Aardvark (Orycteropus afer)

Image

Found throughout southern Africa, aardvarks use their keen sense of smell to sniff out their favorite food—termites.

 

Aardvarks live throughout Africa, south of the Sahara. Their name comes from South Africa’s Afrikaans language and means “earth pig.” A glimpse of the aardvark’s body and long snout brings the pig to mind. On closer inspection, the aardvark appears to include other animal features as well. It boasts rabbit like ears and a kangaroo tail—yet the aardvark is related to none of these animals.

Aardvarks are nocturnal. They spend the hot African afternoon holed up in cool underground burrows dug with their powerful feet and claws that resemble small spades. After sunset, aardvarks put those claws to good use in acquiring their favorite food—termites.

While foraging in grasslands and forests aardvarks, also called “antbears,” may travel several miles a night in search of large, earthen termite mounds. A hungry aardvark digs through the hard shell of a promising mound with its front claws and uses its long, sticky, worm like tongue to feast on the insects within. It can close its nostrils to keep dust and insects from invading its snout, and its thick skin protects it from bites. It uses a similar technique to raid underground ant nests.

Female aardvarks typically give birth to one newborn each year. The young remain with their mother for about six months before moving out and digging their own burrows, which can be extensive dwellings with many different openings.

 

Type: Mammal

Diet: Omnivore

Average life span in captivity: 23 years

Size: Head and body, 43 to 53 in (109 to 135 cm); Tail, 21 to 26 in (53 to 66 cm)

Weight: 110 to 180 lbs (50 to 82 kg)

 

Did you know?

An aardvark’s tongue can be up to 12 in (30.5 cm) long and is sticky to help extract termites from the earthen mounds.

 

 

 

source : http://animals.nationalgeographic.com/animals/mammals/aardvark/?rptregcta=reg_free_np&rptregcampaign=20131016_rw_membership_n1p_intl_dr_w#

Wishes

Image

 

 

 

Mimpi?
Apa sebenarnya mimpi itu? Apa sebenarnya yang menjadikan mimpi menjadi nyata dalam pikiran kita? Apakah kenyataan yang membuat segala hal menjadi runyam, berbaur menjadi satu, mengumpulkan segala hal di satu titik dan akhirnya menghasilkan mimpi?

Imajinasi?
Hanya sebuah layar datar, bukan, 3 dimensi? Manusia dengan bebas menciptakan sesuatu, mengumpulkan segalanya di dalam bayangan ketika mereka memejamkan mata, menjadikan hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, menjadi seperti tiada akhir dalam Imajinasi mereka? Mereka menciptakan segalanya, membuyarkan dan menghancurkan kenyataan. Mengalahkan kenyataan dan kepahitan dengan, imajinasi?

Impian?
Apa bedanya dengan mimpi? Hal yang sama bukan? Ataukah lebih kuat dan lebih nyata daripada mimpi? Atau imajinasi? Seringkali orang mengejar mimpi – mimpi mereka yang tak kunjung datang, mereka tak berbeda dengan impian yang terkubur dalam diri mereka sendiri.

Kenyataan akan berubah, keajaiban akan datang, kepada yang percaya dengan impian dan harapan mereka.
Semua berawal dari hal yang sangat sederhana.
Imajinasi, mimpi, atau impian.
Seperti anak kecil tak berdosa yang senang berimajinasi. Membayangkan dunia dipenuhi dengan hal – hal baru. Siapa yang sangka, hal itu akan merubah hidup mereka kelak?

Vivi, adalah satu dari sekian banyak manusia yang berhasil merealisasikan salah satu impiannya.

Gadis berusia 16 tahun ini adalah murid beasiswa yang akan memulai pendidikannya di salah satu sekolah yang ada di Kyoto, Jepang.

Dia dipindah dari negara asalnya baru baru ini. Menempati rumah orang tua asuhnya untuk beberapa tahun ke depan.

Vivi hanya memiliki Ibu dan seorang kakak laki laki yang kini tengah bekerja membantu Ibu mereka. Ayah mereka wafat akibat mengidap penyakit mematikan 2 tahun lalu dan Ibu Vivi saat itu tidak memiliki biaya untuk membiayai sang Suami berobat.

Ibu Vivi tetap tinggal di negaranya. Sesaat sebelum melepas kepergian anak bungsunya, Ibu Vivi berpesan agar selalu mengiriminya surat seiring dengan perkembangan Vivi tinggal di Jepang.

“Kamu dapat beasiswa?? Sekolah di Jepang?? Apa benar??” ini adalah kata kata pertama yang diucapkan Ibu Vivi saat anaknya menyampaikan kabar bahwa dia terpilih untuk menjadi siswi yang akan di kirim ke Jepang. Awalnya sang Ibu berpikir bahwa anaknya mengada ada, namun setelah Vivi memperlihatkan surat yang dia terima dari salah satu lembaga tempat Vivi mengikuti tes, Ibu nya nyaris tidak bisa berkata. Hanya menangis, menangis haru.

“Tapi, apa kamu benar – benar bisa kesana? Pasti membutuhkan biaya yang besar, untuk makan, tempat tinggal, dan biaya sehari hari, juga tiket pesawat! Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Vivi?”
Ucap sang Ibu lirih.

“Ibu tenang saja, itu semua sudah diatur oleh mereka, semuanya! Kita hanya terima beres bu. Aku bisa ke Jepang. Akhirnya Bu, aku bisa bersekolah disana!! Tapi.. Apa Ibu akan baik – baik saja?”

“Kamu anak yang baik, kamu layak mendapatkan ini. Ayahmu pasti bangga. Ibu akan baik – baik saja. Toh kakakmu disini bersama Ibu. Hanya ingatlah, terus kabari Ibu perkembanganmu disana, tulislah surat, atau apapun.”
Ibu tersenyum.

“Tentu Bu, tentu.”

 

“Ibu sangat bangga padamu.”

ucap Ibu nya lagi, memeluk erat putrinya.

Malam itu tidak ada lagi hal yang bisa memecahkan kebahagiaan Vivi. Melihat kebanggaan yang terpancar dari wajah sang Ibu, dan kebahagiaan yang dia raih berkat kerja kerasnya. 

——–

 

Gomennasaiano, boleh aku bertanya? Dimana kelas 1-3?”

Tiga siswi itu tertawa melihatku, tersenyum mengejek dan terlihat merendahkanku. Satu dari mereka lebih tinggi dari dua lainnya, bermata besar, berambut hitam kuncir kuda. Satu yang agak gemuk terlihat manis, memakai pita lucu di sebelah kanan rambutnya. Dan satunya lagi kurus, tingginya sama dengan yang gemuk, berambut panjang sebahu, berponi dan cantik. Awalnya kupikir mereka ramah dan akan membantuku. Namun bukan menjawab pertanyaan ku, mereka berlalu dan meninggalkan ku sendiri di lorong kelas yang panjang ini.

Seorang guru menghampiriku, dia tinggi, kira – kira sebaya dengan Ibu ku. Berwajah bulat dan berambut cepak. Dia bertanya mengapa aku masih berdiri disini padahal bel sudah berbunyi beberapa menit lalu.
“A..aku tidak tahu dimana kelasku..aku murid baru disini.”

Setelah memberitahunya, dia mengantarku ke kelas. Barulah ku tahu bahwa dia adalah wali kelasku disini.

“Saya mendapat murid baru, dan kalian kedatangan teman baru, mungkin tukang kebun kita juga mendapat tugas baru dengan ada nya dia disini.”
Sontak murid – murid tertawa, aku tidak mengerti apakah guru itu hanya bercanda atau memang dia benar – benar bermaksud seperti itu.

“Saya Makoto Taneda, wali kelasmu. Dan ini adalah teman – teman baru mu. Sekarang perkenalkan dirimu.”

Dengan gugup dan gemetar. Aku memberanikan diri dan berusaha tenang. Ada kekhawatiran muncul di benak ku. ‘Apakah mereka akan menyukaiku? Ataukah akan memusuhiku? Bagaimana jika mereka membenciku dan menjauhiku lalu mengucilkanku?’
Aku menepis pikiran itu. Menarik nafas dalam – dalam dan menegakkan badan.

“Aku Vivi, murid transfer dari Indonesia. Ku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Yoroshiku onegaishimasu.”
Aku membungkukkan badan.
Sayup – sayup terdengar suara tawa.
‘Mereka pasti mengejekku.’ Pikirku.

“Indonesia? Negeri antah berantah ya? Tidak pernah dengar.” Salah satu siswa berkata. Disusul oleh tawa seisi kelas yang bergemuruh sampai ke hatiku.

“Ibu.. Mereka tidak menyukaiku..”
Ucapku dalam hati.

————

Hari ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Pelajarannya terasa lebih sulit. Orang – orangnya dingin. Aku belum bisa akrab dengan siapapun. Dan yang lebih menyedihkan, teman sebangkuku tidak menyapaku sama sekali. Seperti tidak menganggapku ada.

Bel istirahat berbunyi, aku menuju kantin seorang diri. Berjalan pelan setenang mungkin.

Segerombolan siswi berjalan mendahuluiku. Ada sesuatu yang jatuh.
Aku berjalan cepat menghampiri mereka.

“Maaf, kurasa ini milikmu.”
Ucapku sambil mengulurkan tangan.

“Terimakasih.”
Salah satunya berterimakasih sembari mengambil benda miliknya dari tanganku.

“Ah, itu salah satu siswi di kelasku.”
Gumamku mengingat.

Setelah membeli roti dan susu. Aku melangkah ke salah satu kursi di kantin. Duduk disana ditemani 5 kursi kosong dengan meja yang agak panjang.

“Kau menempati kursi ku.”
Seseorang berkata kepadaku. Ketika aku menoleh, kulihat 6 siswi yang tidak asing. Dari kelasku lagi.

“Maaf.”
Ucapku pelan.

“Cari meja lain. Ini milik kami.”
Salah satunya berkata sinis.

Aku beranjak, bukan untuk mencari kursi lainnya, aku melangkah cepat menuju kelas ku.
Kuputuskan untuk makan disini.

—————-

 

“Aku pulang.”

“Selamat datang. Lesu sekali Vivi-chan? Bagaimana sekolahmu?”
Seseorang menyapa dari dapur.

Wanita cantik ini adalah Tomoko Arashi, yang mana merupakan istri Paman Daichirou Arashi, keluarga asuh ku selama aku tinggal di Jepang. Aku bersyukur, Bibi dan Paman Arashi sangat ramah dan mau menerima ku.

“Hari pertama ku berjalan baik sekali, terima kasih Bibi.”

“Tidak adakah yang mengusilimu?”
Seseorang bertanya.

Aku menoleh. Daisuke disana, menatapku sinis dari balik meja makan. Anak satu – satu nya keluarga Arashi. Laki – laki yang terlihat tampan ini sebaya denganku dan tidak ramah padaku. Sejak aku datang kesini, dia menghindari ku. Baru sekarang dia benar – benar menanyakanku.

“Tidak ada.”
Aku menelan ludah.

“Tidak seru. Harusnya banyak yang menjahilimu. Kau kan orang aneh. Orang asing.”
Ucapnya sinis.

“Daisuke..”

“Ah, aku ada tugas rumah. Permisi Bibi, aku akan keatas dan mengerjakannya.”
Aku memotong ucapan Bibi Arashi, aku tidak mau melihat Daisuke membantah Ibu nya karena aku.

“Jangan lupa makan malam nanti ya Vivi-chan.”
Bibi tersenyum lembut.

Aku mengangguk pelan.
Aku melangkah ke tangga menuju kamarku. Sayup – sayup aku mendengar Bibi menegur Daisuke akan sikapnya terhadapku tadi.
“Aku tidak suka dia, Bu.”

Itu agak menyakitkanku.

Aku mengeluarkan pena dan kertas, aku mulai membubuhkan tulisan yang segera ku hapus lagi dan kutulis ulang.

“Ibu, apa kabar? Ku harap Ibu dan kakak baik – baik saja disana. Aku sangat rindu pada kalian. Hari pertama ku sebagai seorang siswi di salah satu sekolah di Kyoto sangat menyenangkan. Bibi dan Paman Arashi sangat ramah, begitu pun dengan anak mereka Daisuke. Aku bersyukur bisa kesini.
Aku sangat merindukan kalian dan negaraku..”

Aku menitikkan air mata.
Aku harus kuat. Aku tidak boleh kalah akan situasi seperti ini. Aku yakin semua akan berubah, aku tidak akan menyerah. Demi Ibu dan kakakku. Aku ingin berguna untuk mereka. Menjadi anak yang berbakat, mendapat pekerjaan hebat dan memberikan tempat tinggal yang layak untuk Ibu dan kakak laki – laki ku.

————–

“Vivi, kamu benar – benar akan berangkat kesana?”

“Iya, aku ‘kan akan bersekolah disana.”

“Kamu pasti mampu.”

“Maksud kakak?”

“Kamu punya misi, Vi.”

“Misi?”

“Dan tanggung jawab besar.”

“Aku masih tidak mengerti.”

Aku terbangun dari tidur. Ingatan itu merasuki mimpiku.
Beberapa minggu sebelum aku berangkat, kakak ku Soni berbincang dan menanyakan banyak hal. Dia juga menasehati ku.

“Dengan begini secara tidak langsung kamu meninggikan harapan Ibu kita.”
Kakak ku berbicara dengan tatapan menerawang. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

Kakakku sudah berusia 23 tahun. Dia tidak pernah bersekolah. Itu dikarenakan orang tua kami yang tidak mampu membiayai sekolah anak – anaknya. Namun dia pria muda yang cukup cerdas, itu karena dia memiliki kemauan yang keras untuk belajar. Dulu ketika berumur 10 tahun, hampir setiap sore dia pergi menemui teman baiknya. Dia diajari cara mempelajari bahasa, hitung – hitungan, bahkan makhluk hidup. Itu berlangsung selama kurang lebih 6 tahun. Namun teman baiknya pindah rumah karena ayahnya direlokasikan ke kota lain.

Aku termasuk gadis yang beruntung. Berkat bantuan seorang dermawan aku bisa menempuh pendidikan di tempat yang layak. Mengikuti les dan semacamnya. Hingga akhirnya aku terpilih untuk dikirim kesini karena sebuah tes yang kuikuti berkat dorongan dermawan itu.

Kak, aku akan berusaha.

———

 

Daisuke masih saja dingin. Tadi pagi setelah sarapan dia menahan kakiku ketika aku berjalan sampai aku terantuk dinding.
Dahiku biru dan sedikit berdarah.

“Apa sudah baikan, Vivi-chan?”
Tanya Bibi cemas sambil memplester dahiku.

“Aku baik – baik saja, Bi. Maaf merepotkan.”

“Oh tidak sama sekali, ini karena Bibi terlalu memanjakan Daisuke. Maafkan Bibi dan Daisuke ya Vivi-chan.”

“Tidak apa – apa, aku mengerti. Aku berangkat dulu ya Bi.”

“Hati – hati, semoga harimu menyenangkan, Vivi-chan!”

Aku tersenyum dan melambaikan tangan begitu sampai di gerbang rumah. Dan melangkah keluar sambil bersenandung pelan.

Little boxes on the hillside, little boxes made of ticky tacky little boxes on the hillside, little boxes all the same.

There’s a green one, and a pink one, and a blue one and a yellow one…

Aku berhenti bersenandung saat melihat Daisuke yang tiba – tiba muncul disamping ku. Tatapannya sinis dengan ekspresi datar seperti yang biasa kulihat.

“Suaramu buruk sekali. Memekakkan telinga.”

“Kupikir bukan urusanmu.”

“Itu mengganggu.”

“Hanya kau yang merasa seperti itu. Lagipula tidak ada siapapun disini.”

Dia terdiam dan melangkah cepat.

“Kau yakin tidak ada yang mengusilimu di sekolah?”

“Ya.”

“Aku tidak percaya.”

“Bukan urusanmu.”

“Hey, apa kau ingat? Kau tinggal dirumahku. Kau harus menghormatiku. Bodoh.”

“Aku menghormati orang – orang yang menghargaiku.”

Aku melangkah cepat dan mendahuluinya, meninggalkan dia yang terdiam karena ucapanku.

———–

 

“Kenapa dahimu?”
Pertanyaan yang dilontarkan teman sebangku ku itu mengejutkanku. Maksudku, kemarin dia bahkan tidak menghiraukanku sama sekali. Sekarang dia menanyakanku.

“Ah, aku tersandung.”

“Bodoh sekali.”
Tawanya mengejek.

Benar, bodohnya aku. Kupikir dia mulai ramah dan ingin berteman. Ternyata tidak semudah itu.

Hari ini aku membawa bekal yang dibuatkan Bibi Arashi. Dia benar – benar perhatian dan lembut. Aku heran kenapa Daisuke sangat berbeda dengan Ibu atau Ayahnya.

Aku melangkah ke belakang sekolah. Halamannya luas, ada taman bunga yang cantik dan rerumputan yang asri.

“Kurasa disini saja.”
Gumamku.

Aku langsung duduk dan membuka bekalku. Ketika baru akan melahapnya, aku mendengar langkah – langkah yang mendekat kearahku.

Kulihat seorang siswa bertubuh tinggi, berbadan tegak, berambut coklat, dengan wajah oval dan tatapan tajam. Namun manis dan terkesan ramah.

“Oh, lihat. Oi, dia disini!”
Teriaknya.

Dua orang siswa datang menghampiri laki – laki ini. Dan langsung menatapku.

“Kenapa kau disini?”
Tanya yang berkacamata.

Aku hanya diam. Aku takut salah memberi jawaban dan malah menyudutkan ku disini.

“Hey? Aku sedang bertanya.”
Tanyanya lagi.

“Aku…”
Aku berkeringat dingin. Aku ingin pergi, tapi rasanya tubuhku kaku.

“Jangan takut. Kami tidak akan mengusilimu kok.”
Siswa pertama tadi tersenyum usil padaku.

“Namamu Vivi ‘kan?”
Tanyanya.

Aku mengangguk. Terdiam bingung. Menatapi mereka satu persatu.

“Aku Kenji Yamada. Yang berkacamata ini Takeru Akagawa. Dan yang berambut hitam dengan tampang sok keren ini Asano Ryuu.”

“Sa.. Salam kenal.”
Ucapku terbata bata.

Tinggi mereka hampir sama. Hanya bentuk tubuhnya yang berbeda. Takeru tinggi, dengan tubuh agak kurus, berambut pendek rapi dengan senyum manis yang sekarang merekah di wajahnya. Ryuu memiliki tubuh yang hampir sama dengan Kenji, dengan bahu yang lebar, rambut hitam berponi samping agak panjang. Bentuk wajahnya sama seperti wajah Kenji. Dan ekspresi nya sinis, agak mirip Daisuke, meskipun Daisuke masih tahu cara tersenyum.

“Kami ini teman sekelasmu. Seharusnya kau ingat itu.”
Celetuk Ryuu dingin.

“Asano bodoh, tidak mungkin dia ingat. Dia siswi baru di kelas kita. Tidak semudah itu mengingat semua siswa dikelas bukan?”
Ucap Kenji ketus sambil menepuk bahu Ryuu.

“Kau yang bodoh Yamada, ini sudah dua hari dia duduk dikelas, tidak mungkin dia tidak memperhatikan sekeliling.”
Jawab Ryuu sinis.

Tentu saja aku tidak ingat.
Aku bahkan belum berani memperhatikan segala hal yang ada di kelasku.

“Kalian berdua, sudahlah. Bukannya kita ingin mengakrabkan diri dengan gadis ini? Mengapa kalian malah berdebat?”
Takeru melerai keduanya, sesekali menoleh padaku dan mengembalikan pandangannya lagi ke Kenji dan Ryuu.

Aku terkejut mendengar ucapan Takeru. Aku tidak menyangka.

“Itu kemauan kalian, bukan aku.”
Ryuu membuang muka, tidak melihatku sama sekali.
Aku agak shock mendengarnya.

Tiba – tiba Kenji duduk disebelahku dan menyambar udang milikku. Takeru duduk didepan Kenji dan mengeluarkan keju yang dia bawa di kantongnya. Sedangkan Ryuu..
“Aku mau ke toilet dulu.”
Ucapnya sambil lalu.

“Yasudah, pergilah. Jangan kembali lagi!”
Kenji dan Takeru tertawa.

“Omong – omong, Vivi-chan. Aku ingin bertanya. Mengapa Bahasa Jepangmu bagus sekali? Dan darimana kau mempelajarinya? Ada yang mengajarimu atau semacamnya?”
Tanya Kenji dengan wajah berseri seri.

“Aku mempelajarinya di sebuah perpustakaan sejak usia ku 8 tahun, Yamada-kun.”
Jawabku.

“Hee? Benarkah?”
Mereka bertanya bersamaan.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
“Dulu sekali Jepang pernah menjajah negara ku. Kakek ku adalah salah satu dari sekian masyarakat Indonesia yang ikut serta melawan Jepang kala itu. Dia mengatakan padaku bahwa Jepang adalah negara berisi orang – orang yang kejam dan menakutkan. Aku agak terkejut dengan itu. Dan mendengar cerita kakekku tentang Jepang membuatku ingin mengenal negara ini. Pelan – pelan aku mempelajari bahasa kalian dan sejarah nya di perpustakaan sekolah. Dan lama – lama aku mengenal dan menguasai bahasa ini.”

Mereka diam dan terlihat bingung dengan ceritaku.

“Apa ada yang salah?”
Tanyaku.

“Bukan. Hanya saja, itu tadi terdengar menarik. Aku terkejut. Kau bisa setenang ini menceritakannya. Pikirku, bukankah pastinya kakekmu bercerita tentang penjajahan Jepang dengan segala detil yang dia ingat? Bahkan dia bilang orang Jepang kejam dan menakutkan. Kalau begitu, kau bisa membayangkan betapa mengerikannya zaman itu. Ya ‘kan?”

“Hmm. Sebenarnya aku sempat berpikir bahwa aku aneh, tapi aku tahu aku tidak bodoh. Mengapa aku bisa menyukai negara yang pernah menghancurkan bangsa ku dan merenggut kebebasannya. Namun itu semua sudah berlalu, buat apa mengingat keburukkan dari masa lalu padahal kita bisa memetik kebaikan dari itu? Lagipula, manusia tidak ada yang sempurna, orang Indonesia tidak ada yang sempurna, orang Jepang tidak ada yang sempurna, maupun Cina, Thailand, Australia, atau negara apapun di dunia. Kita semua memiliki kekurangan masing – masing, namun kita bisa saling melengkapi. Aku yakin, Jepang tidak seburuk itu.”
Aku tersenyum.

Aku bisa lihat mereka tertegun beberapa saat. Lalu pelan – pelan ekspresi mereka kembali normal.

“Ajarkan aku bahasamu, Vivi!”

“Eh? Kau tidak menggunakan ‘Chan‘, Yamada?”
Tanya Takeru.

“Diam, Akagawa. Aku baru saja memintanya mengajariku bahasa nya. Karena itu aku menyingkirkan ‘Chan‘ dari namanya.”
Jawab Kenji serius.

Aku tertawa pelan.
“Dengan senang hati aku akan mengajarimu, Yamada-kun.”

 

akan berlanjut ~

 

 

 

Image source : http://fc04.deviantart.net/fs37/f/2008/241/6/5/Autumn_Tree_by_Angela_T.jpg

Free Linkin Park Song: “Complimentary” by Mike Shinoda for Stagelight

Originally posted on Mike Shinoda's Blog:

With Stagelight now out for Windows, a number of you guys are checking it out. This week, I wanted to do something special for all our early adopters who are helping us spread the word: I made you guys a song.

This session can be downloaded and opened in Stagelight on Windows 7 or 8. It’s not an audio file and doesn’t contain any audio so (for now) only Stagelight users get to hear it.

For those of you who haven’t checked it out yet: Stagelight is a new music-making program designed by Open Labs and me. It’s the result of years of testing on stage and in the studio. With it, anyone at any level can make a great song in as little as a few minutes. It’s powerful and it’s simple, and you can buy it for only $10 HERE.

Again, thank you for being the first…

View original 24 more words

Kendrick Lamar, SKisM, More Good Art At Lazarides

Originally posted on Mike Shinoda's Blog:

Here’s a quick little barrage of stuff I’ve been into lately.  First, a shout out to everyone affected by hurricane Sandy–Music for Relief is partnering with International Medical Corps to support mobile medical units in Haiti and Save the Children to support Child Friendly Spaces in the U.S.  Donate here.

Moving on; I wasn’t going to blog about any of the following things individually, but as they added up, I thought I’d share them with you, in case you missed some or all of them.

 

Thanks to my buddy Tal for sending me this link.  A great clip for all the experts and haters on the internet.  Video / song by SKisM.

 


Kendrick Lamar’s “good kid m.A.A.d city” album just came out, and I’ve got it on repeat.  With that said, this track was just made and released (not on the album), reportedly as a celebration that…

View original 80 more words

Appearance of a Chocolate

“Ishh, coba tuh liat!!”

“Apa?” Tanyaku kepada Michael, teman kampusku yang duduk di kursi penumpang di mobilku.

“Tuh, polisi – polisi mata duitan! Kerjanya nangkepin maling tapi mereka sendiri maling, maling bangsanya sendiri, kok ga malu sih!” Jawab Michael sembari menunjuk ke ujung kanan jalan raya di tengah kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah ini.

Terdapat dua orang polisi yang terlihat berdiri berdampingan dan seperti menginterogasi salah satu pengguna motor yang sedang melintas, ternyata Michael melihat salah satu dari mereka menerima uang kertas berwarna biru yang diselipkan dalam -sepertinya- STNK si pengguna motor tersebut.

“Ohh, itu.. Biru? Lima puluh ribu ya?”

“Iya, malu-maluin kan, Rob??” Tanyanya kesal.

“Ya malu-maluin sih, tapi kenapa jadi lo yang kesel gitu sih, Mike?” Ucapku sambil tertawa pelan.

“Eh, ga usah ngetawain gue, lo liat polisi-polisi di indonesia, semuanya ga ada yang beres, gimana mau hidup nyaman kalo penegak hukumnya aja pada serampangan??” Jawabnya.

Aku menancap gas pelan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijaunya, dan mulai berkendara kembali menyusuri jalanan jakarta menuju tempat tujuan kami.

“Semuanya? Bener-bener semuanya tuh?”

“Kurang jelas? semua polisi di indonesia itu ga bener! S-E-M-U-A.” Ucap Mike lagi sambil mengeja dan mempertegas ucapannya.

“Kayanya enggak deh..” Jawabku.

“Enggak dari mana? Hampir semua polisi yang gue temuin itu tukang palak!”

“Nah, tuh lo bilang hampir semua, berarti bukan semuanya dong?”

“Err, iya yaah?”

“Nih, gue kasih tau lo sesuatu.”

“Apaan? Mau nyeramahin gue? Mau nguliahin gue lagi? Ahhhh bosen! Lo itu udah keseringan banget nyeramahin gue Rob, udah kaya pak Umar aja. Dikit-dikit nyeramahin, dikit-dikit ngomentarin tingkah laku gue, dikit-dikit nyegat gue di koridor kelas cuma buat komplain bentuk rambut gue, padahal kan sekolah itu bebas, ga ada aturan rambut mesti gimana buat anak cowok.’Mike, kamu itu harus begini, harus begitu, ga boleh begini, ga boleh begitu, saya ajarin ya, saya kasih tau ya, saya contohin nih.’ Halaaaaah, ampe budeg kuping gue dengerin dia doang.”

Ucap Mike sembari menghela napas dan memainkan iPhone nya. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Mike yang selalu bertingkah semaunya. Pak Umar adalah guru Sosiologi kami ketika di SMA dulu. Satu-satu nya guru di sekolah yang berani menyeramahi Mike, anak pemilik yayasan.

“Ck, dengerin gue dulu, belum juga selesai udah di potong aja.”

“Abisnya sih, kebiasaan, bosen gue.”

“Lo pernah beli cokelat ngga?”

“Haahh??” Tanya Mike bingung sambil mengangkat alis dan memberikan pandangan idiotnya.

“Pernah engga?” Sambung ku lagi.

“Ya pernah, kan lo yang nemenin gue beli cokelat buat si Anna bulan lalu.. Masa lupa sih, pikun banget.”

“Intinya pernah kan? Seberapa sering?”

“Ya ga sering banget sih, mang kenape?”

“Belinya satuan, batangan, bungkusan isi lima, setengah bentuk?”

“Mana ada cokelat setengah bentuk, tolol banget lu. Idiot.” Jawab Mike sinis.

“Ya intinya pernah deh. Lo inget ga waktu lo gue temenin beli cokelat di toko kue depan studio musik si David di kelapa gading?”

“Cokelat yang ternyata pas dibuka disemutin ya? Inget lah, ga akan bisa lupa.”

“Nah, itu kan isinya ada lima buah tuh, tapi empatnya tetep lo makan karena bersih dari semut kan?”

“Dua doang yang gue makan dodol, satunya kan gue kasih Joe, terus satunya dimakan Chester.”

“Yailah, intinya dimakan empat tapi satu lo makan seperempat karena ternyata ada semut dalemnya.”

“Iyaaa, gila sumpah, gue ga merhatiin isinya, gue langsung gigit ga tau nya yang gue gigit itu rombongan semut. Jijik banget gue.”

“Sukurin. Selebor si lu.”

“Jadi intinya apaan nih lo nanya – nanya begini?” Tanya Mike bingung.

“Dalam satu bungkusan ada lima buah cokelat, tapi ternyata ada satu cokelat yang disemutin, tapi empatnya tetep dimakan. Kenapa coba?”

“Ih, tolol ye, yang ada semutnya kan cuma satu, Rob. Gimana sih.”

“Nah itu, tapi kan cokelat bermasalah ini letaknya barengan sama ke empat cokelat yang lain dalam satu tempat. Kok yakin banget makan sisanya?”

“Kan sebelum dimakan diperiksa dulu ada semutnya apa engga, Rob..”

“Meriksanya gimana? Lo bukain gitu?”

“Gue belah gitu, gue liatin semua sisinya, Chester sama Joe juga ngebantuin kok. Hasilnya negatif, ga ada semut.”

“Halah negatif, gaya banget bahasa lu.”

“Ya pokoknya yang empat BERSIH, no ants.”

“Terus si cokelat bermasalah ini lo buang dong?”

“Iyalaaaah cintaaaa gue buaaang masa iya gue makaaaan. Udah disarangin semut, dasar blo’ooooooon.”

“Iya gausah gitu juga ngomongnya kaliiiii…”

“Terus maksud pertanyaan lo soal si cokelat ini apa?” Tanya Mike lagi.

“Nih, kita buat cerita si cokelat ini sebagai perumpamaan antara polisi dan warga.”

“Hah? Maksud lo?”

“Kelima buah cokelat ini si polisi-polisi, pembeli cokelat ini adalah kita, warga.”

“Yaa terus?”

“Kaya yang lo bilang ke gue tadi, sebelum lo makan, lo cek dulu isinya, ada semut atau ga, bahkan si Chester ama Joe juga ngebantuin. Setelah lo belah and lo liat isinya, ternyata hasilnya negatif, ga ada semut, cokelat – cokelat itu bersih, dan bisa lo makan dengan tenang. Ya kan?”

“Iye, terus?”

“Masih ga ngerti?”

“Kaga.”

“Tolol.”

“Bodo.”

“Mikir dong Mikeeeee hadoooooh!! Lo itu leader genk kita masa blo’on banget siiiih. Ketololan lo itu lebih parah dari pada monyet jawa peliharaan si vanessa tau gak?!”

“Jangan samakan gue sama monyet cewe sialan itu! Ngerti ga lo?!”

“Dasar lo monyet cirebon.” Ucapku sambil menghela nafas dan menenangkan diri.

“Sekali lagi lo nyebut-nyebut nama tu perempuan sinting, gue mutilasi and gue potong-potong lo terus gue jual ke pasar kaget buat jadi makanan onta arab!” Teriak Mike sambil menunjuk – nunjuk jarinya ke mukaku.

“Kaya pernah ke pasar aja lu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu itu gue duduk di mobil sih, ga berani turun. Hehe.” Jawab Mike tertawa lugu.

“Yaudah lanjut.” Sambung ku sambil menghela nafas lagi.

‘Tuhaaaan, beriku kesabaran lebih untuk menghadapi monyet cirebon ini Tuhaaan.’ Ucapku dalam hati.

“Cus lanjut.”

“Tadi sampe mana?”

“Sampe onta arab.”

“Itu elu yang ngomong dodol, tadi pembicaraan gue sampe dimana?”

“Rob, masih muda kok udah pikun sih?” Ucap Mike sambil mengangkat alis dan membentuk huruf S di bibirnya.

“Oh iya, cokelat kan. Cokelatnya dimana tadi yak?” Tanya ku sambil tertawa pelan.

“Sampe dimakan dengan tenang..” Sambung Mike.

“Dan istirahat dalam damai.” Ucapku melanjutkan.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.. Eh, kok begini?” Lagi-lagi Mike memberikan pandangan idiotnya sambil memutar bola mata dan menatap sesuatu yang tidak ada sambil meletakkan telunjuk di keningnya.

“INI NGAPA BEGINI YAK?!”

“Lah yang mulai ngomong ‘istirahat dalam damai’ kan elo, bego!!” Teriak Mike histeris.

“Eh iya maap masbro.” Ucapku sambil memberikan pandangan melas.

“Cus lanjut.”

“Bahasa lu kaya lekong salon, Mike.” Sambung ku geli.

“Lagi belajar cin.” Ucap Mike tertawa.

“Jadi gini, sebelum lo makan tu cokelat, lo periksa dulu sisanya karena lo nemuin satu cokelat yang ‘cacat’ kan?”

“Iya. Terus?”

“Kalo gue yang jadi lo, gue ga akan mau makan sisanya.”

“Loh emang kenapa? Kan cuma satu yang cacat? Sisanya kan bersih.”

“Nah itu, karena dalam satu tempat itu ada satu cokelat yang cacat, makanya sisanya ga akan gue makan karena gue pikir sisanya cacat juga.”

“Kan ga akan tau sebelum di periksa Rob, satu mungkin cacat, bukan berarti sisa kawannya cacat juga, hanya karena mereka ada ditempat yang sama.”

“Lo nyadar ga barusan ngomong apa?”
Ucapku tertawa puas.

“Eh…” Ucap Mike bingung.

“Nah, anggep tu coklat sebagai polisi-polisi disini!!” Aku tertawa lagi.

“Ah, kampret. Bukan cuma buat polisi, tapi semua orang, yang organisasi, satuan, tim nya udah di cap jelek. Itu yang jangan dipikir semuanya pasti buruk gara-gara satu orang kan?”

“Pinter Mike. That’s what I’m talking about.”
Ucapku tersenyum puas.

Kamu.

Aku terbangun dari tidur lelap ku, meregangkan otot – otot ku sambil menguap pelan. Kulirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4.15 pagi. Aku berjalan menuju dapur, mencari – cari jika ada makanan yang bisa kusantap. Oh, lauk yang terakhir disajikan masih ada di tempat semula ketika terakhir aku memakannya. Kuhabiskan.

Berdiri mematung di depan jendela, aku memperhatikan ruas jalan sekitar yang masih terlihat sunyi, hanya beberapa orang terlihat membersihkan salju yang menumpuk di depan rumah dan di mobil – mobil mereka. dingin.

Kau berjalan menghampiriku dan  menyapaku, sambil menyentuh dahiku, kau menanyakan kabarku di hari ini.
“aku baik-baik saja.
Ucapku dalam hati.
Kau hanya tersenyum.

==

Sekitar pukul 7.15 kau melambaikan tangan ketika hendak menuju pintu keluar, seperti biasa, hari-hari sibuk mu kembali dimulai. Kau berjalan menuju pagar, dan tidak pernah menoleh lagi. Aku hanya berdiri tegak menatap sosokmu dari balik jendela.
“kuharap kau tidak kedinginan.”
Ucapku dalam hati.

Aku kesepian.

Aku berjalan lagi, menuju tempat tidur yang biasa kau tiduri, aku bersembunyi dibalik selimutmu. Hangat.
aku merindukan pelukanmu.

Sudah sekian lama sejak terakhir kali kau memelukku yang melingkar kedinginan di dalam selimut di sofa. Aku gemetar, kau menghampiriku, kau belai lembut kepalaku, lalu kau peluk erat diriku.
“sudah lebih baik?”
Dan aku pun terlelap.

 

Kau pulang kerumah, tepat pukul 10.30 malam. Sangat terlambat dari biasanya. Dan lagi-lagi kau lupa menyapaku. Akupun menghampirimu, dan kau baru menyadari kehadiranku.
“maaf aku terlambat pulang, aku habis membeli  sesuatu yang spesial hari ini.”
Ucapmu tersenyum.

Aku hanya diam.
Kau menatapku.
“aku lelah, kau sudah makan?”
Tanya mu pelan.
Aku lapar.

Dan aku pun berjalan menuju dapur, meraih piring yang biasa ku gunakan untuk makan.
Kau mengikuti di belakangku, baru kau ambilkan makanan untukku, kau suapi aku.
Terima kasih.

==

Hari ini hari sabtu, namun kau bangun lebih awal, aku masih memperhatikan dirimu yang sedang sibuk merapikan perabotan dan dilanjutkan dengan memasak. Sekarang masih pukul 10.38 pagi, namun kau sudah sesibuk ini. Terlalu sibuk, hingga lupa dengan aku.
Ada apa di hari sabtu?
Tanyaku dalam hati.

Hey, setidaknya bisakah kau sapa aku?
Pintaku pelan. Namun kau tidak peka.

Jam menunjukkan pukul 11.52, bel berbunyi, kau bergegas berjalan menuju pintu dan dengan sangat sopan menyambut seorang wanita untuk masuk ke dalam rumah, rumah kita.
Siapa dia?

Kau mempersilahkan dia duduk di sofa lembut yang biasa kutempati.
Sambil memberinya minuman hangat dan kau ajak dia berbincang-bincang.
Sesekali kau melirik jam di tangan kirimu, dan kembali memandang dia, tersenyum.

Hey, senyummu itu hanya milikku.
Aku diam.

Jam menunjukkan pukul 6.20, kau mengajak dia menuju ruang makan.
Kau sajikan masakan buatanmu yang sudah kau buat siang tadi.
Kalian makan berdua, tanpa menyadari kehadiranku.
“aku disini..”

Bisakah kau lihat aku?
Bolehkah aku bergabung dan menyantap makan malam bersama kalian?
Aku lapar.

“hey, aku disini..”
Tidak kusangka kau bisa melupakan ku begitu mudahnya.
Aku merindukan masa-masa dulu, dimana pertama kali aku bertemu dengan dirimu, aku suka saat kau membelai lembut kepalaku, aku merasa nyaman.

Kau suka mengecup dahiku, setiap kau hendak berangkat kerja, dan ketika kau pulang kerumah, kau tidak pernah sekalipun lupa untuk mengecup dan membelai kepalaku.
Kau juga tidak pernah lupa untuk membelikanku makanan.
Aku merindukan kecupan lembut mu.

Lamunan ku buyar ketika aku melihat dirimu mengeluarkan sebuah kotak kecil cantik berwarna maroon dari saku, tatapanmu berubah menjadi lebih tajam, nafasmu berat, kau berkeringat di udara sedingin ini, kau gugup.
Kalian berdua saling terdiam selama beberapa detik.

Aku tetap memperhatikan. Hatiku sakit.

Kupikir hanya aku gadis-mu satu-satunya, namun ternyata masih ada seorang gadis lagi yang jauh lebih penting dibanding aku.

Tidak, kami berdua tidak bisa dibandingkan.

Dia manusia, aku hanya seekor kucing biasa.

Pemilik Senyuman.

Pagi,
bunga – bunga tetap segar setelah hujan melintas sepanjang malam.
bahkan mereka tampak jauh lebih cantik dibanding hari kemarin.
dedaunan membiarkan tetesan air menari – nari riang.
bagai peri hutan yang berpesta setelah kawan mereka datang, yaitu hujan.

Aku terduduk diam termangu menatap teman – temanku yang sedang asyik berburu. Canda, tawa, suka dan duka. Semua menyatu.
Sampai kuputuskan untuk pergi berburu sendiri, tanpa satupun menyadari kepergianku.
Satu blok, dua blok, tiga, empat, lima,…. sembilan blok sudah kuarungi. Bunga – bunga tetap berdiri tegak. Tidak satupun merasa terganggu akan kedatanganku. Angin bertiup, satu dua kelopak bunga terjatuh. Pohon nan rindang dengan daun yang lebat. Satu batu tertidur dibawah pohon terkecil di antara pohon – pohon yang lainnya.
Aku mengelana kembali.
Kali ini dituntun rasa penasaran, aku memasuki tempat asing, yang tidak pernah kulihat, tidak pernah kusinggahi, tidak pernah ku jamah.
Aku berhenti, mengistirahatkan diri.
Disanalah aku melihatmu untuk pertama kalinya.
Bermain dengan sebuah kotak bersinar – sinar. Rambut coklat yang gondrong hingga menutupi kacamata yang kau kenakan. Senyum tersungging di wajahmu tanda suasana hatimu sedang riang.
Aku menatapmu, dari luar jendela tempat kau menghabiskan waktu.
Aku mendekatimu, namun kau tidak menyadari kedatanganku.
Kau tetap sibuk dengan pekerjaanmu. Sambil sesekali meminum kopi yang ada di meja kerjamu.
Aku menatapmu lama, berharap kau mampu menatapku, aku tetap berada di tempat aku semula mendekatimu. Namun kamu tetap tak menyadari aku yang sedang asyik memperhatikanmu.
Aku tersenyum.
Aku pun pulang.

Pagi,
matahari tersenyum riang menandakan hari baru telah dimulai kembali.
Sekelompok anak – anak bermain gembira dengan sebaris bunga.
dedaunan menari berirama dengan desiran angin.
aku kembali mengelana menuju tempat yang masih tercetak pekat di otakku.

Satu dua blok, akhirnya aku pun sampai.
Aku mendatangimu lewat jendela dekat meja kerjamu,
Aku menemukan dirimu.

Terlihat sama seperti hari sebelumnya.

Kacamata, rambut coklat, dan papan ketik.

Aku kembali menatapmu, dan kembali mendekatimu.
Beberapa menit terlewat, kau tetap tidak menyadari adanya aku yang sedang menatapmu.
Aku berusaha membuat suara bising, agar kau memperhatikanku.
Tampan, lihat aku disini..

Tiba – tiba, plung!
Aku terjatuh kedalam cangkir kopimu,
Sambil berusaha naik ke permukaan air,
Aku berhasil, aku tidak tenggelam,
Namun sayap rapuh ku telah basah,
Aku tidak bisa keluar dari cangkir ini,
Aku mulai putus asa dalam nafas ku,
Berharap kau menoleh ke cangkirmu dan menemukan aku yang sedang berjuang.
Aku mati?

Tidak.
Sinar matahari tersirat dari jendela, menyinari tangan jernihmu, di tengah kesadaranku yang menipis, aku melihat wajahmu, untuk pertama kalinya, menatap diriku.
Kau meletakkan diriku yang lemah diatas kain lembut tipis berwarna putih, pelan – pelan kau usap sayapku, wajahmu terlihat khawatir, sesekali kau menyapa aku dan memanggilku.
“kau baik – baik saja?”

Aku berdiri, mengeringkan diri, sambil terus memperhatikanmu.
Kau tersenyum padaku.
Sambil terus menasehatiku dan terus memperhatikan ku.
“jangan dekati cangkirku lagi, untung saja airnya sudah dingin, kalau panas, bisa lebih bahaya.”
Itu ucapmu. Tersenyum.
Kau salah, ‘kalau tidak ada dirimu yang menyadari aku terjatuh, aku mungkin sudah mati…”
Kau angkat diriku, kau letakkan kembali di pinggir jendela dengan sangat lembut, sambil tersenyum, kau berkata lagi,
“hati – hati, sampai bertemu lagi lebah kecil..”

Seperti inikah rasanya berjuang meraih apa yang kita inginkan?
Aku terbang, aku bahagia.

Pagi,
Hari ini tidak secerah kemarin,
Langit begitu gelap,
Udara terasa dingin hingga sayapku terasa kaku,
Bunga – bunga tertunduk lemas,
Namun itu semua tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan penyelamat jiwaku.

Seperti biasa angin menuntunku.
Aku terbang dengan riang, sambil membayangkan reaksimu jika bertemu lagi dengan diriku.
Apakah kamu akan tersenyum seperti kemarin?
Sudikah kau menyentuh sayap ku lagi?

Aku tersenyum.
Aku mengintip melalui jendela, berharap kau ada disana, duduk asyik di depan kotak berwarna mu.
Kau tersenyum menyadari keberadaan ku.
Kau bangkit dari dudukmu, kau dekati aku.
Kau sama sekali tidak merasa takut akan aku,
Aku seekor lebah, dan kau manusia.
Namun sepertinya itu tidak penting buatmu.
“kita sudah berteman sekarang, ya?”
Ucapmu menyapaku, masih dengan senyuman khas yang menghangatkan hatiku.

Aku tertawa, namun sepertinya kau tidak menyadari tawaku.
Aku mendekati cangkirmu, hinggap di gagangnya, namun kau menangkapku,
“berbahaya.”
Ucapmu tersenyum sembari mengangkatku dan meletakkan ku dekat, dekat sekali dengan dirimu.
Aku bahagia, kau membiarkan ku duduk di pundakmu, menatap dirimu bermain dengan kotak warna itu.
Kau tersenyum, tetap melanjutkan pekerjaanmu, sambil sesekali menyapaku.
Aku melipat kakiku, bersandar di pundakmu.
Aku bahagia.

Semua tidak terasa menyenangkan lagi saat kau tiba – tiba berdiri dalam hentakan nafasmu, ketika seorang wanita memasuki ruang kerjamu.
Aku terjatuh.

Cangkir ini tidak begitu terisi penuh, aku bisa saja berusaha meraih ujung cangkirnya, namun aku melihatmu, bercengkrama dengan wanita itu.
Kau bahkan memeluknya, hal yang tidak akan pernah bisa aku rasakan darimu.
Kau lupa akan keberadaanku. Kau tidak menoleh sedikitpun.
Wajahmu dihiasi dengan senyuman yang bahkan lebih indah dari saat pertama aku melihatnya.
Namun senyuman itu bukan milikku.

Aku hanya seekor lebah, dan kau manusia.

Disaat – saat terakhir, kau akhirnya menoleh,
Kau meraih diriku, mengeluarkanku dari cangkir putih itu.
Sayapku rusak, aku tidak indah lagi tanpa sepasang teman bepergianku.
aku lemah.

Tidak pernah kusangka, kau menangisi keadaan ku.
Namun aku tersenyum melihatmu.
Aku sudah pernah mendapat senyummu.
Dan sekarang aku mendapat tangisanmu.

Tapi pada akhirnya, aku bukanlah apa – apa.
Berbahagialah, pemilik senyuman indah.

Aku hanyalah seekor lebah, dan kau manusia.
Aku bahagia.