
Sebelum telepon ditutup, aku bisa mendengar suara perempuan itu menangis.
Aku tidak ingat itu suara siapa. Aku tidak ingat.
“ini bohong. Perempuan yang menelponku barusan berkata bohong. Mungkin dia bercanda, sebenarnya kak Wisnu sembuh, namun dia memberitahu itu dengan candaan saja.”
Ucapku dalam hati.
Dengan posisi handphone masih kutahan di telinga, aku berjalan lemas menghampiri keluarga ku.
“Mah..” Suara ku tercekat, tangisku pecah. Aku tidak bisa menahannya.
“Mah, itu Nisa kenapa??” Tanya kakakku Vinny.
Saat itu hanya ada Vinny, Putra, mama dan Sinta..
Semua kakak-kakakku.
“Kenapa Nis????” Tanya mama dengan wajah khawatir.
Dengan bersusah payah mengeluarkan suara.
Aku berucap pelan dengan suara serak diiringi tangis deras.
“Kak Wisnu meninggal..”
————————————————————————————————
Tambahan penulis :
Dua hari setelah pemakaman, almarhum datang ke mimpi gue..
disitu dia duduk di kursi, dalam keadaan sudah sakit, dengan kumis nya yang agak tebal dan rambut nya yang ga beraturan modelnya (mendekat dia meninggal, dia ga mau di cukur atau dipotong kumis dan rambutnya).
dia senyum ke gue, nyeritain sesuatu soal kayu-kayu dia. kira-kira begini dialog kita :
“kak, aku kangen..” terus gue nangis sambil genggam tangan dia.
terus dia senyum.
“kakak sama kayu-kayu nya masih bingung..”
katanya.
terus gue kebangun.
akhirnya gue ceritain ke semua anggota keluarga.
mereka bingung sama arti dari kayu-kayu itu, sampe akhirnya pikiran kita semua tertuju sama kayu di kuburannya.
Astaghfirullah…
nama dia di papan nya itu salah.
hanya salah satu huruf aja..
mimpi kedua :
gue ngeliat dia berdiri, terus gue nangis-nangis sambil meluk dia and dia meluk gue sambil senyum. perawakannya udah balik lagi kaya dulu dia belum sakit. gemuk, no kumis, rambut rapi^^
itu mimpi yang gue dapet setelah 40 hari dia meninggal.
——————————————————————————–
semua nama disamarkan, takut pada marah. hehe..
Dear Cousin, you’ll be in my heart forever.
Rest In Peace, Sweetheart….

- LU -