Wishes

Image

 

 

 

Mimpi?
Apa sebenarnya mimpi itu? Apa sebenarnya yang menjadikan mimpi menjadi nyata dalam pikiran kita? Apakah kenyataan yang membuat segala hal menjadi runyam, berbaur menjadi satu, mengumpulkan segala hal di satu titik dan akhirnya menghasilkan mimpi?

Imajinasi?
Hanya sebuah layar datar, bukan, 3 dimensi? Manusia dengan bebas menciptakan sesuatu, mengumpulkan segalanya di dalam bayangan ketika mereka memejamkan mata, menjadikan hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, menjadi seperti tiada akhir dalam Imajinasi mereka? Mereka menciptakan segalanya, membuyarkan dan menghancurkan kenyataan. Mengalahkan kenyataan dan kepahitan dengan, imajinasi?

Impian?
Apa bedanya dengan mimpi? Hal yang sama bukan? Ataukah lebih kuat dan lebih nyata daripada mimpi? Atau imajinasi? Seringkali orang mengejar mimpi – mimpi mereka yang tak kunjung datang, mereka tak berbeda dengan impian yang terkubur dalam diri mereka sendiri.

Kenyataan akan berubah, keajaiban akan datang, kepada yang percaya dengan impian dan harapan mereka.
Semua berawal dari hal yang sangat sederhana.
Imajinasi, mimpi, atau impian.
Seperti anak kecil tak berdosa yang senang berimajinasi. Membayangkan dunia dipenuhi dengan hal – hal baru. Siapa yang sangka, hal itu akan merubah hidup mereka kelak?

Vivi, adalah satu dari sekian banyak manusia yang berhasil merealisasikan salah satu impiannya.

Gadis berusia 16 tahun ini adalah murid beasiswa yang akan memulai pendidikannya di salah satu sekolah yang ada di Kyoto, Jepang.

Dia dipindah dari negara asalnya baru baru ini. Menempati rumah orang tua asuhnya untuk beberapa tahun ke depan.

Vivi hanya memiliki Ibu dan seorang kakak laki laki yang kini tengah bekerja membantu Ibu mereka. Ayah mereka wafat akibat mengidap penyakit mematikan 2 tahun lalu dan Ibu Vivi saat itu tidak memiliki biaya untuk membiayai sang Suami berobat.

Ibu Vivi tetap tinggal di negaranya. Sesaat sebelum melepas kepergian anak bungsunya, Ibu Vivi berpesan agar selalu mengiriminya surat seiring dengan perkembangan Vivi tinggal di Jepang.

“Kamu dapat beasiswa?? Sekolah di Jepang?? Apa benar??” ini adalah kata kata pertama yang diucapkan Ibu Vivi saat anaknya menyampaikan kabar bahwa dia terpilih untuk menjadi siswi yang akan di kirim ke Jepang. Awalnya sang Ibu berpikir bahwa anaknya mengada ada, namun setelah Vivi memperlihatkan surat yang dia terima dari salah satu lembaga tempat Vivi mengikuti tes, Ibu nya nyaris tidak bisa berkata. Hanya menangis, menangis haru.

“Tapi, apa kamu benar – benar bisa kesana? Pasti membutuhkan biaya yang besar, untuk makan, tempat tinggal, dan biaya sehari hari, juga tiket pesawat! Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Vivi?”
Ucap sang Ibu lirih.

“Ibu tenang saja, itu semua sudah diatur oleh mereka, semuanya! Kita hanya terima beres bu. Aku bisa ke Jepang. Akhirnya Bu, aku bisa bersekolah disana!! Tapi.. Apa Ibu akan baik – baik saja?”

“Kamu anak yang baik, kamu layak mendapatkan ini. Ayahmu pasti bangga. Ibu akan baik – baik saja. Toh kakakmu disini bersama Ibu. Hanya ingatlah, terus kabari Ibu perkembanganmu disana, tulislah surat, atau apapun.”
Ibu tersenyum.

“Tentu Bu, tentu.”

 

“Ibu sangat bangga padamu.”

ucap Ibu nya lagi, memeluk erat putrinya.

Malam itu tidak ada lagi hal yang bisa memecahkan kebahagiaan Vivi. Melihat kebanggaan yang terpancar dari wajah sang Ibu, dan kebahagiaan yang dia raih berkat kerja kerasnya. 

——–

 

Gomennasaiano, boleh aku bertanya? Dimana kelas 1-3?”

Tiga siswi itu tertawa melihatku, tersenyum mengejek dan terlihat merendahkanku. Satu dari mereka lebih tinggi dari dua lainnya, bermata besar, berambut hitam kuncir kuda. Satu yang agak gemuk terlihat manis, memakai pita lucu di sebelah kanan rambutnya. Dan satunya lagi kurus, tingginya sama dengan yang gemuk, berambut panjang sebahu, berponi dan cantik. Awalnya kupikir mereka ramah dan akan membantuku. Namun bukan menjawab pertanyaan ku, mereka berlalu dan meninggalkan ku sendiri di lorong kelas yang panjang ini.

Seorang guru menghampiriku, dia tinggi, kira – kira sebaya dengan Ibu ku. Berwajah bulat dan berambut cepak. Dia bertanya mengapa aku masih berdiri disini padahal bel sudah berbunyi beberapa menit lalu.
“A..aku tidak tahu dimana kelasku..aku murid baru disini.”

Setelah memberitahunya, dia mengantarku ke kelas. Barulah ku tahu bahwa dia adalah wali kelasku disini.

“Saya mendapat murid baru, dan kalian kedatangan teman baru, mungkin tukang kebun kita juga mendapat tugas baru dengan ada nya dia disini.”
Sontak murid – murid tertawa, aku tidak mengerti apakah guru itu hanya bercanda atau memang dia benar – benar bermaksud seperti itu.

“Saya Makoto Taneda, wali kelasmu. Dan ini adalah teman – teman baru mu. Sekarang perkenalkan dirimu.”

Dengan gugup dan gemetar. Aku memberanikan diri dan berusaha tenang. Ada kekhawatiran muncul di benak ku. ‘Apakah mereka akan menyukaiku? Ataukah akan memusuhiku? Bagaimana jika mereka membenciku dan menjauhiku lalu mengucilkanku?’
Aku menepis pikiran itu. Menarik nafas dalam – dalam dan menegakkan badan.

“Aku Vivi, murid transfer dari Indonesia. Ku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Yoroshiku onegaishimasu.”
Aku membungkukkan badan.
Sayup – sayup terdengar suara tawa.
‘Mereka pasti mengejekku.’ Pikirku.

“Indonesia? Negeri antah berantah ya? Tidak pernah dengar.” Salah satu siswa berkata. Disusul oleh tawa seisi kelas yang bergemuruh sampai ke hatiku.

“Ibu.. Mereka tidak menyukaiku..”
Ucapku dalam hati.

————

Hari ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Pelajarannya terasa lebih sulit. Orang – orangnya dingin. Aku belum bisa akrab dengan siapapun. Dan yang lebih menyedihkan, teman sebangkuku tidak menyapaku sama sekali. Seperti tidak menganggapku ada.

Bel istirahat berbunyi, aku menuju kantin seorang diri. Berjalan pelan setenang mungkin.

Segerombolan siswi berjalan mendahuluiku. Ada sesuatu yang jatuh.
Aku berjalan cepat menghampiri mereka.

“Maaf, kurasa ini milikmu.”
Ucapku sambil mengulurkan tangan.

“Terimakasih.”
Salah satunya berterimakasih sembari mengambil benda miliknya dari tanganku.

“Ah, itu salah satu siswi di kelasku.”
Gumamku mengingat.

Setelah membeli roti dan susu. Aku melangkah ke salah satu kursi di kantin. Duduk disana ditemani 5 kursi kosong dengan meja yang agak panjang.

“Kau menempati kursi ku.”
Seseorang berkata kepadaku. Ketika aku menoleh, kulihat 6 siswi yang tidak asing. Dari kelasku lagi.

“Maaf.”
Ucapku pelan.

“Cari meja lain. Ini milik kami.”
Salah satunya berkata sinis.

Aku beranjak, bukan untuk mencari kursi lainnya, aku melangkah cepat menuju kelas ku.
Kuputuskan untuk makan disini.

—————-

 

“Aku pulang.”

“Selamat datang. Lesu sekali Vivi-chan? Bagaimana sekolahmu?”
Seseorang menyapa dari dapur.

Wanita cantik ini adalah Tomoko Arashi, yang mana merupakan istri Paman Daichirou Arashi, keluarga asuh ku selama aku tinggal di Jepang. Aku bersyukur, Bibi dan Paman Arashi sangat ramah dan mau menerima ku.

“Hari pertama ku berjalan baik sekali, terima kasih Bibi.”

“Tidak adakah yang mengusilimu?”
Seseorang bertanya.

Aku menoleh. Daisuke disana, menatapku sinis dari balik meja makan. Anak satu – satu nya keluarga Arashi. Laki – laki yang terlihat tampan ini sebaya denganku dan tidak ramah padaku. Sejak aku datang kesini, dia menghindari ku. Baru sekarang dia benar – benar menanyakanku.

“Tidak ada.”
Aku menelan ludah.

“Tidak seru. Harusnya banyak yang menjahilimu. Kau kan orang aneh. Orang asing.”
Ucapnya sinis.

“Daisuke..”

“Ah, aku ada tugas rumah. Permisi Bibi, aku akan keatas dan mengerjakannya.”
Aku memotong ucapan Bibi Arashi, aku tidak mau melihat Daisuke membantah Ibu nya karena aku.

“Jangan lupa makan malam nanti ya Vivi-chan.”
Bibi tersenyum lembut.

Aku mengangguk pelan.
Aku melangkah ke tangga menuju kamarku. Sayup – sayup aku mendengar Bibi menegur Daisuke akan sikapnya terhadapku tadi.
“Aku tidak suka dia, Bu.”

Itu agak menyakitkanku.

Aku mengeluarkan pena dan kertas, aku mulai membubuhkan tulisan yang segera ku hapus lagi dan kutulis ulang.

“Ibu, apa kabar? Ku harap Ibu dan kakak baik – baik saja disana. Aku sangat rindu pada kalian. Hari pertama ku sebagai seorang siswi di salah satu sekolah di Kyoto sangat menyenangkan. Bibi dan Paman Arashi sangat ramah, begitu pun dengan anak mereka Daisuke. Aku bersyukur bisa kesini.
Aku sangat merindukan kalian dan negaraku..”

Aku menitikkan air mata.
Aku harus kuat. Aku tidak boleh kalah akan situasi seperti ini. Aku yakin semua akan berubah, aku tidak akan menyerah. Demi Ibu dan kakakku. Aku ingin berguna untuk mereka. Menjadi anak yang berbakat, mendapat pekerjaan hebat dan memberikan tempat tinggal yang layak untuk Ibu dan kakak laki – laki ku.

————–

“Vivi, kamu benar – benar akan berangkat kesana?”

“Iya, aku ‘kan akan bersekolah disana.”

“Kamu pasti mampu.”

“Maksud kakak?”

“Kamu punya misi, Vi.”

“Misi?”

“Dan tanggung jawab besar.”

“Aku masih tidak mengerti.”

Aku terbangun dari tidur. Ingatan itu merasuki mimpiku.
Beberapa minggu sebelum aku berangkat, kakak ku Soni berbincang dan menanyakan banyak hal. Dia juga menasehati ku.

“Dengan begini secara tidak langsung kamu meninggikan harapan Ibu kita.”
Kakak ku berbicara dengan tatapan menerawang. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

Kakakku sudah berusia 23 tahun. Dia tidak pernah bersekolah. Itu dikarenakan orang tua kami yang tidak mampu membiayai sekolah anak – anaknya. Namun dia pria muda yang cukup cerdas, itu karena dia memiliki kemauan yang keras untuk belajar. Dulu ketika berumur 10 tahun, hampir setiap sore dia pergi menemui teman baiknya. Dia diajari cara mempelajari bahasa, hitung – hitungan, bahkan makhluk hidup. Itu berlangsung selama kurang lebih 6 tahun. Namun teman baiknya pindah rumah karena ayahnya direlokasikan ke kota lain.

Aku termasuk gadis yang beruntung. Berkat bantuan seorang dermawan aku bisa menempuh pendidikan di tempat yang layak. Mengikuti les dan semacamnya. Hingga akhirnya aku terpilih untuk dikirim kesini karena sebuah tes yang kuikuti berkat dorongan dermawan itu.

Kak, aku akan berusaha.

———

 

Daisuke masih saja dingin. Tadi pagi setelah sarapan dia menahan kakiku ketika aku berjalan sampai aku terantuk dinding.
Dahiku biru dan sedikit berdarah.

“Apa sudah baikan, Vivi-chan?”
Tanya Bibi cemas sambil memplester dahiku.

“Aku baik – baik saja, Bi. Maaf merepotkan.”

“Oh tidak sama sekali, ini karena Bibi terlalu memanjakan Daisuke. Maafkan Bibi dan Daisuke ya Vivi-chan.”

“Tidak apa – apa, aku mengerti. Aku berangkat dulu ya Bi.”

“Hati – hati, semoga harimu menyenangkan, Vivi-chan!”

Aku tersenyum dan melambaikan tangan begitu sampai di gerbang rumah. Dan melangkah keluar sambil bersenandung pelan.

Little boxes on the hillside, little boxes made of ticky tacky little boxes on the hillside, little boxes all the same.

There’s a green one, and a pink one, and a blue one and a yellow one…

Aku berhenti bersenandung saat melihat Daisuke yang tiba – tiba muncul disamping ku. Tatapannya sinis dengan ekspresi datar seperti yang biasa kulihat.

“Suaramu buruk sekali. Memekakkan telinga.”

“Kupikir bukan urusanmu.”

“Itu mengganggu.”

“Hanya kau yang merasa seperti itu. Lagipula tidak ada siapapun disini.”

Dia terdiam dan melangkah cepat.

“Kau yakin tidak ada yang mengusilimu di sekolah?”

“Ya.”

“Aku tidak percaya.”

“Bukan urusanmu.”

“Hey, apa kau ingat? Kau tinggal dirumahku. Kau harus menghormatiku. Bodoh.”

“Aku menghormati orang – orang yang menghargaiku.”

Aku melangkah cepat dan mendahuluinya, meninggalkan dia yang terdiam karena ucapanku.

———–

 

“Kenapa dahimu?”
Pertanyaan yang dilontarkan teman sebangku ku itu mengejutkanku. Maksudku, kemarin dia bahkan tidak menghiraukanku sama sekali. Sekarang dia menanyakanku.

“Ah, aku tersandung.”

“Bodoh sekali.”
Tawanya mengejek.

Benar, bodohnya aku. Kupikir dia mulai ramah dan ingin berteman. Ternyata tidak semudah itu.

Hari ini aku membawa bekal yang dibuatkan Bibi Arashi. Dia benar – benar perhatian dan lembut. Aku heran kenapa Daisuke sangat berbeda dengan Ibu atau Ayahnya.

Aku melangkah ke belakang sekolah. Halamannya luas, ada taman bunga yang cantik dan rerumputan yang asri.

“Kurasa disini saja.”
Gumamku.

Aku langsung duduk dan membuka bekalku. Ketika baru akan melahapnya, aku mendengar langkah – langkah yang mendekat kearahku.

Kulihat seorang siswa bertubuh tinggi, berbadan tegak, berambut coklat, dengan wajah oval dan tatapan tajam. Namun manis dan terkesan ramah.

“Oh, lihat. Oi, dia disini!”
Teriaknya.

Dua orang siswa datang menghampiri laki – laki ini. Dan langsung menatapku.

“Kenapa kau disini?”
Tanya yang berkacamata.

Aku hanya diam. Aku takut salah memberi jawaban dan malah menyudutkan ku disini.

“Hey? Aku sedang bertanya.”
Tanyanya lagi.

“Aku…”
Aku berkeringat dingin. Aku ingin pergi, tapi rasanya tubuhku kaku.

“Jangan takut. Kami tidak akan mengusilimu kok.”
Siswa pertama tadi tersenyum usil padaku.

“Namamu Vivi ‘kan?”
Tanyanya.

Aku mengangguk. Terdiam bingung. Menatapi mereka satu persatu.

“Aku Kenji Yamada. Yang berkacamata ini Takeru Akagawa. Dan yang berambut hitam dengan tampang sok keren ini Asano Ryuu.”

“Sa.. Salam kenal.”
Ucapku terbata bata.

Tinggi mereka hampir sama. Hanya bentuk tubuhnya yang berbeda. Takeru tinggi, dengan tubuh agak kurus, berambut pendek rapi dengan senyum manis yang sekarang merekah di wajahnya. Ryuu memiliki tubuh yang hampir sama dengan Kenji, dengan bahu yang lebar, rambut hitam berponi samping agak panjang. Bentuk wajahnya sama seperti wajah Kenji. Dan ekspresi nya sinis, agak mirip Daisuke, meskipun Daisuke masih tahu cara tersenyum.

“Kami ini teman sekelasmu. Seharusnya kau ingat itu.”
Celetuk Ryuu dingin.

“Asano bodoh, tidak mungkin dia ingat. Dia siswi baru di kelas kita. Tidak semudah itu mengingat semua siswa dikelas bukan?”
Ucap Kenji ketus sambil menepuk bahu Ryuu.

“Kau yang bodoh Yamada, ini sudah dua hari dia duduk dikelas, tidak mungkin dia tidak memperhatikan sekeliling.”
Jawab Ryuu sinis.

Tentu saja aku tidak ingat.
Aku bahkan belum berani memperhatikan segala hal yang ada di kelasku.

“Kalian berdua, sudahlah. Bukannya kita ingin mengakrabkan diri dengan gadis ini? Mengapa kalian malah berdebat?”
Takeru melerai keduanya, sesekali menoleh padaku dan mengembalikan pandangannya lagi ke Kenji dan Ryuu.

Aku terkejut mendengar ucapan Takeru. Aku tidak menyangka.

“Itu kemauan kalian, bukan aku.”
Ryuu membuang muka, tidak melihatku sama sekali.
Aku agak shock mendengarnya.

Tiba – tiba Kenji duduk disebelahku dan menyambar udang milikku. Takeru duduk didepan Kenji dan mengeluarkan keju yang dia bawa di kantongnya. Sedangkan Ryuu..
“Aku mau ke toilet dulu.”
Ucapnya sambil lalu.

“Yasudah, pergilah. Jangan kembali lagi!”
Kenji dan Takeru tertawa.

“Omong – omong, Vivi-chan. Aku ingin bertanya. Mengapa Bahasa Jepangmu bagus sekali? Dan darimana kau mempelajarinya? Ada yang mengajarimu atau semacamnya?”
Tanya Kenji dengan wajah berseri seri.

“Aku mempelajarinya di sebuah perpustakaan sejak usia ku 8 tahun, Yamada-kun.”
Jawabku.

“Hee? Benarkah?”
Mereka bertanya bersamaan.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
“Dulu sekali Jepang pernah menjajah negara ku. Kakek ku adalah salah satu dari sekian masyarakat Indonesia yang ikut serta melawan Jepang kala itu. Dia mengatakan padaku bahwa Jepang adalah negara berisi orang – orang yang kejam dan menakutkan. Aku agak terkejut dengan itu. Dan mendengar cerita kakekku tentang Jepang membuatku ingin mengenal negara ini. Pelan – pelan aku mempelajari bahasa kalian dan sejarah nya di perpustakaan sekolah. Dan lama – lama aku mengenal dan menguasai bahasa ini.”

Mereka diam dan terlihat bingung dengan ceritaku.

“Apa ada yang salah?”
Tanyaku.

“Bukan. Hanya saja, itu tadi terdengar menarik. Aku terkejut. Kau bisa setenang ini menceritakannya. Pikirku, bukankah pastinya kakekmu bercerita tentang penjajahan Jepang dengan segala detil yang dia ingat? Bahkan dia bilang orang Jepang kejam dan menakutkan. Kalau begitu, kau bisa membayangkan betapa mengerikannya zaman itu. Ya ‘kan?”

“Hmm. Sebenarnya aku sempat berpikir bahwa aku aneh, tapi aku tahu aku tidak bodoh. Mengapa aku bisa menyukai negara yang pernah menghancurkan bangsa ku dan merenggut kebebasannya. Namun itu semua sudah berlalu, buat apa mengingat keburukkan dari masa lalu padahal kita bisa memetik kebaikan dari itu? Lagipula, manusia tidak ada yang sempurna, orang Indonesia tidak ada yang sempurna, orang Jepang tidak ada yang sempurna, maupun Cina, Thailand, Australia, atau negara apapun di dunia. Kita semua memiliki kekurangan masing – masing, namun kita bisa saling melengkapi. Aku yakin, Jepang tidak seburuk itu.”
Aku tersenyum.

Aku bisa lihat mereka tertegun beberapa saat. Lalu pelan – pelan ekspresi mereka kembali normal.

“Ajarkan aku bahasamu, Vivi!”

“Eh? Kau tidak menggunakan ‘Chan‘, Yamada?”
Tanya Takeru.

“Diam, Akagawa. Aku baru saja memintanya mengajariku bahasa nya. Karena itu aku menyingkirkan ‘Chan‘ dari namanya.”
Jawab Kenji serius.

Aku tertawa pelan.
“Dengan senang hati aku akan mengajarimu, Yamada-kun.”

 

akan berlanjut ~

 

 

 

Image source : http://fc04.deviantart.net/fs37/f/2008/241/6/5/Autumn_Tree_by_Angela_T.jpg

Free Linkin Park Song: “Complimentary” by Mike Shinoda for Stagelight

Originally posted on Mike Shinoda's Blog:

With Stagelight now out for Windows, a number of you guys are checking it out. This week, I wanted to do something special for all our early adopters who are helping us spread the word: I made you guys a song.

This session can be downloaded and opened in Stagelight on Windows 7 or 8. It’s not an audio file and doesn’t contain any audio so (for now) only Stagelight users get to hear it.

For those of you who haven’t checked it out yet: Stagelight is a new music-making program designed by Open Labs and me. It’s the result of years of testing on stage and in the studio. With it, anyone at any level can make a great song in as little as a few minutes. It’s powerful and it’s simple, and you can buy it for only $10 HERE.

Again, thank you for being the first…

View original 24 more words

A Guy Without A Name : Accomplishment (part 3)

(Semua percakapan dengannya dilakukan dalam bahasa inggris)

“Yes? What’s up?”
Dengan senyuman lebar di wajahnya, rasanya seperti suatu makhluk yang sangat menakjubkan menyihirku dengan satu kalimat biasa yang dilontarkan dari bibirnya. Ini tidak mungkin seperti ini, apa yang barusan itu?

Kedua mata indahnya menatap langsung kedua bola mataku. Dia berdiri beberapa inci di depanku. Suaranya, sangat lembut dan indah. Bahkan suara terindah di dunia ini tidak akan mampu menandingi suara luar biasa miliknya. Bagaikan petir yang menggetarkan hatiku. Aku terpesona dengan dirinya, wajahnya, suaranya, tatapannya. Apapun yang ada di dirinya.

“Uh… Can I take a picture with you?” Aku terbata-bata.
Dia mengangguk dengan senyuman manis di wajahnya.
“Yes of course you can, tapi pertama izinkan aku pergi kesana dan berfoto bersama mereka, setelah itu aku akan kembali kesini dan berfoto bersama mu. Ok?”
Dia menunjuk ke beberapa pemuda-pemudi di standing area. Menjelaskan dengan sangat sopan akan niatannya untuk berfoto sambil menangkupkan kedua tangannya.
Aku langsung membalas ,”ok” dan tersenyum. Setelah itu dia pun pergi dan menghampiri orang-orang tersebut.

Anes berdiri di belakangku dan bertanya. Dan aku pun menjelaskan semua kata-kata si perkusi itu kepadanya.

“Anes, was that even real?” Aku bertanya kepadanya. Masih merasa seperti sedang bermimpi. Tuhan cepat sekali mengabulkan doa. Hari ini aku berharap untuk bisa berfoto bersama dengannya dan mengetahui nama si perkusi itu, dan Tuhan benar-benar langsung mengabulkan. Tidak lama lagi itu semua pun aku dapatkan.

“Yes tentu itu benar-benar terjadi.” Anes tersenyum.
“Dia sangat ramah..” Balas ku.

Beberapa menit telah berlalu, kami berdua masih berdiri di dekat pintu keluar di samping kiri panggung dan memperhatikan si perkusi yang sedang berfoto bersama pemuda-pemudi tersebut.
Dan dia pun berjalan menghampiri kami.

“Hi, siapa namamu?” Tanyanya kepada ku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum lebar.
“Aku Laricya.” Ucapku sambil berjabat tangan dengannya.
“Senang berkenalan denganmu.”
“Senang berkenalan denganmu juga.” Aku menjawab.

Aku langsung meminta Anes yang masih berdiri di belakangku untuk segera mengambil foto kami berdua. Tanpa membuang kesempatan, aku pun langsung memeluk tubuh si perkusi itu dan tersenyum lebar. Dia pun merangkul pundakku dan tersenyum juga.

Saat memeluknya, aku berpikir. Tuhan sungguh baik, mimpi dan harapan ku yang baru saja tercipta langsung dikabulkan oleh-Nya. Bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Hanya dengan niat dan doa, ini semua bisa tercapai. Satu-satunya perjuangan yang ku lakukan hanyalah saat aku berlari mengejarnya ke standing area. Itu pun kulakukan dengan mudahnya.

“Thank you so much for this!! This is so awesome! Oh my God, thank you so much!!”
Dengan wajah kesenangan, aku berulang kali mengucapkan terimakasih kepadanya. Aku tidak pernah mengira aku akan bertemu dengan pria baik hati ini dan berkesempatan untuk bersalaman, berkenalan, berfoto dan memeluknya! Aku bahkan baru mengetahui ada lelaki seperti dia di bumi ini beberapa jam yang lalu! Itu sangat menakjubkan.

Dengan senyuman dan tawa lembutnya, dia berkata, “no problem no problem. Terimakasih juga.”
Dia tertawa, diikuti oleh kami berdua.

Dan dengan seluruh keberanian yang aku miliki, aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kutanyakan ke musisi manapun.
“Hey, maaf.. Maaf sekali..” Ucapku.
“Yes?” Dia masih tersenyum dan menungguku untuk melanjutkan kalimat ku.
“Well, jika kamu tidak keberatan…”
“Oh tentu aku tidak keberatan!!” Potongnya.

Hey, aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku, namun dia sudah memotongnya seperti itu. Dan dia tidak keberatan katanya?? Baiklah kalau begitu, aku meminta mu untuk menjadi pacarku, how’s that?

“Really?? Kamu tidak keberatan??”
“Ya, aku benar-benar tidak keberatan.” Ucapnya dengan senyuman manis merekah di wajahnya yang putih bersih.

“Uh, sebenarnya, bolehkah aku meminta alamat E-mail mu?”

Aku yakin dia tidak akan memberikannya kepadaku, karena mana mungkin ada seorang musisi terkenal dunia yang mau memberikan kontak pribadinya kepada orang yang baru ditemuinya seperti aku? Namun Tuhan berkata lain. Dia masih memiliki banyak rencana indah untukku.

Dia langsung mengangguk masih tersenyum dan mengambil dompetnya dari saku belakangnya.
“Tentu saja kamu boleh.. Ini..”
Aku menatapnya tidak percaya. Dia menyodorkan sebuah kartu nama berwarna dasar putih dan di setiap sisinya ada warna maroon yang menghias.
“Aku berikan setiap kontakku kepadamu.” Ucapnya.

NO FREAKIN WAY!
THIS IS TOTALLY A DREAM, RIGHT? RIGHT?? RIGHT?????

Aku langsung menerima kartu nama tersebut dari tangan kanannya, dan akhirnya aku melihat sesuatu yang selalu ku harapkan sejak pertama kali melihatnya.

HIS NAME.

Aku masih membaca kartu nama tersebut.

Satu hal yang masih membuatku tercengang. Disitu tertulis juga nomor telepon nya.
Astaga benarkah??

“Oh my God. Thank you so much! Kamu baik sekali!”
Aku berterimakasih dengan nada suara yang terdengar senang, hampir berteriak kepada nya. Anes hanya berdiri tertawa di sebelahku. Dan (finally) João mengangguk dan tersenyum.
“Tidak masalah, tidak masalah.” Ucapnya.
“Kamu mau berfoto bersamaku juga?” Tanyanya kepada Anes.
“Oh, ya tentu saja.” Jawab Anes.

Anes pun mengambil telepon selularnya dan memberikannya kepadaku.

“What’s your name bro?” Tanya João kepada Anes.
“Anes.” Jawabnya. Dan kemudian berjabat tangan dengan si perkusi ramah itu.
“Apa pekerjaanmu?” Tanyanya lagi.
Aku pun memotong percakapan mereka dan menjawab.
“Dia itu Disc Jokey.”
Anes mengangguk, “Ya.”
“Oh… Kamu DJ? Cekit cekit cekit..”
Ucap João sambil memainkan tangan kanannya bagai memutar piringan hitam dan tangan kiri menutupi telinga kirinya, layaknya seorang Dj.
Kami tertawa.

Dan akhirnya aku mendengar kata-kata yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ku dengar.

“Ok then. Senang berkenalan dengan kalian.” Ucap João.
“Terimakasih! Senang berkenalan denganmu juga!” Jawabku.
“No problem!” He said.
Aku menjabat tangannya sekali lagi.

Dia pun melangkah pergi. Dan kami pergi menyusuri pintu keluar untuk mencari ibu ku. Saat sedang berjalan, aku mendengar beberapa gadis belia seusiaku sedang membicarakan si perkusi tampan itu.

“Astaga, akhirnya bisa kudapatkan foto dengan João!”
“Dia tampan sekali ya?!”
“Senang sekali! Dia ramah!”
“Dia manis!”

Dan bla bla bla.

Saat mendengar itu aku berpikir. Apakah dia juga memberikan nomor teleponnya kepada gadis-gadis itu? Ataukah dia hanya memberikannya kepadaku?
Itu sangat membuatku penasaran.
Aku berharap dia memberikannya hanya kepadaku.

“Dia baik sekali ya.” Ucapku membuka percakapan.
“Yes. Sangat. Tahu tidak apa yang membuatku paling terkejut?” Ucap Anes.
“Apa?” Tanyaku keheranan.
“Dia memberimu kartu namanya langsung dari dompetnya! Itu sangat jarang terjadi kan?”
“Wah, benarkah?”
“Yes!! Its pretty rare untuk seorang musisi memberikan kartu nama yang terdapat kontak – kontak pribadinya kepada seseorang yang bahkan tidak dikenal sedikit pun. Biasanya jika ada musisi yang begitu, hal yang paling mungkin adalah mereka meminta asistennya untuk memberikan kartu nama tersebut kepada orang yang meminta. Namun dia berbeda! Dia bisa saja menolak, padahal kamu hanya meminta email, namun dia berikan semua kontaknya.”
“Wah, masuk akal juga kata-kata mu itu. Namun dengan ini kita telah membuktikan bahwa dia itu pria yang baik kan?” Ucapku tertawa.
“Yes. Totally.” Balas Anes.

Kami berdua akhirnya menemukan ibu ku yang sedang duduk dan menikmati sebotol teh dingin. Dia duduk sendirian, tidak dengan kakak laki-lakinya

“Kenapa lama sekali?” Ucap ibuku.
“Maaf mom, tadi itu ada yang penting sekali untuk dikerjakan.” Jawabku tertawa.
“Apa itu?” Tanya ibuku penasaran.

Aku pun mengeluarkan telepon dan membuka isi foto-foto. Dan segera memperlihatkannya kepada ibuku.

“Wah? Itu kan…”
“Si perkusi itu mom!” Ucapku senang. Kemudian aku pun menceritakan semuanya kepada beliau. Beliau hanya tersenyum dan beberapa kali menggodaku karena berhasil mendapatkan foto dan nomor teleponnya.

Kami pun pulang.

Setelah sampai dirumah, aku segera mandi dan mengganti pakaian. Dan sesigap mungkin langsung mengambil telepon genggam ku dan membuat sms baru.

“Hey, terimakasih atas kesempatannya.
Sangat senang bisa mendapat foto dengan mu.
Take care!”

- Laricya”

- sent – message delivered -

Hatiku berdegup kencang. Menunggu sms balasan darinya. Setelah beberapa menit, telepon ku bergetar dan aku langsung membuka inbox.

“Tidak masalah. Sampai bertemu secepatnya. Selamat malam. X”

A Guy Without A Name : coincidence? (Part 2)

12.35 am
My mom went outside saat dia mendapat telepon dari seseorang, yang ternyata adalah kakak laki-lakinya yang juga datang ke acara ini. Jadi ketika itu hanya tersisa aku dan Anes, yang masih duduk tenang di bangku tribun, menyaksikan penampilan dari Incognito.
Dan aku? Tentu saja, masih menatap pada lelaki yang memainkan alat musik perkusi tersebut.

“Anes, please tell me how to get a picture with that guy… Please… Aku juga ingin sekali mengetahui namanya.”
Kataku kepada Anes yang masih sibuk menyaksikan band tersebut.

Dia hanya tertawa, seperti tidak peduli akan apapun yang ku katakan tentang lelaki itu.

I’m watching him, memperhatikan setiap gerakannya, bagaimana dia menabuh drum-drum nya dengan tangan cantiknya, melihat dia di bawah sorotan terang sinar lampu. Dia bagaikan malaikat yang terbang di bawah sinar terik matahari. Totally amazing.

“I think we can go down there. Ikut berbaur di festival area. Mendekat ke panggung itu.” Anes membuyarkan lamunanku.

Quickly I said, “That’s impossible. Kita terpisah dari tribun dan festival, penonton tidak bisa semudah itu berpindah kemanapun mereka mau.”

“Well, if you say so. Aku hanya memberitahu bahwa kita bisa.” Dia mengatakannya lagi.

I ignored his words, aku bahkan tidak mencoba untuk pindah ke standing area itu. Jadi kami masih hanya duduk di bangku tribun ini.

1.45 am
“Thank you Indonesia. You have been amazing!”
Ucapan terimakasih itu dilontarkan oleh salah seorang personil yang terlihat sudah lebih senior dibanding personil lainnya. Personil tersebut agak pendek, warna kulit agak sawo, rambut hitam beruban, memegang gitar dan berdiri sebuah mikrofon di depannya.
Ibu ku telah mengatakan sebelumnya, bahwa dia tahu band ini, Incognito selalu menjadi favorit nya dengan ayah ku. Ayah sangat menyukai band ini. Saat dia masih hidup, ibu dan ayah suka memutar lagu-lagu mereka, dan beberapa lagu yang populer di tahu. 70an. Tidak heran ada beberapa lagu milik Incognito yang terasa familiar di telingaku.
Dan ibuku mengatakan, pria tersebut adalah pemimpin dan pendiri band ini, dan namanya adalah Bluey.

Personil-personil Incognito tersebut mulai berbaris di panggung, memanjang dari sisi kiri ke kanan di depan seluruh penonton. Dan ternyata Bluey sedang akan mengenalkan mereka kepada penonton satu per satu.

“OMG Anes the show is about to finish!!” Aku panik.

“I told you we can go down there!” Dia membalas ucapanku.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita coba turun kesana!”

Saat Anes dan aku sedang mencoba untuk pergi memasuki standing area, Bluey sudah menyebutkan nama si perkusi tersebut. Aku bahkan tidak mendengar apa yang diucapkannya. Satu-satunya kata yang jelas terdengar adalah “Jo….” Namun aku tidak begitu yakin.

Kami akhirnya berhasil masuk ke standing arena, untungnya kami bisa melihat masing-masing personil dari dekat, sekitar 4 meter kurang!
Kami berdiri di sebelah kiri panggung, yang dimana si perkusi tersebut berdiri tepat beberapa meter di depanku. Aku sangat senang bisa melihat diri nya dari dekat.
Harus ku akui, seharusnya aku bertanya ke salah satu penonton akan nama dari si perkusi tersebut. Tapi aku cukup bodoh untuk tetap diam dan tidak mencoba untuk bertanya. Bodohnya.

Dan itulah mereka, meninggalkan panggung satu per satu setelah beberapa kalimat perpisahan di lontarkan oleh Bluey. Aku sempat berharap bahwa si perkusi itu akan menoleh ke arahku dan melontarkan senyum atau mungkin akan menghampiriku dan mengajak berkenalan. Bodoh, tentu itu tidak mungkin kan?
Dia dan kawan-kawannya pun memasuki belakang panggung, hilang sudah harapanku untuk meminta fotonya atau sekedar menanyakan namanya.
Aku putus asa lagi.

“Daaaammmn I wish we were here in the first place!” Aku berteriak ke Anes yang berdiri di sebelah ku. Dia melempar pandangan mengejek. “Sudah kukatakan dari awal kan..” Balasnya.

“Now what??” Aku bertanya.
“Well, not ‘now what?’ dear, we should go home.”

Slowly walked away from the standing area, ada tiga pintu keluar di tempat itu. Satu di bawah tribun tempat kami duduk tadi, satu di sebelah kanan panggung, dan satu nya di sebelah kiri panggung. Aku langsung mengajak Anes untuk keluar lewat sisi kiri.

I really didn’t know what happened.
I didn’t know. Was that a coincidence???
Coincidence or not, God is so kind!

Personil-personil band tersebut keluar lewat jalan kiri yang akan kami lewati, beberapa penggemar langsung menghampiri mereka untuk berfoto bersama dan bersalaman. Aku sangat terkejut.

“OMG ANES ITS THEM!!!” I shouted happily.
“Wow!! Benar! Lets go to them then!” Anes membalas.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan mereka disini. Maksud ku, adakah kebetulan yang sangat hebat seperti ini?? Atau kah ini memang takdir Tuhan??

Aku berjalan menghampiri mereka semua dan mencari si perkusi itu, namun dia tidak terlihat dimanapun. Tidak sedikit pun tanda-tanda akan dirinya.
Anes berfoto bersama beberapa personil, dan menawariku untuk berfoto juga. Dan aku menerima tawaran tersebut. Aku berfoto bersama si vokalis muda, yang sekarang ku ketahui namanya adalah Mo Brandis.

Aku tetap mencari – cari di sekeliling. Tapi masih nihil, dia tidak ada dimanapun.

“Where the hell is that guy??!”
“Maybe he’s still inside. Don’t worry.”
Anes menenangkanku.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sosok itu pun muncul. Dia datang dari balik panggung, saat aku hendak memanggilnya, dia berbalik dan pergi memasuki standing area. I was like,”huh?!”
Astaga, aku tidak akan membiarkannya pergi, tidak akan!
Akhirnya aku lari menghampirinya, aku menepuk pundak belakangnya, dia menoleh dan berkata….

A Guy Without A Name (part 1)

“Free tickets for tonight! Don’t worry, it’ll end about 12 am though, so you’re not gonna late at all!”

Itu yang dikatakan oleh teman kerja ku saat dia memberiku beberapa tiket gratis untuk Festival Jazz yang diadakan di Jakarta, tidak jauh dari tempat kerjaku. Acaranya dimulai pukul 6.30 pm. Jam menunjukkan pukul 5 pm, dan aku masih di kantor. Hebat sekali.

Setelah berpikir sejenak.. I searched for my phone, dialed my friend’s number.

“Yo!”
“Hey Tika, I’ve got free tickets for the Jakarta Jazz Festival tonight at Istora Senayan. Wanna come?”
“Jazz? Wah, kamu tahu aku tidak begitu tertarik dengan Jazz kan?”
“Ya aku tahu, karena aku pun juga sama sepertimu. Namun aku sudah terlanjur dapat beberapa tiket, sayang kalau tidak di gunakan.”
“Memangnya kamu dapat dari mana?”
“Kantor ku yang mensponsori acara ini. Jadi masing-masing karyawan bisa mendapatkannya. Namun tiket untuk besok sabtu dan minggu sudah habis semua. Aku dapat tiket sisa untuk jumat. Yaitu hari ini. Bagaimana, mau tidak?”
“Well, jam berapa acaranya dimulai?”
“6.30 pm.”
“Great! Kita berdua masih di kantor kan?! Apa sempat?”
“Tenang saja, dari pukul 6.30-10 malam acaranya di isi oleh musisi – musisi dan band lokal, kudengar akan ada band dan musisi Jazz internasional yang mengisi acara utama pada jam 11 malam nanti.”
“Oh begitu. Well then, wait for me.”
“Ok. See ya.”

Telepon terputus.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak begitu tertarik dengan musik-musik lembut (kelewat lembut) seperti ini. Well, Jazz memang menarik, lagunya bagus, colourful, indah, dan enak di dengar. Tapi entah mengapa aku tidak begitu menyukai musik-musik terlalu melow yang dapat membuat mata berair karena teringat sesuatu yang menyebalkan. Aku lebih memilih lagu-lagu ceria yang bisa membuatku berjingkrakan seperti lagu dari Band favorit ku, Linkin Park.

Saat temanku memberikan tiket untuk acara ini, sebenernya aku sempat berpikir, “Ah, untuk apa.. Toh aku tidak begitu menyukai musik kelas atas seperti ini. Kalaupun pergi, aku tidak akan mengenal musisi mau pun lagu-lagunya.
Namun akhirnya, berkat sesuatu yang mendorongku dari hati, akhirnya aku pun menerima tiket-tiket tersebut.

7.25 pm
Mom has called me, dia bertanya padaku mengapa aku tidak mengajaknya pergi bersama ke acara ini. Aku mengirimkan pesan singkat kepadanya sebelum ini, mengatakan bahwa aku akan pulang telat. Ketika kuberi tahu alasannya, dia langsung menelepon dan meminta untuk ikut.
Sebenarnya tanpa beliau meminta pun, aku sudah berniat mengajaknya, namun karena lokasi yang jauh dari rumah membuatku mengurungkan niatku tersebut. Tapi akhirnya aku mengatakan “ok” kepada ibu ku.

8.30 pm
Walked around the venue and stages while waiting for my mother. Melihat-lihat dan menyaksikan beberapa band Jazz lokal membawakan lagu-lagu milik Barry Manillow dan beberapa musisi terkenal kesayangan ibu ku dan almarhum ayah. Lagu-lagu yang indah, aku pun ikut bernyanyi, ibu ku sering memutar lagu-lagu Jazz saat sedang dirumah, atau bersenandung sendirian menyanyikan lagu-lagu kenangan bersama ayah dulu. Itulah sebabnya aku hafal beberapa lagu yang dibawakan.

Pertama kalinya bagiku menyaksikan langsung penampilan dari musisi Jazz lokal membuatku berpikir. Kenapa aku selalu meremehkan musisi-musisi berbakat ini? Ternyata mereka bisa ceria dan tidak monoton, mereka bersatu padu dengan musik, penonton dan euphoria nya sangat mengagumkan. I’m amazed.

Mendengar suara dari sang vokalis, drum, piano, saxophone, dan alat-alat lainnya.
Melihat para wanita nya menari-nari di atas panggung bermandikan jutaan warna.
Dan para musisi pria nya yang mengiringi sambil melambaikan tangan-tangan mereka ke kanan dan ke kiri. Dengan senyuman merekah di wajah ceria mereka.
Bagaikan fatamorgana yang berhasil menyihirku untuk melihat diri mereka yang nyata. Inilah yang disebut dengan Jazz. Inilah yang mereka sebut musik. Pemikiranku selama ini salah. Semua yang berhubungan dengan Jazz ternyata begitu mempesona.
Aku terpukau.

Aku menghubungi teman lelaki ku dan memintanya untuk datang. Dia mengiyakan.
Beberapa saat kemudian dia pun datang dengan senyum lebar menghiasi wajah bulatnya, dan mengatakan betapa senang dia bisa datang ke acara ini.

11.45 pm
Tika sudah pulang sekitar setengah jam lalu, karena dia masuk kerja esok pagi. So she couldn’t stay any longer in here to watch the International musicians.
Jadi hanya tersisa aku, ibu dan teman lelakiku, Anes.

Kami memasuki tempat dimana diadakannya acara utama untuk Band Jazz International tersebut, kami mendapat duduk di tribun atas, which was pretty far from the stage. Fortunately ada dua layar besar di sisi kanan dan kiri panggung tersebut, jadi kami terutama ibu ku masih bisa menyaksikan penampilan band tersebut dari kejauhan ini, yang kudengar namanya adalah “Incognito” .

At that night, something has happened.
As the music flows, the rhythm flows, the instrument plays, my eyes caught something.

Itu pertama kalinya bagiku untuk melihat sesosok pria yang sangat indah, menawan, ceria dan energik.

“You see that guy?!” Kataku kepada Ibu dan Anez selagi menunjuk seorang pria yang bermain perkusi di panggung itu.
“What’s with him?” Tanya Anes.
“Just look at him!” I shouted.
“Tampan ya?” Ibu ku merespon.
“Yes! Totally!” Sambung ku.
“Oh, yes right.” Tambah Anes.

I kept looking at the guy that I didn’t even know the name. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti. Kedua mata ku tidak mau melepaskan pandangannya dari sosok tersebut. Seolah ada suatu medan magnet yang terus menarik bola mata ku untuk tetap melihat dirinya.
Dia mengenakan kaos lengan pendek warna putih, celana panjang bahan dengan warna yang sama, sepatu vantovel hitam lancip, dan dia juga mengenakan jam tangan merah lucu di pergelangan tangan kanannya. Rambutnya hitam pendek, dengan janggut lurus di dagu nya. Totally adorable.

Quickly I opened my browser on my phone, mengetik nama “Incognito” di kolom pencarian Google. Hanya untuk mengetahui nama sang perkusi tersebut. Namun hasilnya tidak memuaskan, yang muncul hanyalah nama-nama mantan drummer dan drummer yang sekarang, bukan serta personil-personil yang ku lihat di depan mataku saat ini.

The only thing I really think about that night was, “apakah aku bisa mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya sebentar saja? Atau bisakah aku mendapatkan namanya sebelum acara ini selesai?”

Aku putus asa.

Kendrick Lamar, SKisM, More Good Art At Lazarides

Originally posted on Mike Shinoda's Blog:

Here’s a quick little barrage of stuff I’ve been into lately.  First, a shout out to everyone affected by hurricane Sandy–Music for Relief is partnering with International Medical Corps to support mobile medical units in Haiti and Save the Children to support Child Friendly Spaces in the U.S.  Donate here.

Moving on; I wasn’t going to blog about any of the following things individually, but as they added up, I thought I’d share them with you, in case you missed some or all of them.

 

Thanks to my buddy Tal for sending me this link.  A great clip for all the experts and haters on the internet.  Video / song by SKisM.

 


Kendrick Lamar’s “good kid m.A.A.d city” album just came out, and I’ve got it on repeat.  With that said, this track was just made and released (not on the album), reportedly as a celebration that…

View original 80 more words

Appearance of a Chocolate

“Ishh, coba tuh liat!!”

“Apa?” Tanyaku kepada Michael, teman kampusku yang duduk di kursi penumpang di mobilku.

“Tuh, polisi – polisi mata duitan! Kerjanya nangkepin maling tapi mereka sendiri maling, maling bangsanya sendiri, kok ga malu sih!” Jawab Michael sembari menunjuk ke ujung kanan jalan raya di tengah kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah ini.

Terdapat dua orang polisi yang terlihat berdiri berdampingan dan seperti menginterogasi salah satu pengguna motor yang sedang melintas, ternyata Michael melihat salah satu dari mereka menerima uang kertas berwarna biru yang diselipkan dalam -sepertinya- STNK si pengguna motor tersebut.

“Ohh, itu.. Biru? Lima puluh ribu ya?”

“Iya, malu-maluin kan, Rob??” Tanyanya kesal.

“Ya malu-maluin sih, tapi kenapa jadi lo yang kesel gitu sih, Mike?” Ucapku sambil tertawa pelan.

“Eh, ga usah ngetawain gue, lo liat polisi-polisi di indonesia, semuanya ga ada yang beres, gimana mau hidup nyaman kalo penegak hukumnya aja pada serampangan??” Jawabnya.

Aku menancap gas pelan ketika lampu sudah menunjukkan warna hijaunya, dan mulai berkendara kembali menyusuri jalanan jakarta menuju tempat tujuan kami.

“Semuanya? Bener-bener semuanya tuh?”

“Kurang jelas? semua polisi di indonesia itu ga bener! S-E-M-U-A.” Ucap Mike lagi sambil mengeja dan mempertegas ucapannya.

“Kayanya enggak deh..” Jawabku.

“Enggak dari mana? Hampir semua polisi yang gue temuin itu tukang palak!”

“Nah, tuh lo bilang hampir semua, berarti bukan semuanya dong?”

“Err, iya yaah?”

“Nih, gue kasih tau lo sesuatu.”

“Apaan? Mau nyeramahin gue? Mau nguliahin gue lagi? Ahhhh bosen! Lo itu udah keseringan banget nyeramahin gue Rob, udah kaya pak Umar aja. Dikit-dikit nyeramahin, dikit-dikit ngomentarin tingkah laku gue, dikit-dikit nyegat gue di koridor kelas cuma buat komplain bentuk rambut gue, padahal kan sekolah itu bebas, ga ada aturan rambut mesti gimana buat anak cowok.’Mike, kamu itu harus begini, harus begitu, ga boleh begini, ga boleh begitu, saya ajarin ya, saya kasih tau ya, saya contohin nih.’ Halaaaaah, ampe budeg kuping gue dengerin dia doang.”

Ucap Mike sembari menghela napas dan memainkan iPhone nya. Aku hanya menggeleng melihat tingkah laku Mike yang selalu bertingkah semaunya. Pak Umar adalah guru Sosiologi kami ketika di SMA dulu. Satu-satu nya guru di sekolah yang berani menyeramahi Mike, anak pemilik yayasan.

“Ck, dengerin gue dulu, belum juga selesai udah di potong aja.”

“Abisnya sih, kebiasaan, bosen gue.”

“Lo pernah beli cokelat ngga?”

“Haahh??” Tanya Mike bingung sambil mengangkat alis dan memberikan pandangan idiotnya.

“Pernah engga?” Sambung ku lagi.

“Ya pernah, kan lo yang nemenin gue beli cokelat buat si Anna bulan lalu.. Masa lupa sih, pikun banget.”

“Intinya pernah kan? Seberapa sering?”

“Ya ga sering banget sih, mang kenape?”

“Belinya satuan, batangan, bungkusan isi lima, setengah bentuk?”

“Mana ada cokelat setengah bentuk, tolol banget lu. Idiot.” Jawab Mike sinis.

“Ya intinya pernah deh. Lo inget ga waktu lo gue temenin beli cokelat di toko kue depan studio musik si David di kelapa gading?”

“Cokelat yang ternyata pas dibuka disemutin ya? Inget lah, ga akan bisa lupa.”

“Nah, itu kan isinya ada lima buah tuh, tapi empatnya tetep lo makan karena bersih dari semut kan?”

“Dua doang yang gue makan dodol, satunya kan gue kasih Joe, terus satunya dimakan Chester.”

“Yailah, intinya dimakan empat tapi satu lo makan seperempat karena ternyata ada semut dalemnya.”

“Iyaaa, gila sumpah, gue ga merhatiin isinya, gue langsung gigit ga tau nya yang gue gigit itu rombongan semut. Jijik banget gue.”

“Sukurin. Selebor si lu.”

“Jadi intinya apaan nih lo nanya – nanya begini?” Tanya Mike bingung.

“Dalam satu bungkusan ada lima buah cokelat, tapi ternyata ada satu cokelat yang disemutin, tapi empatnya tetep dimakan. Kenapa coba?”

“Ih, tolol ye, yang ada semutnya kan cuma satu, Rob. Gimana sih.”

“Nah itu, tapi kan cokelat bermasalah ini letaknya barengan sama ke empat cokelat yang lain dalam satu tempat. Kok yakin banget makan sisanya?”

“Kan sebelum dimakan diperiksa dulu ada semutnya apa engga, Rob..”

“Meriksanya gimana? Lo bukain gitu?”

“Gue belah gitu, gue liatin semua sisinya, Chester sama Joe juga ngebantuin kok. Hasilnya negatif, ga ada semut.”

“Halah negatif, gaya banget bahasa lu.”

“Ya pokoknya yang empat BERSIH, no ants.”

“Terus si cokelat bermasalah ini lo buang dong?”

“Iyalaaaah cintaaaa gue buaaang masa iya gue makaaaan. Udah disarangin semut, dasar blo’ooooooon.”

“Iya gausah gitu juga ngomongnya kaliiiii…”

“Terus maksud pertanyaan lo soal si cokelat ini apa?” Tanya Mike lagi.

“Nih, kita buat cerita si cokelat ini sebagai perumpamaan antara polisi dan warga.”

“Hah? Maksud lo?”

“Kelima buah cokelat ini si polisi-polisi, pembeli cokelat ini adalah kita, warga.”

“Yaa terus?”

“Kaya yang lo bilang ke gue tadi, sebelum lo makan, lo cek dulu isinya, ada semut atau ga, bahkan si Chester ama Joe juga ngebantuin. Setelah lo belah and lo liat isinya, ternyata hasilnya negatif, ga ada semut, cokelat – cokelat itu bersih, dan bisa lo makan dengan tenang. Ya kan?”

“Iye, terus?”

“Masih ga ngerti?”

“Kaga.”

“Tolol.”

“Bodo.”

“Mikir dong Mikeeeee hadoooooh!! Lo itu leader genk kita masa blo’on banget siiiih. Ketololan lo itu lebih parah dari pada monyet jawa peliharaan si vanessa tau gak?!”

“Jangan samakan gue sama monyet cewe sialan itu! Ngerti ga lo?!”

“Dasar lo monyet cirebon.” Ucapku sambil menghela nafas dan menenangkan diri.

“Sekali lagi lo nyebut-nyebut nama tu perempuan sinting, gue mutilasi and gue potong-potong lo terus gue jual ke pasar kaget buat jadi makanan onta arab!” Teriak Mike sambil menunjuk – nunjuk jarinya ke mukaku.

“Kaya pernah ke pasar aja lu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu itu gue duduk di mobil sih, ga berani turun. Hehe.” Jawab Mike tertawa lugu.

“Yaudah lanjut.” Sambung ku sambil menghela nafas lagi.

‘Tuhaaaan, beriku kesabaran lebih untuk menghadapi monyet cirebon ini Tuhaaan.’ Ucapku dalam hati.

“Cus lanjut.”

“Tadi sampe mana?”

“Sampe onta arab.”

“Itu elu yang ngomong dodol, tadi pembicaraan gue sampe dimana?”

“Rob, masih muda kok udah pikun sih?” Ucap Mike sambil mengangkat alis dan membentuk huruf S di bibirnya.

“Oh iya, cokelat kan. Cokelatnya dimana tadi yak?” Tanya ku sambil tertawa pelan.

“Sampe dimakan dengan tenang..” Sambung Mike.

“Dan istirahat dalam damai.” Ucapku melanjutkan.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.. Eh, kok begini?” Lagi-lagi Mike memberikan pandangan idiotnya sambil memutar bola mata dan menatap sesuatu yang tidak ada sambil meletakkan telunjuk di keningnya.

“INI NGAPA BEGINI YAK?!”

“Lah yang mulai ngomong ‘istirahat dalam damai’ kan elo, bego!!” Teriak Mike histeris.

“Eh iya maap masbro.” Ucapku sambil memberikan pandangan melas.

“Cus lanjut.”

“Bahasa lu kaya lekong salon, Mike.” Sambung ku geli.

“Lagi belajar cin.” Ucap Mike tertawa.

“Jadi gini, sebelum lo makan tu cokelat, lo periksa dulu sisanya karena lo nemuin satu cokelat yang ‘cacat’ kan?”

“Iya. Terus?”

“Kalo gue yang jadi lo, gue ga akan mau makan sisanya.”

“Loh emang kenapa? Kan cuma satu yang cacat? Sisanya kan bersih.”

“Nah itu, karena dalam satu tempat itu ada satu cokelat yang cacat, makanya sisanya ga akan gue makan karena gue pikir sisanya cacat juga.”

“Kan ga akan tau sebelum di periksa Rob, satu mungkin cacat, bukan berarti sisa kawannya cacat juga, hanya karena mereka ada ditempat yang sama.”

“Lo nyadar ga barusan ngomong apa?”
Ucapku tertawa puas.

“Eh…” Ucap Mike bingung.

“Nah, anggep tu coklat sebagai polisi-polisi disini!!” Aku tertawa lagi.

“Ah, kampret. Bukan cuma buat polisi, tapi semua orang, yang organisasi, satuan, tim nya udah di cap jelek. Itu yang jangan dipikir semuanya pasti buruk gara-gara satu orang kan?”

“Pinter Mike. That’s what I’m talking about.”
Ucapku tersenyum puas.